Tampilkan postingan dengan label My Sketsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Sketsa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2015

010215


Assalamu’alaikum Izz, Anak Salehku. Ketika kamu membaca tulisan Ummi ini tentunya kamu sudah besar nak, sudah bisa membaca. Ummi akan bercerita tentang bagaimana kamu terlahir ke dunia ini. Dan betapa bahagianya Ummi dan Abi kala itu. Slamat membaca Nak^^

Memasuki minggu 36 kehamilan, ummi semakin merasa was-was, plus stress juga. Mungkin karena ini adalah anak pertama kali ya…Minggu 37 ummi memeriksakan kandunganku di bidan, menurut ibu bidan kepala si dede belum masuk ke pintu panggul, masih melayang. Ummi disarankan untuk naik turun tangga dan jalan-jalan pagi. Memang sih ummi jarang jalan-jalan pagi, malas. Tapi aktivitasku selalu menuntut ummi untuk mobile, bahkan kehamilan 36 minggu kemarin ummi masih wara wiri Enrekang Makassar. Ibu bidan menafsirkan BBJku 3,2 kg di pemeriksaan minggu ke 37, ummi menelpon teman-temanku yang berprofesi sebagai bidan rata-rata mereka menebak nanti ummi lahirannya SC karena bayiku berpotensi punya ukuran besar. Menyesal ummi menelpon mereka, malah memperbanyak stressorku L.  Ya Rabb ummi pengen lahiran normal. 

Kebetulan ummi janjian dengan dokter kandunganku, dokter Amel untuk kontrol di minggu 38. Sebenarnya keluarga dan suami sudah tidak mengijinkan. Jarak tempuh Enrekang ke Makassar 6-7 jam perjalanan.  Ummi tambah galau, bagaimana nanti kalau perkiraan para bidan itu benar, ummi akan di SC. Sementara dokter di Rumah sakit Enrekang ini dokternya laki-laki, dan ummi sama sekali tidak siap dengan hal itu, aku lebih memilih dan sangat ingin melahirkan normal di tangan ibu bidan yang memang sudah kukenal. Walaupun memang dokter Amel, dokter kandunganku di Makassar pun sangat baik dan kooperatif. Aku merasa hubungan terapeutik sangat mendukung kelancaran persalinan.  Ummi bujuk-bujuk akhirnya mereka luluh juga dengan syarat ummi ditemani Bapak.

Bidan Ijok, itu nama bidanku pun memberi lampu hijau asal ada yang temani dan selalu bawa baju baby kemana-mana. Dan direncanakanlah ummi berangkat tanggal 31 januari karena tanggal 2 Februari adalah jadwal konsul dengan dosen pembimbing tesisku dan kontrol ke dokter Amel. Tapi tanggal 30 Januari ummi berubah pikiran, ummi membujuk Ibu untuk ikut menemaniku ke Makassar, takut ada apa-apa di perjalanan, ummi meminta Ibu ijin dari kantor dan ibu menyanggupi. Tapi siapa sangka rencana itu tinggal rencana. Semuanya tak berjalan sesuai format yang direncanakan.
Waktu itu Sabtu subuh tanggal 31 Januari, usia kehamilan 38 minggu 2 hari.  Ummi bangun untuk shalat subuh dan bercak darah kecoklatan itu mulai ada. Ummi merasa was-was dan curhat ke Abi, “Bagaimana ini Abi, tidak sakit tapi ada bercak darah kecoklatan?”. Akhirnya kami memutuskan menunggu sampe ada rasa nyeri muncul baru Abi pulang. Suamiku berkantor di Banjarmasin, sementara cutinya adalah tanggal 10 Februari karena tanggal perkiraan partusku adalah 18 Februari. 

Pukul 11.00 pagi, bercak darah kecoklatan mulai berwarna merah terang tapi belum berasa nyeri sama sekali. Tapi akhirnya Abi memutuskan untuk pulang. Booking  tiket jam 16.00.  Ummi kemudian SMS Ibu yang masih di kantor.  Setelah terlibat percakapan panjang kali lebar, akhirnya Ibu menyimpulkan saya kecapean. Pagi tadi ummi memang turun tangga sampe 10 kali. Pukul 14.00 bercak darah mulai banyak, pukul 15.00 Ibu diam-diam ke ibu bidan memberitahukan keadaanku, ibu bidan menelponku dan kuceritakan kronologisnya. Kesimpulannya sama seperti ibu, mungkin ummi kecapean.

Pukul 17.00, teman-teman SMA Ummi datang bertamu sekalian membawakan kain seragamku, kebetulan awal bulan depan ada sahabat kami yang akan melangsungkan pesta pernikahan. Waktu itu ummi sempat curhat ke mereka, karena salah satu dari mereka sudah punya anak. Ummi bahkan sempat dicontohkan cara mengejan yang baik versi dia ^_^.

Pukul 20.00, perutku tiba-tiba mules seperti mau datang bulan. Tapi ummi masih bisa nonton TV bareng Ibu. Pukul 20.30, mulesnya mulai berasa mengentak-entak tapi masih bisa kutahan dengan menyibukkan diri menelpon Abi. Pukul 21.00 bukan mules lagi tapi berasa Braxton hiss, nyeri. Pukul 22.00, sakitnya tambah nyeri, Abi menelpon dan memberitahu dia sudah start dari Makassar. Ummi mulai mencatat jedah antara sakitnya. Hasilnya hampir teratur 10-12 menit. Ibu menelpon ibu bidan lagi. Pukul 23.00 ummi mulai merefleksikan pikiranku dengan yang indah-indah, sakitnya makin menjadi-jadi, tidak kuhiraukan lagi dering telpon suamiku tapi anehnya ummi masih sempat chating di FB lewat hp, seolah-olah ummi tidak kesakitan. Pukul 00.15 ummi menyudahi menghitung jedah nyerinya, ummi sibuk menopang perutku yang berasa sakit.  Berkali-kali ibu menganjurkan untuk tidur karena katanya ummi butuh tenaga untuk mengejan nantinya, ummi diam saja. Tahukah engkau Ibu, hasratku untuk tidur tinggi sekali tapi sakit ini membuat mataku tidak bisa terpejamkan.

