Selasa, 29 September 2020

Rumah Hexa

Astuti Amir
 IP Kalimantan Selatan 

Memasuki gerbang bunda produktif, rasanya nano-nano. Sempat berbinar dengan pilihan yang disajikan, saya tanpa pikir panjang memilih beberapa. Pendidikan, menulis, ibu dan anak serta bisnis. Keempat variable yang ingin saya tekuni, tapi sayangnya rules di bunda cekatan tidak membolehkan untuk memilih lebih dari satu. Wess bismillah saya memilih menulis. Menulis bagi saya dulunya adalah sebuah hobby lalu menjelma menjadi sebuah passion. Tumbuh ketika saya masih berstatus siswa dan mengenyam pendidikan. Dulu suka skali blog walking berjam-jam bahkan hingga jam Cinderella. Meski tugas menumpuk, tapi ketika jemari menari di atas tuts rasanya seperti doping yang meredam, kesuntukan, emosi negative dan kawan-kawannya. 

Lewat menulis saya menemukan sahabat yang benar-benar sahabat. Menuangkan dan memberitahu segala tanpa takut akan diceritakan ke orang lain. Akan tetapi setelah berkeluarga candu itu seperti pergi meninggalkan saya, atau lebih tepatnya saya yang tidak memedulikan dia lagi, atau waktu dan kondisi yang membuat kami berjarak. Tapi ketika dipertemukan dengan buku, tulisan. Sepertinya makhluk akrab itu seperti berdesir memanggil-manggil. Akhirnya saya ingin mencoba memulainya di bunda produktif

Hipotesa saya adalah, akan tidak gampang saya melewatinya. Karena saya akan melompati beberapa hal yang berada dalam ‘caplock´tantangan lain. Semisal dengan memilih menulis, berarti saya harus memperketat ranah keterampilan manajemen waktu, mungkin saya akan menerapkan waktu memasak cukup sekian menit saja dan beberapa kegiatan lain yang harus serba di atur agar bisa menyisipkan waktu untuk passion saya ini. Melewati perkenalan pertama dengan konsep hexagonal city, lagi-lagi membuat saya berdecak kagum dengan bu Septi beserta tim yang telah merangcang semuanya sedemikian rupa. Awalnya saya berharap game memilih passion ini, seperti jejak langkah di bunda cekatan kemarin yang akan mengharuskan kami menelaah kembali kegiatan yang sudah dipilih apakah sesuai dengan mind map. Tapi ternyata di bunda produktif ini kami diharuskan untuk memilih satu saja. Kegamangan saya kembali timbul, sempat ingin maju mundur. Apalagi di jam genting pemutusannya ini, tetiba saya ingin memiliki sebuah ‘rumah belajar’ di rumah. Di mentorship bunda cekatan saya memang memilih untuk membangun sebuah les privat dari rumah, keinginan itu muncul untuk diteruskan tapi tidak sinkron oleh tangan ini memilih bisnis. Wes saya anggap sebagai tantangan lain, berarti selain mengetatkan lagi manajemen waktu, saya pun meluangkan waktu untuk dengan keputusan tetap menjalankan semuanya sambil membeli-beli semangat, kerja keras berliter-liter dan berharap bisa jadi stok amunisi menyelesaikan sebuahnya hingga garis finish. 

Yuk mare berbenah dan mulai membangun rumah hexagon. Rumah hexagon adalah rumah impian yang dibangun untuk kebutuhan pribadi, jadi dalam rumah lebah saya kali ini saya akan membuat sebuah kamar pribadi saja, tidak ada kamar yang diperuntukkan untuk anak dan keluarga. Karena ranah yang saya coba untuk bunda produktif kali ini adalah bidang kepenulisan, maka hal wajib yang saya siapkan adalah ruang kerja untuk menulis yang menghadap ke taman hexagon bersambungan dengan kamar tidur saya. Ketika memasuki area bangunan rumah, tamu akan disambut dengan ruang tamu yang memiliki akses langsung ke taman hexa tengah. Sebelah kanan adalah perpustakaan mini yang ukurannya memang cenderung lebih besar untuk ukuran perpustakaan rumah, bangunan perpustakaan berdampingan dengan mushola. Sementara di sebelah kiri ada bioskop mini. Bergeser kearah kiri setelah bioskop mini kita akan bertemu dengan ruangan yang difungsikan sebagai ruang makan dan dapur. Di rumah saya, icon terbesarnya adalah taman hexa ini, disini adalah area multifungsi, ketika bosan makan di ruangan makan, boleh makan di tanam, menerima tamu pun boleh langsung ketaman, baca buku, nulis di laptop juga bisa di taman. Kisah rumah lebah ini menggambarkan sebagian mimpi saya membangun rumah sendiri, rumah berdinding bentuk hexagonal mengelilingi sebuah taman. Kesemua ruangan ini konsepnya memiliki balkon dengan jendela kamar yang lebar nan melegakan menghadap ke taman. 

