Qadarullah hari ini saya masih lemah letih lesu. Hidung mampet dan meriang. Tapi agak mendingan dengan yang kemarin. Ini sudah bisa turun kasur.
Pagi-pagi. Saya dengar suara Icha, adik bungsu saya yang masih SMA beradu dengan suara Izz.
"Tante icha minta satu ya. Lapar tante ichanya"
"Tidak boleh" kata si Izz sambil mengipaskan tangannya.
D depan Izz ada beberapa potong kue dan putu. Rupanya si Icha kepengen minta kuenya juga
"Tante icha belum sarapan. Mau ke sekolah. Minta kuenya ya"
"No no"
Tumben juga si Icha minta kue. Biasanya dia cuma minum segelas teh terus berangkat sekolah. Ini malah sampai duduk ngesot ngemis kue depan Izz wakakakak. Nga biasanya juga Izz nga berbagi makanan sama orang lain. Biasanya bahkan orang yang bertamupun kerap dikasinya minuman atau makanan tanpa disuruh.
"Satu saja" si Icha masih mencoba bernegoisasi tp sudah di belakangi sama si Izz. Saya melirik mama seolah minta penjelasan.
Rupanya tadi malam tante ichanya mau nonton konser musik. Terus si Izz sementara nonton national geograpic. Tante icha mindahin chanel, walaupun bentar tapi kayaknya berasa 'sakit' di Izz. Secara si bocah memang suka liatin binatang. Jadi kesimpulan mama, uring-uringan Izz kebawa sampe pagi. Sampai nga mau berbagi kue dengan tante Ichanya. OWAALAAAA...
"Ummi boleh minta 1 kuenya"saya menghampiri
"Boleh mii"jawabnya cepat dan menyodorkan 1 kue. Saya terkikik melihat ekspresi tantenya.
"1 lagi boleh?"
"Nagh" Izz memberi saya 1 potong kue lagi
"Waah terimakasih. Sekarang ummi punya 2 kue. Alhamdulillah..."
"Tapi...kayaknya kuenya kebanyakan ya. Nanti ummi nga bisa habiskan. Ummi kasi ke tante Icha 1 ya"
Izz keliatan memandangi wajah tantenya lalu ke kue yang di tangan saya secara bergantian. Cukup lama sampai dia berkata "iyah"
"Boleh ya?"saya bertanya menyakinkan
"Iya"
Saya mengusap kepalanya dan mencium pipinya. Lalu memberikan kue ke tantenya.
Sebuah pelajaran buat saya. Anak-anak emang bener punya hati selembut kapas. Kita yang membentuk karakternya. Izz belajar dari ketidaknyamanan perlakuan tantenya yang mengusik kesenangannya jadi dia pun ogah memberikan kuenya buat sarapan. Belajar dari pengalaman sepotong kue hari ini untuk lebih menjaga perasaan dan emosi si kecil
#day10
#level8
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanItuDicari
#CerdasFinansial
Mungkin kita adalah sederhana aksara, simpel dan singkat. Tapi kita bisa merangkainya menjadi terpola dan berkisah. Maka ciptakanlah jejak..meski hanya kecil nan mungil...
Sabtu, 30 September 2017
Jumat, 29 September 2017
Buah semangka dan percakapan 'legit"
Siang paling enak ngunyah yang seger-seger. Hari ini saya flu berat..kepala trasa pening plus demam. Mama inisiatif membelikan coto Makassar. Maka berangkatlah mama dan Izz ke terminal pasar menggunakan kendaraan favorit anak shaleh. Bentor!
Ternyata yang di bawa pulang bukan cuma coto makassar tapi sebuah semangka yang ranum, merah nan manis. Saya potong, masukkan sekitar 20 menit di freezer dan dinikmati. Izz ikutan menikmati buah semangka dan percakapan 'legit' itu terjadi.
"Mii...mii beninhnya diambing mi diambil" kata Izz sambil menunjuk biji-biji semangka
"Iya ini sudah sengaja ummi taroh disini" saya menunjuk kantongan plastik putih.
"Mau diapa memang bijinya nak?"iseng saya tanya
"Ditanam"
"Dimana?"
"Di kebun..di lumah..di banjalbaru"
"Ooo oke oke. Nanti kalo berbuah diapakan"
"Dimakanlaaah"
"Kan banyak itu..sisanya?"
"Dijual mii..kita jual di pacang (pasar)"
Ohh WOOWW hahaha mantap juga si bocah ini bisa kepikiran jual hasil panen semangkanya. Bagus..bagusss...jiwa enterpreneurnya mulai ada ternyata
"Buat apa jualan semangka??tanya saya iseng
"Nanti uangnya kita tabung"
"Oohh kalau umpamnya Allah kasi rejeki banyak. Terus hasil jualan semangkanya banyak. Selain izz tabung diapakan lagi?"
"Berbagi Miii"
JLEB!!!!
Anakku..anakuu...Tak sia-sia kami kerap membawamu pesiar ketik berbagi sebungkus nasi di Jum'at pagi. Rupanya pelan konsep berbagi menyusup ke kepalamu. Rupanya pelan konsep sebab akibat mulai tertata di benakmu.
Izz biasanya ketika saya ajak bicara. Dan saya sodorkan dengan pertanyaan menguji. Maka akan ada ujungnya dia menjawab asal ketika nalarnya sampai ke titik buntu mau jawab apalagi. Tapi siang ini percakapan kami terasa legit. Saya yang membisu..terkunci dengan jawaban akhirnya.
Barakallah nak. Semoga kami selalu bisa memberi dan mengajarkanmu hal positif. Aamiin
#day9
#level8
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP
#cerdasfinansial
Ternyata yang di bawa pulang bukan cuma coto makassar tapi sebuah semangka yang ranum, merah nan manis. Saya potong, masukkan sekitar 20 menit di freezer dan dinikmati. Izz ikutan menikmati buah semangka dan percakapan 'legit' itu terjadi.
"Mii...mii beninhnya diambing mi diambil" kata Izz sambil menunjuk biji-biji semangka
"Iya ini sudah sengaja ummi taroh disini" saya menunjuk kantongan plastik putih.
"Mau diapa memang bijinya nak?"iseng saya tanya
"Ditanam"
"Dimana?"
"Di kebun..di lumah..di banjalbaru"
"Ooo oke oke. Nanti kalo berbuah diapakan"
"Dimakanlaaah"
"Kan banyak itu..sisanya?"
"Dijual mii..kita jual di pacang (pasar)"
Ohh WOOWW hahaha mantap juga si bocah ini bisa kepikiran jual hasil panen semangkanya. Bagus..bagusss...jiwa enterpreneurnya mulai ada ternyata
"Buat apa jualan semangka??tanya saya iseng
"Nanti uangnya kita tabung"
"Oohh kalau umpamnya Allah kasi rejeki banyak. Terus hasil jualan semangkanya banyak. Selain izz tabung diapakan lagi?"
"Berbagi Miii"
JLEB!!!!
Anakku..anakuu...Tak sia-sia kami kerap membawamu pesiar ketik berbagi sebungkus nasi di Jum'at pagi. Rupanya pelan konsep berbagi menyusup ke kepalamu. Rupanya pelan konsep sebab akibat mulai tertata di benakmu.
Izz biasanya ketika saya ajak bicara. Dan saya sodorkan dengan pertanyaan menguji. Maka akan ada ujungnya dia menjawab asal ketika nalarnya sampai ke titik buntu mau jawab apalagi. Tapi siang ini percakapan kami terasa legit. Saya yang membisu..terkunci dengan jawaban akhirnya.
Barakallah nak. Semoga kami selalu bisa memberi dan mengajarkanmu hal positif. Aamiin
#day9
#level8
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP
#cerdasfinansial
Kamis, 28 September 2017
Edisi cukur rambut
Izz tipekal anak berambut lebat dan cepar skali gondrongnya. Hari ini si nenek berniat mengantarnya ke salon untuk potong rambut. Beberapa hari yang lalu saya sudah mengantongi ijin abinya buat di potong. Sebenarnya kalau saya pribadi malah suka Izz kegondrong-gondrongan hehehe. Tapi buat nenek nga elok dipandang. Maka jadilah sore ini mereka ke tukang cukur. Dan berhubung karna saya flu berat sayapun nda ikut serta.
Cerita ini saya sadur dari cerita nenek ketika sampai di rumah. Katanya ketika mereka sudah sampai di tukang cukur. Rupanya sedang antri. Dan izz dapar giliran ketiga. Tak gampang membujuknya duduk berlama di kursi ketika pemandangan di luar hilir mudik sang kendaraan kesayangan, bentor (becak motor). Hingga klimaksnya..tiba-tiba dia berteriak seperti kebakaran jenggot
"Mana bentong ing..kenapa nda di jemput ingnya..manaaa huhuhuh"
Si nenek dengan sigap membujuk meskipun kewalahan dan akhirnya tiba giliran dia dicukur.
Nagh moment ini menjadi moment mendebarkan buat si tukang cukur. Sudah 4 kali kami membawa Izz cukur rambut di situ. 4 kali pula Izz bikin keringatan si tukang cukurnya. Nga mau dia di potong rambutnya. Nantilah pada saat kami cukur si Izz di banjarbaru. Kali pertama dia nga nangis. Maka berbekal pengalaman itu, neneknya mau bawa Izz cukuran seorang diri.
"Wah kapan datang?"sapa tukang cukur. Sudah hapal dia wajah Izz hehehe
"Sudah besar yaaa" lanjutnya
"Iya tawwa sudah besar..rambutnya juga jadi panjang..makanya mau di potong ya nak ya" timpal si nenek sambil mendudukan Izz di depan cermin. Yang bersangkutan diam ala es batu aje.
"Nanti habis cukuran kita naik bentor kan...sudah menunggu om bentornya" si nenek terus membujuk
"Di banjarbaru katanya pintar kan Izznya potong rambut. Nda pake gunting..pake alat khusus kan...
"Iya..geli tapi bangung (bagus)" akhirnya si bocah menimpali. Dan di balas puluhan kata dari si nenek berkolaborasi dengan tukang cukur. Hingga tidak di rasa ritual cukurannya selesai. Alhamdulillah
Mereka akhirnya pulang dengan senang gembira menggunakan bentor.
Sampai di rumah. Tak perlu bertanya ke neneknya. Si anak sholeh sudah mendahului bercerita pengalamannya. Saya cek ricek dari cerita nenek. Dan ternyata PR saya masih sama. Mengedukasi perihal menunggu dan bersyukur. Ketika antri membayar makanan di kasir Izz bisa sabar. Tapi untuk antrian lain sepertinya belum bisa kompromi. Ditambah lagi dengan godaan bentor, jadi pengennya cepet-cepet.
"Nak..Allah suka lho sama anak yang sabar. Mau antri..mau nunggu..tidak rewel. Buktinya Izz langsung di jempu sama amang bentor kan tadi pas selesai di cukur"
"Iya"
"Nagh..lain kali lebih sabar lagi ya. Supaya amang bentornya juga senang ada penumpangnya yang anak baik" wkwkwkwk rada nga nyambung. Tapi percakapan kali ini setidaknya smoga sampai di jangkauannya
#day8
#level8
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP
#cerdasfinansial
Cerita ini saya sadur dari cerita nenek ketika sampai di rumah. Katanya ketika mereka sudah sampai di tukang cukur. Rupanya sedang antri. Dan izz dapar giliran ketiga. Tak gampang membujuknya duduk berlama di kursi ketika pemandangan di luar hilir mudik sang kendaraan kesayangan, bentor (becak motor). Hingga klimaksnya..tiba-tiba dia berteriak seperti kebakaran jenggot
"Mana bentong ing..kenapa nda di jemput ingnya..manaaa huhuhuh"
Si nenek dengan sigap membujuk meskipun kewalahan dan akhirnya tiba giliran dia dicukur.
Nagh moment ini menjadi moment mendebarkan buat si tukang cukur. Sudah 4 kali kami membawa Izz cukur rambut di situ. 4 kali pula Izz bikin keringatan si tukang cukurnya. Nga mau dia di potong rambutnya. Nantilah pada saat kami cukur si Izz di banjarbaru. Kali pertama dia nga nangis. Maka berbekal pengalaman itu, neneknya mau bawa Izz cukuran seorang diri.
"Wah kapan datang?"sapa tukang cukur. Sudah hapal dia wajah Izz hehehe
"Sudah besar yaaa" lanjutnya
"Iya tawwa sudah besar..rambutnya juga jadi panjang..makanya mau di potong ya nak ya" timpal si nenek sambil mendudukan Izz di depan cermin. Yang bersangkutan diam ala es batu aje.
"Nanti habis cukuran kita naik bentor kan...sudah menunggu om bentornya" si nenek terus membujuk
"Di banjarbaru katanya pintar kan Izznya potong rambut. Nda pake gunting..pake alat khusus kan...
"Iya..geli tapi bangung (bagus)" akhirnya si bocah menimpali. Dan di balas puluhan kata dari si nenek berkolaborasi dengan tukang cukur. Hingga tidak di rasa ritual cukurannya selesai. Alhamdulillah
Mereka akhirnya pulang dengan senang gembira menggunakan bentor.
Sampai di rumah. Tak perlu bertanya ke neneknya. Si anak sholeh sudah mendahului bercerita pengalamannya. Saya cek ricek dari cerita nenek. Dan ternyata PR saya masih sama. Mengedukasi perihal menunggu dan bersyukur. Ketika antri membayar makanan di kasir Izz bisa sabar. Tapi untuk antrian lain sepertinya belum bisa kompromi. Ditambah lagi dengan godaan bentor, jadi pengennya cepet-cepet.
"Nak..Allah suka lho sama anak yang sabar. Mau antri..mau nunggu..tidak rewel. Buktinya Izz langsung di jempu sama amang bentor kan tadi pas selesai di cukur"
"Iya"
"Nagh..lain kali lebih sabar lagi ya. Supaya amang bentornya juga senang ada penumpangnya yang anak baik" wkwkwkwk rada nga nyambung. Tapi percakapan kali ini setidaknya smoga sampai di jangkauannya
#day8
#level8
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP
#cerdasfinansial
Rabu, 27 September 2017
Pasar Rabu
Yeaay hri ini pasar rabu. Dan izz saya ajak ke pasar bareng si nenek. Saya sendiri suka ke pasar di kampung halaman karna jajanan khas daerah akan digelar semerbak di sana. Saya sudah niatan mau makan barobbo. Makanan khas dari jagung yang dimasak di campur aneka macam sayuran khas Enrekang. Si Izz sendiri moment ke pasar menjadi hal yang menyenangkan karna itu berarti dia bisa naik bentor pergi dan pulang hehehe.
Sampai di pasar. Saya membeli kue baje (jewawut yang dimasak bersama gula merah hingga terbntuk menjadi adonan dan dibungkus dengan daun jagung kering). Andalan saya nih..cuma ada di Enrekang. Sambil nunggu si ibunya bungkusin. Si Izz rupanya kepengen beli puding gula merah. Pake acara setengah merengek
"Mau yang ini mii..mau yang ini"katanya
"Iyah sabar..satu-satu ya"
Karna kurang sabaran. Rupanya si bocah berusaha menggapai sendiri pudingnya. Yap berhasil diambil satu lalu di makannya. Owaalaaaag. Neneknya lalu menanyakan harga dan mengambil dua lagi untuk si anak shaleh. Saya langsung membayar totalnya..dengan hati campur aduk.
Nenek mengajak kami masuk warung barobbo. Sekalian biar si Izz bisa menikmati pudingnya sambil duduk. Kesempatan saya buat mengedukasi.
"Nak..kalau makanannya belum di bayar. Bagusnya jangan di makan dlu. Biar ibu penjual yang ambilkan"
Nga ada respon..si bocah asik dengan pudingnya
"Untung tadi kuenya nda jatuh. Kan tempatnya tinggi...
Si bocah memperhatikan saya tak berkedip
Lain kali kalau Izz beli sesuatu. Sabar dulu ya..tunggu ibunya aja yang ngasih. Gimana..enak pudingnya??
"Enak mii"
"Padahal hampir jatuh tadi itu nak pudingnya pas Izz mau ambil. Kan Izz belum sampai tangannya"
"Cudah sampai mii..cudaah"
"Tapi susah kan tadi ambilnya?"
"Iya"
"Nagh lain kali harus sabar ya"
"Antlii mii kan?"
"Iyah AN...TRII.."
Huhft sampai pada kesimpulan sendiri akhirnya.
Benar pasar adalah tempat untuk belajar banyak hal. Termasuk mengajarkan kehidupan sosial kepada anak-anak. Karena di pasar kita bisa menyaksikan profesi penjual ikan,sayur dll. Bahkan tak jarang di kampung saya...para penjual mengikut sertakan anak-anak dibawah umur untuk ikut berjualan. Anak TK SD sudah bisa melayani pembeli dengan baik. Membersihkan meja bekas makanan ataupu. Mencuci piring bekas pelanggan. Ada tukang bentor, kuli barang, pengemis dll. Dan kesempatan saya pula mengajarkan bahewa ada banyak orang yang tak seberuntung Izz. Meskipun usianya belum 3 thn. Tapi anak-anak ketika diperlihatkan hal nyata lebih cepat nyerapnya. Semoga dengan begitu kelak tumbuh jadi anak yang pandai bersyukur
#day7
#level8
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP
#cerdasfinansial
Sampai di pasar. Saya membeli kue baje (jewawut yang dimasak bersama gula merah hingga terbntuk menjadi adonan dan dibungkus dengan daun jagung kering). Andalan saya nih..cuma ada di Enrekang. Sambil nunggu si ibunya bungkusin. Si Izz rupanya kepengen beli puding gula merah. Pake acara setengah merengek
"Mau yang ini mii..mau yang ini"katanya
"Iyah sabar..satu-satu ya"
Karna kurang sabaran. Rupanya si bocah berusaha menggapai sendiri pudingnya. Yap berhasil diambil satu lalu di makannya. Owaalaaaag. Neneknya lalu menanyakan harga dan mengambil dua lagi untuk si anak shaleh. Saya langsung membayar totalnya..dengan hati campur aduk.
Nenek mengajak kami masuk warung barobbo. Sekalian biar si Izz bisa menikmati pudingnya sambil duduk. Kesempatan saya buat mengedukasi.
"Nak..kalau makanannya belum di bayar. Bagusnya jangan di makan dlu. Biar ibu penjual yang ambilkan"
Nga ada respon..si bocah asik dengan pudingnya
"Untung tadi kuenya nda jatuh. Kan tempatnya tinggi...
Si bocah memperhatikan saya tak berkedip
Lain kali kalau Izz beli sesuatu. Sabar dulu ya..tunggu ibunya aja yang ngasih. Gimana..enak pudingnya??
"Enak mii"
"Padahal hampir jatuh tadi itu nak pudingnya pas Izz mau ambil. Kan Izz belum sampai tangannya"
"Cudah sampai mii..cudaah"
"Tapi susah kan tadi ambilnya?"
"Iya"
"Nagh lain kali harus sabar ya"
"Antlii mii kan?"
"Iyah AN...TRII.."
Huhft sampai pada kesimpulan sendiri akhirnya.
Benar pasar adalah tempat untuk belajar banyak hal. Termasuk mengajarkan kehidupan sosial kepada anak-anak. Karena di pasar kita bisa menyaksikan profesi penjual ikan,sayur dll. Bahkan tak jarang di kampung saya...para penjual mengikut sertakan anak-anak dibawah umur untuk ikut berjualan. Anak TK SD sudah bisa melayani pembeli dengan baik. Membersihkan meja bekas makanan ataupu. Mencuci piring bekas pelanggan. Ada tukang bentor, kuli barang, pengemis dll. Dan kesempatan saya pula mengajarkan bahewa ada banyak orang yang tak seberuntung Izz. Meskipun usianya belum 3 thn. Tapi anak-anak ketika diperlihatkan hal nyata lebih cepat nyerapnya. Semoga dengan begitu kelak tumbuh jadi anak yang pandai bersyukur
#day7
#level8
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP
#cerdasfinansial
Langganan:
Postingan (Atom)