Pukul  03.20 kudengar suara Abi di ruang tamu berbicara dengan Ibu dan Bapak, sejenak hatiku terasa damai, Suamiku sudah datang. Pukul 04.00 Abi masuk kamar dan mengelus pundakku, mengecup dede dan memelukku dari belakang. Abi sudah datang sayang, begitu bisiknya. Airmata ummi langsung menganak sungai. Kugengam erat tangannya sambil menahan sakit, ummi berbisik lirih, “Sakit…..”. Abi mengusap kepala ummi dan melafalkan doa-doa.

Ahad 1 Februari, pukul 05.00, setelah menunaikan shalat subuh, Abi mengaji sambil mengelus perutku. Agak berasa lebih nyaman tapi masih tetap sakit. Pukul 06.10. ummi keluar kamar dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu, Abi mengikutiku berjalan dan memegangiku disamping mirip seperti asisten pribadi,  aku berhenti lalu meremas kedua tangan abi ketika hissnya datang. Ibu dan Bapak mengawasi dari jauh. Pukul 07.20 Ibu bidan menelponku, aku berbicara diantara jedah hiss dengan nada sebiasa mungkin. Ibu bidan memintaku untuk ke puskesmas. Abi buru-buru mandi, kemudian membantuku mempersiapkan diri, Ibu menyiapkan segala sesuatunya yang mungkin akan diperlukan disana. Abi sungkem minta maaf kepada Ibu dan Bapak, sementara aku hanya bisa menciumi tangan mereka lalu memeluk satu-satu sambil minta maaf dan mohon doanya untuk kelancaran persalinan. Ummi sudah tidak kuat untuk berjongkok dan sungkem lagi. "Bapak..Ibu maafkan dan ampuni dosa-dosaku"

Pukul 09.00,  bidan Ijok, 2 bidan asistennya dan beberapa orang mahasiswa sudah menungguku, Pukul 09.05 aku berbaring di ranjang bersalin untuk di VT (pemeriksaan untuk menilai persalinanku sudah masuk pembukaan berapa) untuk pertama kalinya, Jam dinding persis berada di hadapanku. Ruang persalinan bersih lengkap dengan kamar mandinya, ini salah satu alasanku memilih puskesmas karena kalau melahirkan di rumah sakit maka ibu-ibu yang akan melahirkan dijejer disitu. Dulu pengalaman kakak sulungku melahirkan di salah satu rumah sakit pemerintah di Makassar, berbanjar rapi seperti bangsal, teriakan para ibu membahana silih berganti. Kakakku ketika itu adalah orang yang pertama kali masuk ke kamar bersalin dan diapun yang paling akhir keluar dari kamar bersalin. Ketika samping tempat tidurnya berhasil melahirkan, kakak hanya memandangi dengan cemas. Jelas stresornya semakin meningkat.

Bidan Ijok lalu memperkenalkanku dengan bidan asistennya dan mahasiswa dan meminta kalau yang memimpin persalinan nanti dia sendiri, jadi mahasiswa tidak usah mengambil alih. Aku sedikit lega dan berterimakasih kepada ibu bidan. Bidan Ijo lalu melakukan pemeriksaan dalam. Ternyata VT itu benar-benar tidak nyaman dan sakit. Aku bayangkan mereka yang melahirkan dengan berapa kali pemeriksaan VT. Hasilnya aku masih pembukaan 1. Kudengar ibu bidan berbisik ke Ibu untuk tenang. “masih lama Bu, bisa jadi besok, tenangkanmiki dirita dulu, ke pasar miki dulu”. Aku mulai cemas sendiri, Ya Ampun masih lama, sakitnya sudah berasa maksimal, ditambah semalaman aku tidak tidur. 

Pukul 10.00, bidan Ilmi yang super duper sabar nan ayu hendak melakukan pemeriksaan dalam untuk kedua kalinya. Aku menolak mentah-mentah, tidak bicara hanya lewat lambaian tangan menolak. Sejak VT pertama aku seperti trauma menaiki ranjang bersalin. Aku terus mondar-mandir di dalam kamar bersalin dan skali-skali menyebrang ke ruang administrasi. Abi masih tetap berjalan seperti asistenku, tapi kali ini makin parah karena ketika hissnya datang aku tidak lagi meremas tangannya tapi mencakar tangannya. Dua orang mahasiswa ikut berjalan di belakangku bergantian mengepel bercak darah yang mengalir di kakiku. Pintu depan sengaja dikunci sesuai permintaanku ke bidan Ijok karena kondisiku saat itu tengah tak berhijab. Pukul 10.20, sakitnya makin menjadi-jadi, jedahnya sekarang 2menitan. Ibu sudah pulang dari pasar. Ibu dan Bapak duduk di ruangan administrasi, ibu berkali-kali menyodorkan aku nasi tapi tak kusentuh, kutolak dengan isyarat, aku akhirnya baru makan sedikit setelah diberikan barobbo. Ibu lalu memberiku madu. Pukul 10.40, aku mulai doyan ke kamar mandi. Bidan Ilmi menyuruh salah satu mahasiswa berjaga-jaga di depan kamar mandi. Pukul 10.50, aku mulai bersuara pelan dan bergumam sakit di depan Abi, Abi memandangiku iba dan mengelus kepalaku. Pukul 11.05 aku meminta Abi untuk memberitahukan bidan Ilmi aku mau di SC saja, sakitnya sudah tidak tertahankan lagi.

Bidan Ilmi datang dan memintaku di VT dulu tapi kutolak lagi. Bidan Ilmi lalu memberiku segelas air putih sambil terus memberiku semangat. pukul 11.10, jam dinding di kamar bersalin terasa berjalan lambat. Ibu dan Bapak mulai kasak kusuk masuk ke kamar bersalin menanyakan ini itu tapi kubalas dengan diam. Terlalu sakit untuk berbicara. Aku masih mempertahankan teknik refleksi pikiranku, sesekali mengelus perut dan bergumam, nak kapan kamu mau keluar sayang?. 11.15, abi makin sering melafalkan doa-doa kemudahan persalinan, sesekali aku mengikutinya. 11.20 Bidan Ilmi masuk lagi dan menawarkan untuk di VT dan kutolak lagi, maafkan aku bidan Ilmi. Pukul 11.25 emosiku mulai mengintip, aku menyuruh abi untuk memijat pundak, setelah itu pindah lagi ke punggung, setelah itu mulai marah-marah tidak karuan, cakaranku mulai tak terkontrol. 11.30, aku makin frustasi kenapa si dede belum mau keluar, berasa ada benda besar yang mau keluar tapi tertahan. Air mataku mulai menetes, Abi pun makin sering berbicara dengan dede. Aku berusaha memikirkan yang indah-indah, bagaimana nanti kalo anakku lahir dan mulai bisa bicara, belajar jalan dan seterusnya, agak sedikit berhasil.