 Motivasi saya memilih ranah menulis ini adalah karena ini salah satu me time. Dengan kondisi pandemic, dan bekerja di ranah domestic, saya butuh untuk me time yang beda sesuai dengan passion saya. Ketika saya berhasil melakukannya secara kontinu, selanjutnya mencoba untuk menjadikan passion ini menjadi lahan produktif saya
#HexagonCity #Hexagonia #KuliahBundaPtoduktif #InstitutIbuProfesional

Kamis, 20 Februari 2020

Sinergis

Konsep aktivitas sosial yang saya tuliskan disini kebetulan telah kami lakukan beberapa tahun terakhir ini. Aktivitas sosial tersebut adalah berbagi nasi bungkus di Jum'at pagi, minimal sekali sebulan. Aktivitas ini juga masuk di family project keluarga kami. Konsep kegiatan sosial ini awalnya butuh penyesuaian apalagi kami melibatkan anak yang notabene masih di bawah umur 5 tahun. Jadi stok sabar dan senantiasa mengayomi benar-benar dibutuhkan.

Kami memberi nama kegiatan ini dengan sebutan 'berbagi nasi'. Anak sulung saya pun sudah bersahabat dengan kalimat tersebut. Ketika Kamis malam saya sibuk menyiapkan bumbu dapur, dia sudah paham besok waktunya untuk "berbagi nasi"

Tujuan dari kegiatan kami ini
1. Quality time yang diramu dalam family projeck. Ibaratnya sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ketika melakukan kegiatan ini, semua anggota keluarga bahu membahu mengambil porsinya masing-masing.
2. Mengajarkan berbagi dan bersedekah terutama untuk anak-anak kami
3. Menyediakan sarapan kepada para pekerja pagi, pemulung dll
4. Kegiatan serupa bisa menjadi sumber inspirasi buat keluarga lain, komunitas untuk berbuat dan bertindak lebih dari apa yang telah kami lakukan
5. Mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Scan diri untuk selalu bersyukur, bahwasanya diluar sana masih banyak yang kekurangan

Target kegiatan
K
1. Kami menargetkan berbagi nasi di Jum'at pagi. Start dari rumah pukul 07.00 dan selesai dibagikan jam 08.00 atau maksimal 08.30 sebelum mengantar anak ke sekolah
2. Kami menargetkan untuk menyisir jalan dan memberikan kepada pemulung, tukang bersih, tukang becak, tunanetra dan disabilitas lainnya, pengamen, tukang pijit, lansia dll.

Sinergis dengan siapa saja?
Di dalam keluarga, tentu semuanya terlibat
1. Mulai dari membeli bahan makanan di pasar, saya dan suami berjibaku ke pasar tradisional sampai ke pemotong ayam
2. Untuk tahap pembuatan. Kami kembali bersinergis, saya berperan memasak, suami menjaga anak-anak
3. Tahap packing, kami melibatkan anak disesuaikan dengan kemampuan motoriknya. Sulung sudah bisa mengingat bungkusan makanan dan menarohnya ke goody bag. Yang bungsu memasukkan sedotan dan air mineral kedalam bungkusan
4. Tahap pendistribusian, kami melibatkan tetangga mahasiswa sambil berbagi tugas untuk menyisir jalan
5. Refleksi, biasanya setelah selesai pendistribusian dan mengantar sulung saya sekolah. Kami makan bersama, termasuk dengan tetangga sambil bercerita tentang pendistribusian makanan tadi. Biasanya kami akan menemukan pembelajaran hati dalam cerita-cerita yang dilontarkan😍

#materi4
#emphaty
#filantropi
#charity
#suistainability
#habituasisejutacinta
#sejutacinta
#ibuprofesional
@sejutacintaoibuprofesional

Jumat, 14 Februari 2020

Mulai dari diri sendiri

Hidup di zaman sekarang, disandingkan dengan teknologi, membuat kita manusia terbuai dan tak ayal mengarah kepada perilaku malas dan ketergantungan. Teknologi memang diciptakan untuk mempermudah ruang gerak manusia milenial, yang mana tantangannya memang jauh berbeda ketimbang zaman dahulu, atau beberapa puluh tahun sebelumnya. Akan tetapi, semoga kita bisa lebih bijak memilih dan memaknai teknologi ke ranah yang lebih positif.

Kali ini kita berbicara soal suatainability. Bagaimana kita hidup berdampingan dengan alam yang seyogyanya mampu menyediakan sumber daya yang dapat kita manfaatkan.

Tak perlu jauh-jauh dulu. Disini saya berusaha menilik pada diri saya sendiri. Apa yang telah saya lakukan terkait pola kehidupan saya berhadapan dengan social sustainability. Tak banyak, sungguh menyedihkan. Tapi dengan gerakan kecil dari rumah, saya berharap saya bisa tetap konsisten.
Terkait peran saya di ranah keluarga sebagai Ibu Rumah Tangga maka saya punya andil dalam mengelola sampah keluarga. Di rumah kami sendiri, sudah diterapkan beberapa poin untuk meminimalisir sampah ini
💚 Menggunakan _clothes diaper_ ak clodi ak popok kain untuk anak-anak saya. Dan sedapat mungkin meminimalis penggunaan popok sekali pakai. Biasa saya menggunakan popok sekali pakai untuk perjalanan jauh atau kondisi emergency lainnya. Hal ini saya lakukan sejak tahun 2015
💚Menggunakan pembalut kain
💚Belanja bulanan dengan tas sendiri
💚Sampah basah untuk pakan ternak
💚Membatasi penggunaan tissu, biasanya saya mengghabiskan 1000fly tissue per bulan. 3 bulan terakhir saya mencoba mengurangi hingga menyiapkan 1 tissue kecil saja di rumah. Urusan lap melap disiasati dengan menggunting kain sama besar hingga bisa di cuci ulang.

Kemudian..bagaimana kita menjamin kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Sementara mereka sudah terlanjur bergantung pada kondisi serba praktis?
Di tempat tinggal saya sendiri, perilaku yang nampak terlihat adalah manajemen sampah. Masih banyak yang tergantung pada benda-benda yang sulit terurai ketika menjadi sampah. Tissu, popok, plastik, kemasan dll. Dan parahnya lagi, kadang di komplek saya sendiri. Di rumah yang kebetulan tak dihuni pemiliknya, kita kadang menemukan onggokan plastik berisi sampah yang di buang tidak bertanggung jawab.
Masalah yang lain masih terkait dengan sampah adalah pembakaran sampah. Di sekitar saya, membakar sampah di halaman depan di pagi hari menjadi 'trend' tersendiri.
Fenomena lain di komplek saya adalah penebangan pohon. Karena komplek saya terbilang baru maka menebang pohon menjadi semacam pemandangan yang lumrah. Tapi yang lebih memprihatinkan adalah galian tanah yang amburadul. Bulsozer melalap tanah habis-habisan tanpa menggunakan SOP keamanan. Sore kemarin saya dan suami sempat berkeliling dan melihat kondisi galian tanah yang lebih dalam ketimbang hunian penduduk di sekitarnya. Hal ini tentu bisa berakibat buruk pada lahan bermukim. Ketika musim hujan seperti sekarang, rawan longsor dan genangan air besar bermunculan dimana mana


Lalu...apa yang bisa saya lakukan??
Nagh..ini pun memprihatikan karena saya tak bisa melakukan banyak hal. Hanya berharap memulai dari point kecil dalam suatu masyarakat yakni melalui keluarga saya dulu. Lewat pembiasaan-pembiasaan kecil yang dijadikan sebuah rutinitas, berharap tetangga pun bisa mengikuti. Lewat edukasi kecil kepada anak-anak saya yang masih balita, entah itu lewat game dan buku sebagai sarana edukasi. Agar mereka paham sebuah suatainability. Bagaimana alam sudah menyediakan rupa-rupa bahan untuk kita manfaatkan. Dengan itu saya menyelipkan harapan, kelak mereka bisa tumbuh menjadi sosok yang lebih menghormati alam