Pukul 11.45 aku masih berjalan  mengitari kamar bersalin, terlalu sakit untuk berbaring di ranjang persalinan. Dua orang mahasiswa mengikuti kami dan membersihkan rembesan darahku di lantai. Betapa baiknya mereka. 11.50, ada semacam dorongan besar, kuat mengentak dari dalam. Tiba-tiba aku muntah, keringatku bercucuran. Aku memberi kode ke Abi untuk memanggil bidan. Segera bidan Ilmi memasang handscon. dan betapa kagetnya dia ketika mengetahui pembukaannya lengkap. Subhanallah sudah lengkap, aku tidak mendengar perkembangan pembukaannya tiba-tiba sudah lengkap (ya iyalahhh dirimu kagak mau di VT sih neng). “Rambutnya sudah keliatan…telpon bidan Ijok, siapkan pakaian baby, celemek bla..bla..”. Bidan Ilmi memberikan istruksi.  Aku sempat tersenyum melihat tingkat para bidan mondar mandir di hadapanku.

Kebetulan bidan Ijo baru pulang dari pasar dan baru sampai di rumahnya. Ibu menelpon Bapak yang kebetulan pulang ke rumah saat itu untuk menjemput ibu bidan di rumahnya, hp Bapak silent, ibu bergegas berlari ke rumah. Bidan Ilmi meminta Abi menyiapkan pakaian baby, Abi sibuk memperbaiki posisiku, aku sudah tidak kuat menggeser tubuhku lagi, aku mulai berkonsentrasi pada teknik nafas dalam, bidan yang lain membantu membongkar tas perlengkapan. Bidan Ilmi mengintip jendela kamar bersalin lalu berseru memanggil dokter bumi (dokter laki-laki) untuk membantu persalinan. Aku sempat berteriak, “tidak usah…tidak usah…ibu bidan saja yang pimpin persalinan”. Abi juga masih sempat memenuhi permintaanku dan meminta dokter bumi yang sudah siap masuk ke kamar bersalin untuk tidak usah membantu. Hehehe maafkan aku dok. 

Entah darimana, tiba-tiba bidan Ijok sudah menerobos masuk kamar bersalin. Bidan Ilmi segera bertindak sebagai asistennya, Abi dan dua orang mahasiswa menyokongku. Abi masih komat kamit berdoa dan aku mengaminkan. Ya Allah…Ya Rabb…Tuhan pemilik semesta, hari itu, jam itu aku menyerahkan urusan ini padaMu, nyawaku…hidupku…takdirku…sudah tertulis indah dalam diary ciptaanMu. Pukul 12.05, Bidan Ijok mulai memberi instruksi padaku tentang posisi dan step-step yang akan dilakukan.
Aku memejamkan mata dan mulai mengejan. Kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan,  UFFFHHHH…..1x. “Bagus” puji bidan Ijo.
 HUFHHHHH….2x. “Iya….., lagi Tuti”
Aku membuka mata, HUUUUUFFFHHH…3x dan langsung diikuti oleh tangisan dede.
“Laki-laki” seru bidan Ijok. Secepat kilat Dede langsung ditaruh di dadaku untuk IMD. Kupandangi wajah malaikat kecilku, anakku, putraku. “Assalamu’alaikum sayang”. Abi lalu mengazani. Bidan Ijok tersenyum padaku “Mantap..anak kedua Insha Allah lebih mantap lagi” ujarnya dan disambut gelak tawa bidan Ilmi. Semuanya berjalan cepat, alhasil pakaian pertamamu tidak sepasang nak, dan saat itu harusnya kamu tengah memakai topi baby tapi celana kacamata yang bertengger imut di kepalamu. Pukul 12.10 kamu lahir nak, bertepatan dengan azan Dzuhur di mesjid. 

Alhamdulillah…Alhamdulillah…Trimakasih atas karuniaMu Ya Rabb

Dua menit berikutnya plasentanya pun keluar. Bapak dan Ibu berhamburan masuk dan melihat kondisiku. Ibu menanyakan apakah plasentanya sudah keluar? Dan Bapak menanyakan jenis kelamin bayinya (Bapak memang tidak diberitahu hasil USG kehamilanku).
Bidan Ijo kemudian memanggil Abi untuk berdiri tepat di sampingnya ibu bidan. 
“Apa lagi ibu bidan?”tanyaku bego. 
“Dijahit dulu ya” katanya.
“Sakit itu??”tanyaku lebih bego lagi. Dari cerita orang-orang katanya dijahit pasca melahirkan itu lebih sakit ketimbang mengejannya 
“Pelan-pelan ibu bidan….”aku memasang muka nano-nano, takut,cemas, menolak tapi mau tidak mau harus terima etc. membingungkan!!
Bidan Ijok sempat menggodaku. Dengan mencubit pahaku dan spontan aku berteriak sakit…sakit ibu bidan. Abi ikutan tersenyum. Padahal proses hecting belum dimulai. Nanti pada saat bidan Ijok tengah melakukan hecting, baru bertanya “Sakit tidak?”
“Belum mulai toh ibu bidan”tanyaku. Abi tersenyum simpul dan menyapu kepalaku
“Iya belum”jawab bidan Ijok
“Mulai saja ibu bidan, saya pasrah” aku menutup mata sambil membelai rambut Dede. Tapi kali ini dua orang mahasiswa dan bidan Ilmi malah tertawa
“Sudah selesai” kata bidan Ijok
“Heh”$%#$%#^*
“Ummi hebat”ujar Abi
Rasanya seperti benang layangan yang bergeser pelan di paha. Selebihnya Alhamdulillah tidak sakit. Aku tersenyum lebar dan mengusap kepala dede yang masih dalam dekapanku
Menit berikutnya mereka membersihkan peralatan, mengalasi bokongku dengan pembalut persegi super duper gede bin lebar. Setelah itu mereka meminta ijin untuk mengambil dede dulu, diukur berat dan tingginya.

Abi keluar menemui ibu dan bapak. Belakang aku tau kalau mereka sujud syukur berjamaah di luar. Mereka lalu menemuiku, menanyakan kondisiku. Aku tersenyum lega. Setengah jam kemudian aku sudah di kamar. Jalanku sudah kayak bebek, tapi perasaanku plong seketika. Dede sudah tertidur pulas dalam dekapanku. Dua jam kemudian, Abi sudah sibuk mengelus sambil ketawa ketiwi tidak jelas memandangi anaknya, aku sibuk bercerita dengan ibu dan para mahasiswa tentang pengalamanku dalam kamar bersalin. Puas bercerita dengan ibu dan mahasiswa, aku lalu mengabari sahabat-sahabatku tentang kabar persalinanaku lewat sosmed. Aku sibuk menerima telpon, balas sms, dll. Ibu bidan sampai harus mengingatkan untuk istrahat. Aku hanya berbaring telentang lalu bercakap bertiga dengan Abi dan Dede. Kantuk semalaman entah menguap kemana. Belakangan aku tau jawabannya, kantukku menguap ke Dede, bayi mungil itu tertidur pulas. Kami bergantian mengecup keningmu Nak.

Anakku sayang, akhirnya kamu datang pada kami. Akhirnya kami bisa melihat rupamu. Kamu hadir 
di awal februari, dan memberikan status baru pada kami. Abi…Ummi. Anakku, Abi dan Ummi sayang dede….

Malam itu kami tidur telat, terlalu sibuk memandangi wajahmu yang tidak membosankan nak^_^
Anakku trimakasih telah datang dalam proses yang demikian indah ini.
Trimakasih telah mengubah Kamu dan Aku lalu melengkapkannya menjadi KAMI. keluarga kecil kami
bahkan sarung khusus buatmu pun nda kepake nak #edisiburuburu

Selasa, 09 April 2013

Epilepsi, salahkah???

Selalu saja ada hikmah di balik sebuah perjalanan ketika kita pergi dan kembali. Biasanya aku lebih tertarik memandangi aktivitas pengamen jalanan atau polah anak-anak di luaran angkot, ataupun pembicaraan dan keadaan di dalam angkot. Tapi hari itu beda, mungkin karena aku pulang ke rumah sendiri dan tidak bersama teman yang lain, jadinya aku memilih memejamkan mata dan larut dalam tidur. Bumi Makassar di luar sana mulai macet.

Di tengah asyik masyukku berdamai dengan tidur, tiba-tiba bunyi gaduh dalam angkot membangunkan tidurku. BRUKKKK!!! Angkot kami menghantam kendaraan di depannya. Akumasih berusaha menguasai kesadaranku, ketika satu persatu penumpang loncat dengan nekat. Angkot kami berjalan maju mundur dengan cepat, kulihat pak sopir memegang setir dengan asal-asalan. Detik berikutnya terdengar erangan keras dari Pak Sopir. Ada yang tidak beres, aku pun ikut bermanuver ria lompat ke jalan. Jalanan macet seketika. Setelah berdiri di pinggir jalan aku baru sadar, kalau pak sopirnya terkena serangan epilepsy. Beberapa ibu Perawat, yang juga penumpang angkot tadi membenarkan.

       “Kenapa dia jadi sopir kalau dia epilepsy?”celetuk Ibu Perawat yang dari ceritanya, kutau beliau adalah seorang perawat di ruang ICU (Intensive Care Unit)
               Aku tersenyum, dan kembali menghampiri keramaian di dekat angkot.
         “Bagaimana Pak?”tanyaku pada seorang bapak yang berusaha memingkirkan angkot. Pak Sopir sudah tidur telentang di jok depan, mulutnya berbusa. Beberapa orang tampak bisik-bisik lalu menjauh, bahkan seorang Ibu melarang anaknya mendekat.
        “Memang penyakitnya si gondrong (pak sopirnya memang gondrong) begini dek” Aku mengangguk dan tersenyum ke Bapak itu.
 
Yaaaahhh…, itu adalah sebuah konsekuensi dan asumsi masyarakat umum tentang epilepsy. Karena aku juga mahasiswa keperawatan, jadi begitu melihat kondisi Pak sopir aku tidak langsung lari terbirit-birit seperti yang penumpang lain lakukan. Kondisi serupa kadang aku jumpai di rumah sakit. Epilepsi ditandai dengan serangan kejang, terjadi akibat lepasnya muatan paroksismal yang berlebihan dari suatu neuron. Tetapi bisa juga disebabkan kondisi patologik tertentu misalnya perubahan keseimbangan asam dan basa atau elektrolit. Insiden penyakit epilepsy biasanya berada pada periode awal pertumbuhan dan kembali memuncak pada usia setelah 60 tahun. Penyakit ini menjadi salah satu momok dan kekurangan tersendiri bagi penderita. Tak ayal para penderita epilepsy dikucilkan dan ditakuti. Padahal, epilepsi bukan termasuk penyakit menular, bukan penyakit jiwa, bukan penyakit yang diakibatkan “ilmu klenik”, dan bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.


si ungu lavender
Tanggal 26 Maret lalu adalah hari epilepsy sedunia. Lebih dikenal dengan sebutan World Purple Day. Kenapa ungu???.Ungu, warna kesederhanaan Ungu adalah warna kesederhanaan dan mengukur. Warna ungu memiliki efek menguntungkan pada sistem kekebalan tubuh. Hal ini diindikasikan untuk mengobati insomnia, rematik, linu panggul, epilepsi, meningitis, neurosis. World Purple Day merupakan sebuah gerakan internasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap epilepsi. World Purple Day pertama kali diselenggarakan pada 2008 di Kanada. Asal muasal warna ungu pada hari epilepsy sebenarnya berasal dari warna bunga lavender. Lavender memiliki arti kesendirian yang sangat mewakili perasaan para penyandang epilepsi. Mereka merasa terisolasi karena epilepsi. Oleh karena itu, warna ungu dari lavender dipilih sebagai lambang internasional untuk epilepsy.

Peringatan World Purple Day bertujuan untuk menghimbau Pemerintah dan masyarakat untuk memberikan dukungan pada penderita epilepsy, bukan aktualisasi diri dari penderita epilepsy. Karena memang mereka ada, hanya saja stigma negative di kalangan masyarakat perlu di dudukkan kembali ke ranah positif. Tentunya Pemerintah punya andil. Pentingnya penyebaran informasi yang luas pada masyarakat. 
 
Pak Sopir dan cemooh orang disekitar menyadarkanku tentang keberadaan mereka. Pernyataan tentang mereka tidak boleh jadi sopir atau apa sebenarnya salah. Menurutku, setiap orang berhak menjadi dan menjadi. Ketika pak sopir berkeinginan menjadi seorang sopir, maka tidak ada yang berhak menghalanginya, semasih itu adalah sebuah pekerjaan yang halal. Epilepsi adalah penyakit bukan untuk dicemooh. Ketika dia mengetahui penanggulangannya maka tidak ada kata tidak untuk menjadi yang lebih baik.

Percaya tidak percaya. aku punya seorang dosen yang aktif banget, yang aku kagumi dan beliau pernah bercerita di depan kelas bahwa dia dulunya penderita epilepsi. sempat merasa minder, hingga mind set nya kemudian berubah. beliau sekarang malah baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri, hidupnya baik-baik saja. Orangnya energik. Kami memanggilnya Kak Aya, bahkan beliau sempat menjadi pembimbingku ketika menyusun skripsi. 

Untuk para penderita epilepsy di luar sana, jangan berhenti bermimpi. Jangan berjalan di tempat ketika yang lain mengucilkan kalian, toh kita semua adalah sama. Dan semuanya berpotensi untuk sakit. Hanya saja Allah membagikannya sesuai dengan yang tertulis di diarynya. Hari ini indah, ketika tak ada yang konsentrasi pada keluhan, semuanya bisa bahagia jika hidup berdampingan secara damai.

Aku melanjutkan separuh perjalananku dengan angkot lain. Sekitar 5 menit kemudian, perjalanan kami terhenti lagi dengan arak-arakan jenazah. Aku menyambungkan dua kejadian tadi, membiarkan berseliweran saling berkenalan di pikiranku. Lepas bercengrama. Ya kembali pada ujung pangkal kehidupan, kita semua akan berakhir bersama tanah. Kenapa harus bangga dengan badan, toh kita tercipta dari beragam takdir dan jalan hidup. Mari jalani hidup dengan sebaik-baiknya pada ketentuan indahnya Islam. Sesuai apa yang Rabb perintahkan dalam surat cintaNya yang terindah, Al Qur’an. Mari belajar menjadi sebaik-baiknya diri untuk dunia dan akhirat. Untuk saudaraku penderita epilepsi di berbagai belahan dunia, mari kembangkan senyum karena hidup tidak untuk di ratapi. Mari kembangkan sayap karena hidup memang untuk dijalani. SMANGAT^^

Ketika titik-titik indah dipilihkan Rabb untukmu berpijak
Maka setidaknya, mari belajar untuk memetik hikmah
Karena sesungguhnya hidup adalah sbuah tamasya perjalanan 

Kamis, 30 Agustus 2012

Icip-Icip Pahala...atau mendulang pahala??

Malam ini, aku berbincang dengan seorang kawan tentang hal sepele dan akhirnya bergulum pada keadaan Syawal. Yaa….bulan syawal datang, dan itu artinya kita masih diberikan limpahan ladang amal dari Allah SWT. Selepas Ramadhan yang menawarkan berbagai cita rasa ibadah dengan bobot yang tinggi. Lantas Allah SWT pun menganugerahkan Syawal untuk tercicipi. Kamu membuka percakapan perihal puasa Syawal. Katamu,..mungkin hatimu belum tergerak untuk mencicipinya. Kusadurkan kalimat tentang janji Allah akan limpahan pahala ketika kita mengerjakannya, dan kamu mungkin tersenyum simpul di ujung telpon sana. Sekali lagi, ini masalah niat dan ketergerakan hati.Ya sudah…..

kemudian kamu berkata padaku....

“Aku tidak begitu setuju dengan cara ustadz ketika berceramah dan mengajak ke hal yang baik, tapi mengumumkan nominal dari pahalanya. Sekian kali lipat, atau apalah..toh urusan agama adalah urusan individu kepada Tuhannya saja. Allah melipatgandakan pahala sepuluh kali lipat ketika kau berpuasa di bulan Syawal..bla bla bla. Buat apa semacam imbalan. Samalah halnya dengan pekerjaan, cukup setulus ikhlas mengerjakan, tidak terlalu butuh sebuah nominal untuk dikerjakan, yang penting ikhlas”


Setiap orang bebas untuk perpendapat, setiap orang pun bebas untuk tak berpendapat. Maka dari itu, prinsip kehidupan seseorang dengan orang lain terkadang mengalami perbedaan. Manusia adalah unik, hidup bersama hati dan pikiran dengan alur yang berbeda, menghasilkan aneka lintasan pikiran, larut dan terbuai dari buah pelampiasan dan penghayatan yang akhirnya berkecambah menjadi sebuah tindakan dan patokan tersendiri untuk hidup. Namun disisi lain, selain pendapat ada hal yang nyata dan mutlak berada pada garis patokannya, itulah qalam Allah. Yang tertulis apik dalam Al Qur;an dan Hadist yang telah mengarsipkannya dari dulu sampai sekarang, sepanjang masa.

Kehidupan dunia dan akhirat adalah hal yang berbeda  namun saling bertalian. Bisa dikatakan sebab dan musabab. Bagaimana kita menjalani kehidupan di dunia maka tolak ukur kehidupan akhirat adalah bidik terakhir. 

Berawal dari sesuatu yang kecil dan akhirnya menjalar menjadi argument yang mengepul, membludak. Ini seperti mendudukan sebuah perkara ke jenis positif dan harus untuk dilakukan, mengesampingkan sebuah perkara dan menjadikan hal yang tidak begitu penting untuk dilakukan atau membuang jauh sebuah perkara sekaligus menutup kemungkinan untuk dikerjakan. 

Sekali lagi, kehidupan dunia dan akhirat adalah dimensi yang berbeda, yang tak mungkin dilaksanaan dalam jangka waktu bersamaan. Hanya saja ini semacam linear yang saling mempengaruhi suatu himpunan.  Menurutku pribadi, sebagai manusia kita tak seharusnya menyamakan ilmu dunia dan katakanlah ilmu akhirat, sesuatu yang dilakukan untuk menciptakan bangunan istana di kehidupan akhirat kelak. Misalnya, dalam bekerja…imbalan adalah hal yang perlu tetapi jika mengarah pada kepuasan substansi hati, kadang kita berdiri pada dudukan yang monomer duakan imbalan. Berbedalah dengan imbalan atas amal ibadah yang kita perbuat. Jika Allah menjanjikan puasa syawal untuk ditinggikan derajat, untuk menyempurnakan puasa Ramadhan, dan akhirnya disamakan dengan melaksanakan puasa setahun penuh dengan catatan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, maka itu adalah hal yang berbeda dengan imbalan yang ada di kehidupan dunia. Kita dianjurkan untuk berlomba-lomba pada kebaikan, jadi wajar saja ketika aku melaksanakan hal yang membawa kebaikan, dan tergerak melakukannya karena pahala yang ditawarkan. Terlepas dari pikiran picik apakah murni untuk mendapatkan imbalan dengan niat yang tulus ikhlas atau hanya melakukannya karena hal yang demikian telah tertulis dengan jelas dalam surat cinta Allah. Jika perkaranya demikian itu tergantung dari buku catatan amal milik Allah SWT semata. Yang jelas, yang perlu hanyalah kesucian hati dan kemauan untuk melakukannya. Jangan berpikir, itu sama halnya dengan kita melakukannya karena ada imbalan dilipat gandakan pahalanya atau ditinggikan derajat. Sekali lagi…imbalan dunia dan akhirat adalah sebuah konstanta yang berbeda.


Aku menyukai sebuah kutipan dalam sebuah buku tentang logika agama…

Memang apa yang dijangkau hati, merupakan hakekat yang tidak dijangkau oleh bahasa. Ia merupakan cahaya yang memancarkan dan menyejukkan hati. Ia tidak memiliki bahasa. Ia bukan seperti akal yang memiliki bahasa dan lambing-lambang. Tetapi karena desakan, biasanya ia dibahasakan dan ini yang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Kembali, bahwa hati mempunyai logikanya yang sulit dipahami oleh akal.

Bergantung pada respon hatimu, itu adalah konsep untuk menyatukan pendapat. Bagaimana bisa tingkah laku menyikapi ‘sesuatu’ itu. Dan setelahnya, bahwa memang benar ada…sesuatu yang katakanlah hidup dalam logika agama, kedudukan dan batas-batas sebuah akal. Yang akhirnya menyulap pendapat yang akhirnya mengakari sebuah prinsip, dan tertanam dalam nurani tiap individu.
Jika bertolak pada ukuran tindak tanduk yang baik dan buruk, ataukah perilaku yang memang dan mutlak untuk dilakukan dan dihindari, maka kembali pada kondisi keimanan seseorang dan pengetahuan akan apa yang tercantum dalam hal yang diyakininya.


Misalnya….bagaimana Islam mengatur perihal berpakaian.
Hai anak-anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian untuk menutupi aurat dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah” (Al-A’raf;26)
Lalu kemudian dicantumkan dalam surat cinta Allah, Al Ahzab ayat 59 tentang suruhan berjilbab, bahwa sesungguhnya jilbab adalan ciri khas wanita Muslim. Kemudian ketika Islam mendefenisikan batasan aurat dan bagaimanan sepantasnya berbusana yang baik, menjulurkan kerudung hingga ke dada. Maka bermuncullah berbagai spekulasi, bergantung pada hati dan pikiran individu menafsirkan. Akhir-akhir ini kita biasa melihat wanita muslim yang mengenakan busana atas dasar trend atau mode. Dalam keyakinan mereka, itu adalah hal yang sama yang dianjurkan oleh agama. Menutup aurat. Tapi tunggu dulu, ada hadist yang mengatakan, bahwasanya RAsulullah saw bersabda: “barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah (termasuk) dari kalangan mereka. Kembali lagi, mungkin menurut mereka itu sudah sejalan dengan perintah Allah, tapi menurutku tidak. Tapi aku tak berhak untuk menghakimi mereka dengan berkata,kalian berdosa, kalian akan dijerumuskan dalam api neraka. Kodratku sebagai muslim adalah berbagi tentang hal yang kupahami bukan menilai dosa tidaknya, karena yang pantas untuk menilai kesemuanya kembali pada Allah SWT.

Ataukah…contoh yang lain,..tentang kekeliruan ketika keluar rumah, bepergian jauh (safar) dan campur baur (ikhtilath) dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Aku pernah membaca buku yang didalamnya ditulis tentang wanita muslimah yang keluar untuk bekerja, tatkala kaum muslimin membutuhkan pekerjaan di tengah-tengah komunitas wanita. Ada poin yang mengatakan larangan untuk tidak bekerja di suatu tempat yang campur baur dengan laki-laki, seperti bekerja sebagai perawat. Aku sendiri mengambil jurusan ilmu keperawatan. Jujur ketika membaca bagian itu, aku langsung menggaris bawahi dan melipat halamannya. Bukan karena aku sepakat dengan apa yang tertulis disana, justru sebaliknya. Dan kembali lagi, itu adalah pemahamanku. Apakah tindakanku menjadi mahasiswa keperawatan adalah dosa atau bukan, itu Allah yang menentukan.

Misalnya lagi,. Aku pernah mengikuti Talk Show Mas Solikhin Abu Izzudin, penulis buku best seller Zero to Hero, The Way to win. Beliau pernah berkelakar, bahwa ia tidak terlalu sepaham dengan Mas Salim A. Fillah tentang nikah muda, makanya saya tidak menikah muda.
Islam pun mengajarkan tentang kelas-kelas cinta. Bagaimana seseorang menanggapinya,tak ada yang berhak menodong salah satu dengan mengatakan tindakannya lah yang paling benar. Pernikahan merupakan bagian dari perjalanan rohani manusia. Kaum Adam ada yang berpendapat untuk mematangkan sandang, pangan dan papan baru kemudian menikah, dengan alasan tujuannya membahagian wanita yang akan dipilihnya kelak. Ada pula yang lebih berani memilih bahwa pernikahan adalah sebuah ladang rizki, maka Allah tlah mengatur rizki tiap orang. Semuanya bebas berpendapat. Tapi kalo boleh berpendapat, sebagai kaum hawa, terlalu picik pemikiran seorang Adam jika ingin melengkapi sandang, pangan dan papan barulah kemudian menikah. Tahukah kalian hai kaum Adam…ada masa-masa indah, yang membuat seorang wanita mendulang rasa cinta dan hormatnya kepada kalian, adalah ketika melihat kalian berjuang mencari nafkah, bukan ketika semuanya telah tersedia. Maka aku masuk pada bagian, tidak usah melengkapi sampai ke papan, jika hati mantap untuk meminang, maka halalkanlah yang telah membuat hatimu berkedut gila. #eaaaaa^_^. Maka apakah menikah muda adalah sebuah dosa? Menunda pernikahan sebelum mendapatkan pekerjaan??Dosa?? Allah SWT Maha Mengetahui.
Ada banyak contoh hal-hal yang tidak bisa dikategorikan untuk kita tahu dosa atau tidaknya, tapi untuk sebuah qalam Allah yang meriwayatkan nilai nominal didalamnya. Jangan takut, akan dinilai serakah….yang pastinya niat untuk mendapatkan pahala dan rahmat Allah adalah dari hati. Ini bukan masalah imbalan dalam dunia, tapi masalah imbalan dan tiket kita ke akhirat. So..Nyok puasa Syawal…ayo perbanyak amalan di dunia sebelum masa berdirimu expired. Hai kawan, mau nonton saja, icip-icip pahala atau ikutan mendulang pahala...mumpung kita masih dibekali oksigen^_^

gmbr nyulik disini
Kesempurnaan bukan ada padaku, tapi semata ada pada Sang Pencipta…
Tulisan ini adalah obrolan malam dengan seorang kawan..
Yang tetap akan kuanggap kawan meski berbeda prinsip dan pendapat…
Bukankah perbedaan itu indah, membawa warna…
Ini sebuah celoteh ketika hatiku menyakini yang kucerna
Ketika logikaku mendudukkan batasan akal untuk meliukkan tulisan…
Kembali lagi…aku hanya manusia biasa…
Dan sebuah pendapat bisa saja berubah seiring akal menemukan poin poin nalarnya dan adaptasi nurani^^

Senin, 20 Agustus 2012

Sayonara...


Kamu belajar dengan mudah dan cepat seperti membalikkan tangan, atau sekedar menjatuhkan bola bekel ke lantai dan secepat kilat kembali mengudara. Kamu selalu begitu, dengan cekatan mendiami seluruh wadah. Selebihnya, aku akan hanya memandangimu melompat kesana kemari seperti tupai membagi makanan, sekilas terlihat tawa lepasmu dan perbincangan yang kerap kamu rajut bersama orang pinggiran. Aku selalu mengangumi hatimu yang seperti itu. Katamu…manusia tak ada bedanya, maka tak ada larangan untuk saling menyapa. Dan aku slalu sepakat tentang apa yang kamu bentuk dan melepasnya berlarian di ruang otakmu. Selalu kreatif…
Kamu…hai nikmat berbagi

Kamu yang membangunkan tidurku lebih banyak ketimbang suara alarm dari jam wekerku sendiri. Ketika sebaris saja dari pesanmu terdengar gendering telingaku, mengusik mimpiku. Mungkin kita akan terlihat seperti sepasang kekasih, aku selalu menginginkan hal itu…Teramat sangat.
Kamu…hai nikmat subuh

Ada yang bilang kamu adalah surat cinta terindah sepanjang zaman, ada pula yang bilang kamu tak lain adalah kunci seluruh pintu di dunia,sekalipun pintunya terbuat dari baja. Cukup mencuri ilmu dari tiap lembaranmu, niscaya segala pintu akan terbuka lebar. Aduhai…sebegitu hebatnya kamu ya??Dan aku tak heran, kamu bahkan pernah membuat hatiku berkedut dari tahtanya ketika seorang adam menggaungkan kalimat demi kalimat dalam tubuhmu. Meski aku sadar, ialah hal yang tak boleh ketika aku menyimpan rasa mendengar lantunan nada asmaMu dari seseorang yang tak bertalian darah denganku
Kamu…hai nikmat Al-Qur’an

Dan heii…karena kamu, aku seperti melihat pemandangan Jumat ketika jarum jam saling bertumpuk di pertengahan hari, tapi kali ini terasa double dan berpindah pada belahan bumi malam. Ketika aktivitas rumah agung tak berhenti selepas Isya saja, dan aku  bisa mendengar takbir untuk kesekian kali berulang
Kamu…hai nikmat tarwih

Lalu…selepas syahdu aku menahan gigil menghadap apa yang tlah terkaruniakan pada kami. Ketika Rabb menurunkan para malaikat untuk ikut mendoakanku. Yang memberikan segenap titik berkah pada tiap suapanku. Ini adalah sesuatu yang berada di luar kebiasaanku, bahkan menyentuh sarapanpun tak biasa kulakukan, tapi aku mengenalmu sebelum sarapan dan setelah makan malam,..
Kamu..hai nikmat sahur

Setelahnya, setetes tengukan air saja terasa mengenyangkan pada tiap jam yang terlalui tanpa sesuap setelah fajar tersingsing. Pelataran senja adalah pertanda ketika kamu tiba. Ketika temaram jingga berlari kecil mendahului pekat terjun ke kelambunya.Waktu itu, setenguk air menyapa ujung lidahku dan melebur bersama air liur. Betapa aku mengangumi pelampiasanmu…,selalu melegakan
Kamu…hai nikmat berbuka


Aku berkenalan dengan kalian para lukisan nikmat yang selalu bersejawat dengan kandungan kedamaian. Aku masih malu untuk berbagi tentang apa yang kalian bawa atau apa yang harus kulakukan lebih jauh dari keberadaan kalian. Sebab aku masih selalu dalam tahap mempelajari kalian tanpa penuh dengan hamparan ilmu akan kandunganmu. Aku mengaku muslim, tapi tak mengenal sempurna apa yang kalian miliki.

Ada yang pernah berkata padaku, teruslah begitu. Maka mungkin kamu akan menemukan titik temu untuk menjadi seorang muslimah sejati. Sebuah ujung pencapaian yang lebih membanggakan ketimbang pencapaian akademik. Sesuatu yang slalu aku agungkan di bangku sekolah sampai perkuliahan sampai menutupi cahaya dari tugas yang sebenarnya kuemban sebagai wanita. Yang karena mengenal kalian, defenisi sebuah kebahagiaan harus aku revisi sedetail mungkin.

Berinteraksi dengan kalian adalah sebuah keunikan yang luar biasa. Di perjalanan Ramadhan yang akhirnya mengerucut menemui penghabisan. Kemudian berlalu….

Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah, limpahkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Maha Suci Dia yang memiliki keagungan paling tinggi dan paling luhur, Maha Suci Dia yang memiliki kebesaran paling mulia…
Aku ingin bertemu dengan kalian di bulan sama di tahun depan, Rabbku, smoga Engkau mengabulkannya,,aamiin…..
Dengan ini, kumohon dengan sangat….

Jumat, 08 Juni 2012

Aku ingin kenal kamu..kamu..dan kamu yang lain^^

Tak selamanya, apa yang menjadi kekuatan pikiranmu akan mempengaruhi segenap orang yang ada di sekitarmu. Tak selalu, apa yang lisanmu terucap bangga adalah sebuah kebanggaan bagi orang lain. Tak selamanya apa yang menurutmu super duper keren adalah hal yang sama ajaibnya dengan terkaan pikiran khalayak. Apa yang tertangkap jingga di matamu tak selamanya tersebut indah oleh hatimu, mungkin saja yang lain menganggap itu hal biasa dan kau lebih menjunjung hijau ketimbang lembayung, atau monomer duakan haru biru ketimbang nila. Tak ada yang menyangka bukan, karena kita manusia adalah hal yang relative, semua kembali kepada apa yang diterjemahkan seenak indah oleh mata dan pikiran dan tak lupa berkolaborasi dengan hati.

Makin kesini, aku makin mengetahui…ternyata dunia menyimpan ragam pundi karakter yang mendiami raga manusia. Kadang aku menangkap lucu apa yang menjadi keseharian mereka, kadang aku menangkap lugu apa yang menjadi pendirian mereka. Dan tak ayal hariku kerap terlukis indah karena ragam itu. Hidup seperti pelangi, indah bukan??
Menelusuri sekat lekukan mereka, seperti bermain dengan kelak keluk riak air. Indah, menyejukkan dan kadang terombang ambing. Akan ada banyak celah yang ditemukan untuk menghubungkan diri dengan arena permainan mereka. Akankah kacau ujung saja, atau tertafsir dapat menikmati puncak dari gunung es atau sekedar mengapung bersama serpihan patahan es. Semuanya penuh dengan cerita, lumpuh dengan kisah.

Aku ingin menari bersama ribuan kupu-kupu bersayap hijau di tengah hamparan dandelion yang mengembang. Aku ingin berselancar di seluncuran padat es dengan mantel tebal sambil berseru kaget pada hamparan salju di depan mata. Aku ingin meneriakkan namaMu di puncak tertinggi dengan mata yang berbinar menatap lembayung senja seperti aku memandangi layar monitor. Huaaahhh!!!!! Seperti apa gerangan????

LUAR BIASA!!!! Dan akhirnya aku bisa mengenalmu, dan akhirnya kita saling berkenalan. Meski tak tau sepenuhnya apa yang mendiami jiwamu, tapi akhirnya kita dipertemukan. Dan ajaibnya, tak hanya kamu…aku akhirnya bisa berkenalan dengan kamu yang lain di sudut bumi lain, tentu dengan panggilan yang berbeda. Walaupun ada dengan panggilan sama,jelas aku bisa membedakan yang mana kamu dengan kamu yang lain^_^

Aku pikir, salah satu dedikasi tinggi yang dianugerahkan sang Khalik untuk kita para hambanya adalah ‘label’ dari ke’aku’an masing-masing kepala. Sejauh mana kita memaknai batang tubuh yang bergerak bersisian. Bebas menempanya seperti apa, dan karena kebebasan itulah, salah satu atau bahkan salah banyak dari kita melampaui batas. Entah itu aku, kamu atau kamu yang lain. Maka karena itu pula aku berpikir, mungkin itulah gunanya sang Khalik menciptakan banyak kamu..kamu dan kamu yang lain. Untuk apa coba???yaaa mungkin untuk menjadi alarm bagiku, untuk jadi pengingat baginya, untuk jadi contoh untuk kita???Mungkin!^_^

Yang pasti, poin pencerahnya adalah…setiap manusia terlahir unik. Setiap manusia berhak untuk punya kisah dan berkisah. Dan setiap manusia punya rahasia, apa rahasiamu??apa rahasiaku??? Aku untuk saat ini belum mau berbagi….mungkin bisa, untuk bagian-bagian kecil saja, karena untuk hal lain…aku menempatkannya sebagai miniature tersendiri, tersimpan apik dalam museumku^^


Aku bahkan tak perlu melafazkan namamu untuk menghadirkan rindu untukmu, karena kamu tlah ada sejak tadi berdiam di pojok hatiku
Boleh saja, daun kering menggelepar menurut pada tiupan angin, tapi tak kubiarkan rindu tertiup begitu saja tanpa penawar
Hei kamu…kamu dan kamu…
Aku ingin bilang rindu, tak kelu lidahku terucap
Hei kamu…kamu dan kamu…
Aku ingin menyapamu lebih banyak lagi,
Hmmmm smoga saja aku punya skenario lebih banyak untuk mengenal kamu,,…kamu dan kamu..
Karena ternyata merindui kamu..kamu..dan kamu…semacam doping untuk keselarasan hidupku^^
_Uty_#eaaaa


* Maka bertaaruflah...banyak temen banyak rejeki katanya...^___^