Selasa, 11 Februari 2020

Ilmu di keluarga: Inside out family

Pekan ini saya masih betah di keluarga konflik. Pekan pertama setelah agak teratasi dengan chat yang menumpuk, dan ruang tele yang tak henti ketiban chat. Akhirnya mulai bernafas dengan ritme chat dan belajar meski masih ngos ngosan. Salah satu alasan saya juga agar lebih fokus. Maka pekan ini saya belum memutuskan untuk berselancar dan bertamu ke rumah keluarga lain. Akan tetapi saya tetap mengikuti go live di rumpun keluarga FBG. Yang ada d mind map saya, salah satunya yang menarik untuk saya pelajari dan terkait pula dengan amanah yang diberikan kepada saya, yakni manager keuangan. Yaitu manajemen keuangan. Kemungkinan next week saya mau bertamu ke rumah mereka.

Pekan ini...cukup di rumah sendiri. Rumah manajemen emosi. Sub tema manajemen konflik. Keluarga inside out family. Saya masih harus membenahi tentang manajemen emosi, konflik. Karena menurut saya, saya harus menyelesaikan diri sendiri sebelum belajar hal lain yang lebih besar.
Dan pekan ini di keluarga kami akan berbicara terlebih dahulu tentang konflik yang terjadi dengan pasangan. Seru skali, MasyaAllah...dan bener-bener memberi saya energi. Meski lewat WAQ tapi emosi antara para bu ibu member terjalin, saling menguatkan.

1Kemampuan komunikasi yang tidak efektif
💚 Tidak memahami fitrah perempuan dan laki-laki
💚Tidak memahami bahasa cinta pasangan
Dr. Garrry chapman menemukan 5 bentuk bahasa cinta
1) World of affirmation (kata-kata yang meneguhkan)
2) Physical Touch
3) Receiving gift (hadiah)
4) Quality time (waktu yang berkualitas)
5) Act of service (melayani)
Ada beberapa orang yang canggung menyatakan cinta dalam kata-kata, bisa jadi orang tersebut juga canggunh dalam menyatakan bahasa cinta melalui sentuhan. Sehingga dengan melayani adalah cara terbaik yang diberikan pasangan.

2. Teknik komunikasi yang bisa dilatih bersama pasangan menurut Denny Hen dalam buku _The_ _great marriage_
💆🏼‍♀️PASANGAN
💚 ```P``` erhatian penuh. Singkirkan segala hal yang berpotensi mengganggu jalannya komunikasi seperti hp,tv,dll
💚 ```A``` pa yang terjadi. Mulai dengan salah seorang menceritakan apa yang terjadi
💚 ```S``` erius mendengarkan
💚 ```A``` ktif bertanya
💚 ```N``` gulang lagi
💚 ```GAN``` tian. Setelah parafrase suami diterima istri, giliran suami yang bercerita dan berbicara dengan teknik ini.

💆🏼‍♀️P4K
RUMUSNYA
P : Problem
P : Pendapat
P : Perasaan
K : Keputusan

💆🏼‍♀️SKAK
Berikut 3 tips yang perlu diingat saat pasangan mengalami SKAK (Stres, Ketakutan, Amarah dan Kesedihan)
💚Akui kesulitan yang dihadapi pasangan. Jangan meremehkan dan mengecilkan masalah tersebut
💚Jangan mencoba melakukan problem solving
💚Gunakan pertanyaan terbuka ketika bertanya
💚Jangan membawa hal-hal personal
💚Jangan menyuruhnya menjadi tenang
💚Temukan tujuan dan halangannya
💚Tanyakan apa yang hilang
💚Jangan mencoba membuat pasangan tersenyum

Teknik terapi okupasi

Memahami bahasa cinta pasangan. Teori Gray Chapman.
Bagaimana mencari tau bahasa cinta pasangan???
💚Tanya langsung
💚Main quis dengan pasangan tentang 5 bahasa cinta

Penjelasan lengkap quiz 5 bahasa
Http://www.google.com/amp/s/www.proprofs.com/quiz-school/storyamp.php%3ftitle=5-bahasa-kasih-pasangan-quiz



#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional