Sabtu, 13 Juni 2015

010215


Assalamu’alaikum Izz, Anak Salehku. Ketika kamu membaca tulisan Ummi ini tentunya kamu sudah besar nak, sudah bisa membaca. Ummi akan bercerita tentang bagaimana kamu terlahir ke dunia ini. Dan betapa bahagianya Ummi dan Abi kala itu. Slamat membaca Nak^^

Memasuki minggu 36 kehamilan, ummi semakin merasa was-was, plus stress juga. Mungkin karena ini adalah anak pertama kali ya…Minggu 37 ummi memeriksakan kandunganku di bidan, menurut ibu bidan kepala si dede belum masuk ke pintu panggul, masih melayang. Ummi disarankan untuk naik turun tangga dan jalan-jalan pagi. Memang sih ummi jarang jalan-jalan pagi, malas. Tapi aktivitasku selalu menuntut ummi untuk mobile, bahkan kehamilan 36 minggu kemarin ummi masih wara wiri Enrekang Makassar. Ibu bidan menafsirkan BBJku 3,2 kg di pemeriksaan minggu ke 37, ummi menelpon teman-temanku yang berprofesi sebagai bidan rata-rata mereka menebak nanti ummi lahirannya SC karena bayiku berpotensi punya ukuran besar. Menyesal ummi menelpon mereka, malah memperbanyak stressorku L.  Ya Rabb ummi pengen lahiran normal. 

Kebetulan ummi janjian dengan dokter kandunganku, dokter Amel untuk kontrol di minggu 38. Sebenarnya keluarga dan suami sudah tidak mengijinkan. Jarak tempuh Enrekang ke Makassar 6-7 jam perjalanan.  Ummi tambah galau, bagaimana nanti kalau perkiraan para bidan itu benar, ummi akan di SC. Sementara dokter di Rumah sakit Enrekang ini dokternya laki-laki, dan ummi sama sekali tidak siap dengan hal itu, aku lebih memilih dan sangat ingin melahirkan normal di tangan ibu bidan yang memang sudah kukenal. Walaupun memang dokter Amel, dokter kandunganku di Makassar pun sangat baik dan kooperatif. Aku merasa hubungan terapeutik sangat mendukung kelancaran persalinan.  Ummi bujuk-bujuk akhirnya mereka luluh juga dengan syarat ummi ditemani Bapak.

Bidan Ijok, itu nama bidanku pun memberi lampu hijau asal ada yang temani dan selalu bawa baju baby kemana-mana. Dan direncanakanlah ummi berangkat tanggal 31 januari karena tanggal 2 Februari adalah jadwal konsul dengan dosen pembimbing tesisku dan kontrol ke dokter Amel. Tapi tanggal 30 Januari ummi berubah pikiran, ummi membujuk Ibu untuk ikut menemaniku ke Makassar, takut ada apa-apa di perjalanan, ummi meminta Ibu ijin dari kantor dan ibu menyanggupi. Tapi siapa sangka rencana itu tinggal rencana. Semuanya tak berjalan sesuai format yang direncanakan.
Waktu itu Sabtu subuh tanggal 31 Januari, usia kehamilan 38 minggu 2 hari.  Ummi bangun untuk shalat subuh dan bercak darah kecoklatan itu mulai ada. Ummi merasa was-was dan curhat ke Abi, “Bagaimana ini Abi, tidak sakit tapi ada bercak darah kecoklatan?”. Akhirnya kami memutuskan menunggu sampe ada rasa nyeri muncul baru Abi pulang. Suamiku berkantor di Banjarmasin, sementara cutinya adalah tanggal 10 Februari karena tanggal perkiraan partusku adalah 18 Februari. 

Pukul 11.00 pagi, bercak darah kecoklatan mulai berwarna merah terang tapi belum berasa nyeri sama sekali. Tapi akhirnya Abi memutuskan untuk pulang. Booking  tiket jam 16.00.  Ummi kemudian SMS Ibu yang masih di kantor.  Setelah terlibat percakapan panjang kali lebar, akhirnya Ibu menyimpulkan saya kecapean. Pagi tadi ummi memang turun tangga sampe 10 kali. Pukul 14.00 bercak darah mulai banyak, pukul 15.00 Ibu diam-diam ke ibu bidan memberitahukan keadaanku, ibu bidan menelponku dan kuceritakan kronologisnya. Kesimpulannya sama seperti ibu, mungkin ummi kecapean.

Pukul 17.00, teman-teman SMA Ummi datang bertamu sekalian membawakan kain seragamku, kebetulan awal bulan depan ada sahabat kami yang akan melangsungkan pesta pernikahan. Waktu itu ummi sempat curhat ke mereka, karena salah satu dari mereka sudah punya anak. Ummi bahkan sempat dicontohkan cara mengejan yang baik versi dia ^_^.

Pukul 20.00, perutku tiba-tiba mules seperti mau datang bulan. Tapi ummi masih bisa nonton TV bareng Ibu. Pukul 20.30, mulesnya mulai berasa mengentak-entak tapi masih bisa kutahan dengan menyibukkan diri menelpon Abi. Pukul 21.00 bukan mules lagi tapi berasa Braxton hiss, nyeri. Pukul 22.00, sakitnya tambah nyeri, Abi menelpon dan memberitahu dia sudah start dari Makassar. Ummi mulai mencatat jedah antara sakitnya. Hasilnya hampir teratur 10-12 menit. Ibu menelpon ibu bidan lagi. Pukul 23.00 ummi mulai merefleksikan pikiranku dengan yang indah-indah, sakitnya makin menjadi-jadi, tidak kuhiraukan lagi dering telpon suamiku tapi anehnya ummi masih sempat chating di FB lewat hp, seolah-olah ummi tidak kesakitan. Pukul 00.15 ummi menyudahi menghitung jedah nyerinya, ummi sibuk menopang perutku yang berasa sakit.  Berkali-kali ibu menganjurkan untuk tidur karena katanya ummi butuh tenaga untuk mengejan nantinya, ummi diam saja. Tahukah engkau Ibu, hasratku untuk tidur tinggi sekali tapi sakit ini membuat mataku tidak bisa terpejamkan.

Pukul  03.20 kudengar suara Abi di ruang tamu berbicara dengan Ibu dan Bapak, sejenak hatiku terasa damai, Suamiku sudah datang. Pukul 04.00 Abi masuk kamar dan mengelus pundakku, mengecup dede dan memelukku dari belakang. Abi sudah datang sayang, begitu bisiknya. Airmata ummi langsung menganak sungai. Kugengam erat tangannya sambil menahan sakit, ummi berbisik lirih, “Sakit…..”. Abi mengusap kepala ummi dan melafalkan doa-doa.

Ahad 1 Februari, pukul 05.00, setelah menunaikan shalat subuh, Abi mengaji sambil mengelus perutku. Agak berasa lebih nyaman tapi masih tetap sakit. Pukul 06.10. ummi keluar kamar dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu, Abi mengikutiku berjalan dan memegangiku disamping mirip seperti asisten pribadi,  aku berhenti lalu meremas kedua tangan abi ketika hissnya datang. Ibu dan Bapak mengawasi dari jauh. Pukul 07.20 Ibu bidan menelponku, aku berbicara diantara jedah hiss dengan nada sebiasa mungkin. Ibu bidan memintaku untuk ke puskesmas. Abi buru-buru mandi, kemudian membantuku mempersiapkan diri, Ibu menyiapkan segala sesuatunya yang mungkin akan diperlukan disana. Abi sungkem minta maaf kepada Ibu dan Bapak, sementara aku hanya bisa menciumi tangan mereka lalu memeluk satu-satu sambil minta maaf dan mohon doanya untuk kelancaran persalinan. Ummi sudah tidak kuat untuk berjongkok dan sungkem lagi. "Bapak..Ibu maafkan dan ampuni dosa-dosaku"

Pukul 09.00,  bidan Ijok, 2 bidan asistennya dan beberapa orang mahasiswa sudah menungguku, Pukul 09.05 aku berbaring di ranjang bersalin untuk di VT (pemeriksaan untuk menilai persalinanku sudah masuk pembukaan berapa) untuk pertama kalinya, Jam dinding persis berada di hadapanku. Ruang persalinan bersih lengkap dengan kamar mandinya, ini salah satu alasanku memilih puskesmas karena kalau melahirkan di rumah sakit maka ibu-ibu yang akan melahirkan dijejer disitu. Dulu pengalaman kakak sulungku melahirkan di salah satu rumah sakit pemerintah di Makassar, berbanjar rapi seperti bangsal, teriakan para ibu membahana silih berganti. Kakakku ketika itu adalah orang yang pertama kali masuk ke kamar bersalin dan diapun yang paling akhir keluar dari kamar bersalin. Ketika samping tempat tidurnya berhasil melahirkan, kakak hanya memandangi dengan cemas. Jelas stresornya semakin meningkat.

Bidan Ijok lalu memperkenalkanku dengan bidan asistennya dan mahasiswa dan meminta kalau yang memimpin persalinan nanti dia sendiri, jadi mahasiswa tidak usah mengambil alih. Aku sedikit lega dan berterimakasih kepada ibu bidan. Bidan Ijo lalu melakukan pemeriksaan dalam. Ternyata VT itu benar-benar tidak nyaman dan sakit. Aku bayangkan mereka yang melahirkan dengan berapa kali pemeriksaan VT. Hasilnya aku masih pembukaan 1. Kudengar ibu bidan berbisik ke Ibu untuk tenang. “masih lama Bu, bisa jadi besok, tenangkanmiki dirita dulu, ke pasar miki dulu”. Aku mulai cemas sendiri, Ya Ampun masih lama, sakitnya sudah berasa maksimal, ditambah semalaman aku tidak tidur. 

Pukul 10.00, bidan Ilmi yang super duper sabar nan ayu hendak melakukan pemeriksaan dalam untuk kedua kalinya. Aku menolak mentah-mentah, tidak bicara hanya lewat lambaian tangan menolak. Sejak VT pertama aku seperti trauma menaiki ranjang bersalin. Aku terus mondar-mandir di dalam kamar bersalin dan skali-skali menyebrang ke ruang administrasi. Abi masih tetap berjalan seperti asistenku, tapi kali ini makin parah karena ketika hissnya datang aku tidak lagi meremas tangannya tapi mencakar tangannya. Dua orang mahasiswa ikut berjalan di belakangku bergantian mengepel bercak darah yang mengalir di kakiku. Pintu depan sengaja dikunci sesuai permintaanku ke bidan Ijok karena kondisiku saat itu tengah tak berhijab. Pukul 10.20, sakitnya makin menjadi-jadi, jedahnya sekarang 2menitan. Ibu sudah pulang dari pasar. Ibu dan Bapak duduk di ruangan administrasi, ibu berkali-kali menyodorkan aku nasi tapi tak kusentuh, kutolak dengan isyarat, aku akhirnya baru makan sedikit setelah diberikan barobbo. Ibu lalu memberiku madu. Pukul 10.40, aku mulai doyan ke kamar mandi. Bidan Ilmi menyuruh salah satu mahasiswa berjaga-jaga di depan kamar mandi. Pukul 10.50, aku mulai bersuara pelan dan bergumam sakit di depan Abi, Abi memandangiku iba dan mengelus kepalaku. Pukul 11.05 aku meminta Abi untuk memberitahukan bidan Ilmi aku mau di SC saja, sakitnya sudah tidak tertahankan lagi.

Bidan Ilmi datang dan memintaku di VT dulu tapi kutolak lagi. Bidan Ilmi lalu memberiku segelas air putih sambil terus memberiku semangat. pukul 11.10, jam dinding di kamar bersalin terasa berjalan lambat. Ibu dan Bapak mulai kasak kusuk masuk ke kamar bersalin menanyakan ini itu tapi kubalas dengan diam. Terlalu sakit untuk berbicara. Aku masih mempertahankan teknik refleksi pikiranku, sesekali mengelus perut dan bergumam, nak kapan kamu mau keluar sayang?. 11.15, abi makin sering melafalkan doa-doa kemudahan persalinan, sesekali aku mengikutinya. 11.20 Bidan Ilmi masuk lagi dan menawarkan untuk di VT dan kutolak lagi, maafkan aku bidan Ilmi. Pukul 11.25 emosiku mulai mengintip, aku menyuruh abi untuk memijat pundak, setelah itu pindah lagi ke punggung, setelah itu mulai marah-marah tidak karuan, cakaranku mulai tak terkontrol. 11.30, aku makin frustasi kenapa si dede belum mau keluar, berasa ada benda besar yang mau keluar tapi tertahan. Air mataku mulai menetes, Abi pun makin sering berbicara dengan dede. Aku berusaha memikirkan yang indah-indah, bagaimana nanti kalo anakku lahir dan mulai bisa bicara, belajar jalan dan seterusnya, agak sedikit berhasil.

Pukul 11.45 aku masih berjalan  mengitari kamar bersalin, terlalu sakit untuk berbaring di ranjang persalinan. Dua orang mahasiswa mengikuti kami dan membersihkan rembesan darahku di lantai. Betapa baiknya mereka. 11.50, ada semacam dorongan besar, kuat mengentak dari dalam. Tiba-tiba aku muntah, keringatku bercucuran. Aku memberi kode ke Abi untuk memanggil bidan. Segera bidan Ilmi memasang handscon. dan betapa kagetnya dia ketika mengetahui pembukaannya lengkap. Subhanallah sudah lengkap, aku tidak mendengar perkembangan pembukaannya tiba-tiba sudah lengkap (ya iyalahhh dirimu kagak mau di VT sih neng). “Rambutnya sudah keliatan…telpon bidan Ijok, siapkan pakaian baby, celemek bla..bla..”. Bidan Ilmi memberikan istruksi.  Aku sempat tersenyum melihat tingkat para bidan mondar mandir di hadapanku.

Kebetulan bidan Ijo baru pulang dari pasar dan baru sampai di rumahnya. Ibu menelpon Bapak yang kebetulan pulang ke rumah saat itu untuk menjemput ibu bidan di rumahnya, hp Bapak silent, ibu bergegas berlari ke rumah. Bidan Ilmi meminta Abi menyiapkan pakaian baby, Abi sibuk memperbaiki posisiku, aku sudah tidak kuat menggeser tubuhku lagi, aku mulai berkonsentrasi pada teknik nafas dalam, bidan yang lain membantu membongkar tas perlengkapan. Bidan Ilmi mengintip jendela kamar bersalin lalu berseru memanggil dokter bumi (dokter laki-laki) untuk membantu persalinan. Aku sempat berteriak, “tidak usah…tidak usah…ibu bidan saja yang pimpin persalinan”. Abi juga masih sempat memenuhi permintaanku dan meminta dokter bumi yang sudah siap masuk ke kamar bersalin untuk tidak usah membantu. Hehehe maafkan aku dok. 

Entah darimana, tiba-tiba bidan Ijok sudah menerobos masuk kamar bersalin. Bidan Ilmi segera bertindak sebagai asistennya, Abi dan dua orang mahasiswa menyokongku. Abi masih komat kamit berdoa dan aku mengaminkan. Ya Allah…Ya Rabb…Tuhan pemilik semesta, hari itu, jam itu aku menyerahkan urusan ini padaMu, nyawaku…hidupku…takdirku…sudah tertulis indah dalam diary ciptaanMu. Pukul 12.05, Bidan Ijok mulai memberi instruksi padaku tentang posisi dan step-step yang akan dilakukan.
Aku memejamkan mata dan mulai mengejan. Kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan,  UFFFHHHH…..1x. “Bagus” puji bidan Ijo.
 HUFHHHHH….2x. “Iya….., lagi Tuti”
Aku membuka mata, HUUUUUFFFHHH…3x dan langsung diikuti oleh tangisan dede.
“Laki-laki” seru bidan Ijok. Secepat kilat Dede langsung ditaruh di dadaku untuk IMD. Kupandangi wajah malaikat kecilku, anakku, putraku. “Assalamu’alaikum sayang”. Abi lalu mengazani. Bidan Ijok tersenyum padaku “Mantap..anak kedua Insha Allah lebih mantap lagi” ujarnya dan disambut gelak tawa bidan Ilmi. Semuanya berjalan cepat, alhasil pakaian pertamamu tidak sepasang nak, dan saat itu harusnya kamu tengah memakai topi baby tapi celana kacamata yang bertengger imut di kepalamu. Pukul 12.10 kamu lahir nak, bertepatan dengan azan Dzuhur di mesjid. 

Alhamdulillah…Alhamdulillah…Trimakasih atas karuniaMu Ya Rabb

Dua menit berikutnya plasentanya pun keluar. Bapak dan Ibu berhamburan masuk dan melihat kondisiku. Ibu menanyakan apakah plasentanya sudah keluar? Dan Bapak menanyakan jenis kelamin bayinya (Bapak memang tidak diberitahu hasil USG kehamilanku).
Bidan Ijo kemudian memanggil Abi untuk berdiri tepat di sampingnya ibu bidan. 
“Apa lagi ibu bidan?”tanyaku bego. 
“Dijahit dulu ya” katanya.
“Sakit itu??”tanyaku lebih bego lagi. Dari cerita orang-orang katanya dijahit pasca melahirkan itu lebih sakit ketimbang mengejannya 
“Pelan-pelan ibu bidan….”aku memasang muka nano-nano, takut,cemas, menolak tapi mau tidak mau harus terima etc. membingungkan!!
Bidan Ijok sempat menggodaku. Dengan mencubit pahaku dan spontan aku berteriak sakit…sakit ibu bidan. Abi ikutan tersenyum. Padahal proses hecting belum dimulai. Nanti pada saat bidan Ijok tengah melakukan hecting, baru bertanya “Sakit tidak?”
“Belum mulai toh ibu bidan”tanyaku. Abi tersenyum simpul dan menyapu kepalaku
“Iya belum”jawab bidan Ijok
“Mulai saja ibu bidan, saya pasrah” aku menutup mata sambil membelai rambut Dede. Tapi kali ini dua orang mahasiswa dan bidan Ilmi malah tertawa
“Sudah selesai” kata bidan Ijok
“Heh”$%#$%#^*
“Ummi hebat”ujar Abi
Rasanya seperti benang layangan yang bergeser pelan di paha. Selebihnya Alhamdulillah tidak sakit. Aku tersenyum lebar dan mengusap kepala dede yang masih dalam dekapanku
Menit berikutnya mereka membersihkan peralatan, mengalasi bokongku dengan pembalut persegi super duper gede bin lebar. Setelah itu mereka meminta ijin untuk mengambil dede dulu, diukur berat dan tingginya.

Abi keluar menemui ibu dan bapak. Belakang aku tau kalau mereka sujud syukur berjamaah di luar. Mereka lalu menemuiku, menanyakan kondisiku. Aku tersenyum lega. Setengah jam kemudian aku sudah di kamar. Jalanku sudah kayak bebek, tapi perasaanku plong seketika. Dede sudah tertidur pulas dalam dekapanku. Dua jam kemudian, Abi sudah sibuk mengelus sambil ketawa ketiwi tidak jelas memandangi anaknya, aku sibuk bercerita dengan ibu dan para mahasiswa tentang pengalamanku dalam kamar bersalin. Puas bercerita dengan ibu dan mahasiswa, aku lalu mengabari sahabat-sahabatku tentang kabar persalinanaku lewat sosmed. Aku sibuk menerima telpon, balas sms, dll. Ibu bidan sampai harus mengingatkan untuk istrahat. Aku hanya berbaring telentang lalu bercakap bertiga dengan Abi dan Dede. Kantuk semalaman entah menguap kemana. Belakangan aku tau jawabannya, kantukku menguap ke Dede, bayi mungil itu tertidur pulas. Kami bergantian mengecup keningmu Nak.

Anakku sayang, akhirnya kamu datang pada kami. Akhirnya kami bisa melihat rupamu. Kamu hadir 
di awal februari, dan memberikan status baru pada kami. Abi…Ummi. Anakku, Abi dan Ummi sayang dede….

Malam itu kami tidur telat, terlalu sibuk memandangi wajahmu yang tidak membosankan nak^_^
Anakku trimakasih telah datang dalam proses yang demikian indah ini.
Trimakasih telah mengubah Kamu dan Aku lalu melengkapkannya menjadi KAMI. keluarga kecil kami
bahkan sarung khusus buatmu pun nda kepake nak #edisiburuburu

Rabu, 14 Januari 2015

Dede...kamu tangguh^^

Assalamu’alaikum Ummi, Assalamu’alaikum dede cakep….
Waalaikumsalam Abi sipit^__^
Kita bertiga terbiasa dengan sapaan seperti itu di telpon. Hal –hal yang unik yang mungkin orang lain menilai ‘gila’ atau lucu, pelan-pelan kita anggap wajar. Kerap berbicara dan bercanda bertiga, atau sekedar mendekatkan hp ke perut dan mendengar Abi menyanyi lagu nina bobo, mengaji selepas shalat atau bertanya ini dan itu sama dede.

34 week
Apa kabarmu malaikat kecilku??
Ini bulan januari di tahun 2015, pertanda Abi dan Ummipun sudah setahun menikah. Sudah setahun menyandang predikat suami istri sejak 9 Januari 2014 yang lalu. Awal bulan yang penuh deras hujan dan angin. Makassar berlimpah air.
Enrekang, 090114


Assalamu’alaikum ummi…
Happy anniversary istriku sayang
Smoga perjalanan keluarga kita ke depan semakin baik dan semakin bahagia, aamiin
Abi sangat berterimakasih kasih atas kesabaran Ummi menerima segala kekurangan abi selama setahun ini, semoga keluarga kecil yang kita bangun senantiasa di ridhoi Allah SWT dan Insha Allah jadi keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah
Aamiin

Waalaikum salam,…aamiin
Trimakasih sudah mau menanggung Ummi sebagai beban abi slama satu tahun ini. Ummi belajar banyak hal dari Abi dan bersyukur punya suami setenang dan sesabar Abi. Smoga ke depannya limpahan rahmat dan karunia Allah slalu menyertai keluarga kecil kita.
Maaf untuk sgala khilaf dan kekurangan Ummi
Love you Abi^^

Heheheh…Ummi tau  dan sadar nak, kehidupan rumah tangga itu tidak selalu bahagia, ada masanya kita diuji, dan semoga ketika masa itu datang, Abi dan Ummi bisa bersikap bijak menghadapinya.  Abi dan Ummi hanya bisa berdoa, apa yang telah kami bina selama setahun ini selalu mendapat Ridho Allah SWT. Setahun perjalanan kami ini, smoga bernilai ibadah di hadapanNya. Aamiin

Anakku sayang
Usiamu dalam kandungan sekarang memasuki bulan 8. Bulan yang sangat fantastic untuk Ummi. Selama memasuki trimester ketiga sangat banyak perubahan yang terjadi dalam diri Ummi. Sekarang beratmu sudah 2,3 kg. Naik dua kali lipat dari BBmu bulan lalu. Ummi sedih ketika mendengar berat badanmu adalah berat minimal saat 7 bulan, 1,1kg. Tapi bulan ini Abi dan Ummi bisa sedikit lega ketika tahu keadaanmu. Abi dan Ummi bisa menontonmu bergaya di layar monitor lagi. Posisimu mantap dengan kepala di bawah, smoga seterusnya bisa bertahan seperti itu hingga kamu dilahirkan nak. Plasenta dan air ketuban bagus, semuanya normal. Alhamdulillah.

Abi lalu curcol ke dokter Amel, katanya Ummi sekarang sudah rewel, kakinya sakit-sakit, punggungnya sakitlah, pusinglah bla bla. Dokter Amel menjawab dengan teladen, bahwa itu adalah suatu kondisi normal terjadi bagi ibu hamil 8 bulan seperti Ummi. Maklum Nak, Abimu itu lulusan teknik bukan anak kesehatan, jadi wajar kalau dia khawatir berlebihan.

Sebulan ini, kamu mengajarkanku dan membuatku menjadi sosok beda dari bulan-bulan sebelumnya. Ketika trimester 1 dan 2 Ummi lewati dengan bejibun aktivitas tanpa ada keluhan. Sekarang kondisi Ummi berbeda. Ummi mulai meringis di malam hari karna kaki Ummi sakit, Ummi tiba-tiba merasa mual muntah di pagi hari dan berasa enakan ketika minum air kelapa, Ummi gampang skali terserang rasa ngatuk di pagi hari, Insomnia Ummi makin parah, haluaran urin juga makin sering, Punggung Ummi mulai berasa sakit, jalan Ummipun sudah tidak segesit dulu lagi, ketika berdiri dari dudukpun Ummi harus punya kuda2 mantap atau patokan mantap baru bisa berdiri, tidak bisa seperti dulu, mau duduk, berdiri atau berlari kecil hayuk aja. Enak kalau Abi ada disini, bisa bantu berdiri tapi kalau tidak ada, wuaaahhh kudu mandiri nak.

Ummi juga minta maaf memasuki bulan 8 ini, Ummi terjatuh di kamar mandi, waktu itu sambil nangis-nangis Ummi menunggu gerakan tendanganmu, setelah beberapa lama tendanganmu baru bisa kurasakan, Ummi baru bisa lega. Ummi tidak ingin ada sesuatu terjadi padamu nak. Kali lain Ummi akan selalu berhati-hati. Pernah juga kami terpaksa membuatmu kedinginan karena kehujanan di jalanan. Waktu itu Ummi dan Abi habis kontrol di dokter Amel, pulangnya Ummi pengen makan surabi jadinya kami nangkring di penjual surabi selama sejam. Al hasil balik dari sana, kami kehujanan. Pernah juga saat pulang dari toko bayi ketika membeli perlengkapannya dede, ban motor Abi pecah, Abi dan Ummi juga kehujanan. Kita berdua menerjang hujan saja karena saat itu perut Ummi mendadak sakit, pengen cepat-cepat sampai di rumah untuk istrahat. Ummi minta maaf nak. Kelak setelah kamu lahir jadilah anak saleh anakku, doakan Abi dan Ummi selalu murah rejeki, supaya nanti bisa beli mobil, supaya kita bisa jalan-jalan tanpa kehujanan, aamiin ^___^

Bulan 8 usia kandungan ini memang berasa beda. Dibilang sakit memang iya nak. Ummi jadi sadar, begini ternyata perjuangan seorang ibu kepada anaknya. Ummi bersyukur kamu adalah malaikat kecilku yang tangguh. Bulan ini kita berdua berhasil menyelesaikan program residensi ummi dan juga menyusun laporan lengkapnya. Terimakasih untukmu anakku yang memberi kesempatan Ummi dengan segala keterbatasan kita. Ummi yang berjuang sendiri dan harus menetap sendirian lagi di Makassar demi menyelesaikan semuanya. Terkadang bulir itu mengalir, tapi perlahan aku sadar, seorang anak yang aku kandung kelak harus tumbuh jadi anak yang tangguh. Setangguh apa yang telah kamu berikan kepada Ummi, setangguh kesabaranmu menemani Ummi. Aku sangat mencintaimu nak. Sudah berbulan-bulan, dede jadi teman curhat Ummi berbagi kisah. Entah kamu bisa mencerna, tapi Ummi merasa lebih lega bercerita denganmu.

Menjadi seorang istri yang tinggal berjauhan dengan suami adalah sebuah konsekuensi berat bagi seorang ibu hamil, apalagi hamil besar seperti Ummi. Tapi satu yang harus aku pahami nak. Ummi tidak boleh patah semangat, Ummi tidak boleh manja ataupun rewel, demi psikologis Ummi, Dede dan Abi nun jauh disana. Memang ada banyak hal yang perlu di khawatirkan ketika kami terpisah jarak, apalagi Ummi masih mobile Enrekang-Makassar sendirian, tapi ada yang kuasa di atas segalanya. Ummi percaya, kekuatan Allah lebih dari apapun. Mari berdoa, smoga kita slalu dalam lindungannya. Ummi sayang Abi dan dede…

Oh iya dede, bulan ini Ummi dan Abipun sudah menyiapkan perlengkapan kamu nak. Ketika Abi datang ke Makassar, kami berdua menyempatkan diri membeli perlengkapan baby. Tau tidak, yang paling girang waktu itu adalah Abimu. Apa lagi yang kurang Ummi??Kalau ini bagaimana??Yang ini juga bagus sambil senyum-senyum tidak jelas. Bahkan ada adegan dimana seorang ibu memilih baju bayi laki-laki dan Abi memandanginya dengan mupeng, katanya abi juga pengen beli yang itu buat dede, tapi sayang sudah keduluan sama ibu tadi. “Keren bajunya ummi, pasti dede suka nanti itu, keren sekalii” begitu  bisiknya sama Ummi. “Ya mau bagaimana lagi, sudah keduluan orang”. Hmm…jadi penasaran, sperti apa baju yang keren versi abi itu ya??
hasil pencarian hari pertama^^

nambah koleksi lagi kita nak^^

kalo abi ngebet banget sama baju bola, ummi seneng skali sama cupluk

Anakku…
Tetaplah jadi anak yang tangguh, sebentar lagi kita berjumpa. Bulan depan, bulan Februari kita bertiga akan sampai pada moment saling merangkul penuh cita, saling melempar senyum bahagia. Bulan depan, tangan kecilmu akan bertemu dengan tangan kami berdua, wajah mungilmu akan menghiasi hari-hari kami, tangismu akan mewarnai hidup kami. Akh..Ummi ketika menulis cerita ini perlahan menitikkan air mata, Ummi kangen kamu nak. Yang sehat di dalam sana Nak, yang kuat. Semoga Allah selalu melimpahkan kekuatan kepada kita hingga hari itu tiba, dan semoga ketika hari itu tiba kita berdua dalam keadaan baik-baik saja. Ummi mencintaimu karena Allah, malaikat kecilku.


Jumat, 05 Desember 2014

2/3 sudah lewat anak saleh^_^



Mungkin semua sepakat dengan kalimat kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah…
Tapi tak semua orang dapat memaknai mendalam semuanya….

Assalamu’alaikum malaikat kecilku…
Dede dan Ummi sudah berhasil melewati 2/3 masamu dalam kandungan. Anakku sayang….kita sekarang masuk ke dalam fase trimester 3 namanya. Kamu makin besar, nak. Alhamdulillah Allah memberikan nikmat kesehatan kepada kita berdua. Kata teman-teman ummi, kamu anak yang besar di jalan. Perjalanan Enrekang-Makassar yang tak bisa dikatergorikan dekat kerap kita jalani.
Bahkan minggu lalu Ummi dan Abi, melancong ke Enrekang-Makkassar-Sinjai-Makassar-Enrekang dan mengurus persiapan workshop Ummi di Rumah Sakit. Candaaan kita bertiga selalu ada, meski kita sibuk nak. Terkadang Ummi dan Abi menyapamu lewat colekan dan mengajakmu berbincang-bincang. Belum ada balasan darimu, tapi tendanganmu sebagai jawaban dari pertanyaan kami sejak dari dulu kami anggap sebagai cara kita berkomunikasi. Dan ajaib, ketika kami tanya, dede selalu menjawab dengan tendangan dan itu kami kategorikan dengan ‘iya’. Yang lucu adalah, Abimu pernah bertanya, “Abi berjiwa muda nda nak?” terus Ummi  nyeletuk “Tidak, kolot”. Abi mengulang pertanyaannya dan kamu menjawab dengan satu tendangan keras, wuiihhhhh bisa kamu bayangkan nak…Abi  cengengesan tidak jelas.
Kamu telah memberikan kebahagiaan pada kami bahkan ketika ragamu belum hadir di dunia ini, kamu membuat banyak alur kisah seru di antara kami berdua.

Usiamu kini memasuki 7 bulan nak, dan berat badan Ummi sudah naik 13 kg. Tapi sayangnya bulan ini beratmu hanya berat nominal 1,1 kg beda dengan bulan kemarin. Tapi kata dokter, Dede sehat, plasentanyanya juga bagus dan posisimu mantap di dalam sana. Abi dan Ummi bersyukur mendengarnya. Alhamdulillah….

Ummi akan flash back ceritakan kondisimu ya nak. 2 bulan lalu….Waktu itu, Abi sudah kembali ke Banjarmasin dan Ummi harus periksa ke dokter untuk pertama kalinya tanpa ditemani Abi. Kali ini, Ummi ditemani sahabat Ummi sejak TK, namanya Sita. Ammah Sita bermaksud memeriksakan kandungannya juga karena sudah 2 minggu telat haid. Ummi dan Abi menikah di  bulan januari, sementara Ammah Sita menikah bulan April, tapi sayangnya dari hasil USG, belum terlihat apa-apa disana. Kami berdua menunggu antrian di RS Awal Bros, nagh ketika itu Dede melakukan atraksinya yang pertama kali. Ummi pikir hp Ummi yang bergetar, ternyata loncakan kuat itu dari dalam perut Ummi, Dede yang menendang. Untuk pertama kalinya, dan mulai saat itu Ummi merasa ummi adalah wanita yang benar-benar sedang hamil. Subhanallah…

Bulan ke 6 mu pun tiba nak. Kali ini lagi-lagi jadwal konsul ke dokter tidak bertepatan dengan kedatangan Abi dari Banjarmasin. Kali ini Ummi ditemani sahabat Ummi lagi. Namanya Ammah Nuni, dokter juga nak…tapi Ammah Nuni seorang dokter gigi. Nanti kalo Dede besar, mau jadi dokter???atau mau jadi apa??Akh apapun itu yang penting berguna bagi agama, bangsa dan membuat orang tua bangga, Ummi dan Abi Insya Allah support anakku. Ada kejadian lucu juga dipemeriksaan kali ini. Abi minta ke Ummi untuk tidak menutup telponnya, Abi juga ingin dengar langsung dari dokter hasil konsul kali ini. Ternyata di Banjarmasin sana, Abi sudah menyepi dalam kamar, siap dengan baju koko dan pecinya sambil berdoa dalam-dalam. Kali ini agenda USGnya melihat jenis kelaminnya dede, apakah dede laki-laki atau perempuan. Kami berdua berharap kamu laki-laki nak, agar nantinya bisa melindungi adiik-adikmu, tapi jikalau Allah memberi perempuan, Ummi dan Abi tetap bersyukur. Karena anak adalah anugerah, banyak orang-orang di luar sana yang pengen merasakan namaya mengandung, tapi Allah belum memberinya.
“Jenis kelaminnya apa dok” tanyaku ke dokter Amel
Dokter Amel tampak sigap mencari jenis kelaminmu, terlebih dahulu dokter Amel mengukur berat badanmu dan memperdengarkan detak jantungmu. Di ending ritualnya, dokter Amel berucap lirih. “Ya Ampun, pahanya di jepit, masih malu-malu ya nak sama mamanya”
Yaaa….kali ini belum bisa mengetahui jenis kelaminnmu nak, sabaarrr….
Tapi ada berita gembira sayang…Ammah Sita ternyata sudah positif hamil, usia kandungannya saat ini adalah 5 minggu. Dede dan anaknya Ammah Sita seangkatan ya???sama seperti kami nak. ^___^

Tiba bulan ketujuh, Alhamdulillah kedatangan Abi bertepatan dengan waktu control. Hari itu, kita bertiga baru sampai di Makassar, kita habis melancong ke rumah kakek nenek di sinjai. Akhirnya kami bisa melihatmu lagi berdua. Kalau biasanya abi ikut memandangi layar monitor USG sambil duduk, kali ini Abi berdiri, ekspresi wajahnya kaku dan penasaran. Sesekali memijat kaki Ummi yang sama sekali tidak sakit dan melemparkan senyumannya tak lupa matanya yang tinggal segaris.
“Jenis kelaminnya apa dok?”tanyaku seperti bulan lalu
“Sabar ya…tunggu ya…”dokter Amel mulai mencari-cari
Posisimu sekarang sudah bagus nak, kepalanya dede yang ada di bawah. Semoga bulan berikutnya sampai kamu dilahirkan posisimu bertahan seperti itu ya nak ya…
“Bagaimana dok?”ulangku lagi, Abi mulai tidak sabaran
“Ayo nak, jangan malu-malu, kita mau liat jenis kelaminnya” dokter Amel berusaha bernegoisasi dengan dede. Sampai akhirnya detik berikutnya “Nagh…keluarmi pistolnya, laki-laki”
Abi spontan memencet kakiku dan tersenyum gembira
“Wah selamat pak, sudah ada temannya nanti. Nanti berikutnya semoga ibunya yang punya teman juga ya”
Whattt????? satu saja belum kelar dokter…
USG dede hafizh umur 7 bulan

Alhamdulillah…Alhamdulillah…trimakasih untuk segala nikmatMu Ya Rabb,
Dan sejak itu, kami memanggilmu Dede cakep hafizh. Dan sejak itu pula, pagi Ummi selalu dibuka dengan sapaan “Assalamu’alaikum Ummi…Assalamu’alaikum dede cakep?” Dan kita menjawab “Waalaikumsalam abi sipit” heheheheh

EId milad Ummi_18 november
Abi brewok hehehe

Enrekang, kampung halaman Ummi ^^

Kamu ada dititipkan di janin ini, bersama milyaran kebahagian dalam kehidupan kami
Kamu ada berdetak bersama jantung ini, memberi detakan beda pada fase hidupku
Anakku sayang,
Kamu adalah dimensi dimana kami berdua belajar tentang sebuah kesyukuran
Malaikat kecilku yang semakin dekat dalam dekapan…

Abi dan Ummi kembali ke rutinitas masing-masing. Abi balik ke Banjarmasin untuk bekerja setelah 2 minggu bersama-sama kita berdua. Dede cakep temani Ummi menyelesaikan program residensi ya…Oh iya, perlu kamu tahu nak, kamu itu anak yang tangguh. Menemani Ummi kemanapun itu, tidak rewel dan jago makan.Terimakasih Nak.

Senin, 15 September 2014

Assalamu'alaikum dede...^_^

Assalamu'alaikum saleh salehaa....
Ini Ummi, nak....apa kabarmu di sana??
Betapa aku ingin mengatakan aku mencintaimu, menyayangimu...merindukanmu...
Abi dan Ummi...selalu menunggu kehadiranmu...

Kami mengetahui keberadaanmu, ketika kamu berumur sekitar 5 minggu, waktu itu Abi datang dari Kalimantan, Ummi memang sudah telat haid 9 hari. Bahkan sebulan sebelumnya, mungkin pada saat itu umur kamu masih 2 minggu nak, Abi dan Ummi sudah ada keyakinan bahwa kamu ada. Waktu itu akhir pekan, sabtu pagi sebelum shalat subuh. Ummi menampung urine pagi pertama, dan test pack. Ummi duduk di kursi dan Abipu berdiri tepat di belakang Ummi, memegang pundak Ummi. Aku pandangi sejenak wajahnya...Akh...orang yang sangat menantikan kehadiranmu adalah abimu nak, lebih...melebihi keinginan Ummi, dan Itu terpancar dari binar matanya ketika garis dua sejajar berwarna merah dengan jelas tertera di hasil test pack . Euforianya mengembang jelas, ketika kukatakan dengan pelan kalau aku 'positif'. Abimu mengacungkan tinjunya ke udara dan lekas sujud syukur, dan aku masih terpaku dengan test pack. Rasanya tidak percaya,...I'm pregnan now...Ya Rabbi...
Aku berucap alhamdulillah dengan lirih, aku sendiri tidak tau apa aku benar-benar bahagia saat itu nak. Masih ambigu, di dalam kepalaku berentet ketakutan yang belakangan aku sadari, hal itu sama sekali tak beralasan. Aku membayangkan, Ummi...harus berangkat ke kantor, dan kuliah. Setiap harinya Ummi harus bolak-balik rumah, kantor, kampus, kantor, rumah..dan ketiga tempat itu jaraknya tidak dekat nak. Setelah sujud syukur, Abi mengecup kening Ummi, kedua pipi Ummi...mengusap kepala Ummi, entah berapa kali banyaknya...sambil memamerkan matanya yang terbenam di dalam kelopak matanya. Begitulah Abimu, ketika tertawa,..akan di dapati hanya segaris matanya yang nampak, sipit stadium akut ^_^
"Abi...jangan bilang siapa2 dulu" bisikku, dan Abi mengangguk kuat

Esok harinya, Abi dan Ummi berangkat liburan ke Banjarmasin. Kalau di ajak traveling Ummi kadang lupa diri nak. Abi harus berkali-kali mengingatkan 'hati-hati' kalau Ummi tiba2 berlari exited dengan hal baru di Banjarmasin. Seminggu kemudian, Abi membujuk untuk memeriksakanmu ke dokter. Sebenarnya Ummi waktu itu, mengiyakan setengah hati. Ada semacam rasa tidak percaya kalau aku hamil, ada rasa takut, campur aduk, apalagi harus diperiksa untuk pertama kali dengan dokter bukan di wilayah Makassar. Dengan berat hati ku'iya'kan ajakan Abi. Sabtu Malam, kami berangkat ke dokter. Dokter Rahayu namanya, dokternya lembut, ayu seperti namanya, cantik. Dokter Rahayu mengucapkan selamat kepada kami berdua, kami duduk mematung dan dia tersenyum simpul. 'Ini anak pertamanya kan?', kami mengangguk bersamaan. Aku pertama kali melihat kantung janinmu di USG nak, Abi menggeggam tanganku kuat, aku bisa merasakan riak senang di binar matanya. Usia kandungan Ummi saat itu adalah 6 minggu 3 hari.
Ini vitamin pertama yang Ummi minum
Selepas dari dokter, Ummi dan Abi saling berebut menyimpan hasil USGmu, sampai akhirnya USGmu hilang entah kemana. mungkin itu jawaban supaya adil, Ummi lupa request ke dokter Rahayu untuk di buatkan dua ^_^
Dan akhirnya Ummipun mulai merasakan yang namanya morning sick. Rasa lemah letih lesu, tidak selera makan. Ya Allah, sunggu tidak mengenakkan nak. Terbayang rasanya ketika Ummi di kandung nenek, begini ya rasanya. Pernah suatu ketika, tengah malam di banjarmasin, Ummi pengen makan ayam bakar wong Solo, dengan semangat Abi nancap gas buat cari. Begitu sampai di rumah, Abi membuka penutup makanan dan mempersilahkan Ummi mencicipinya, sontak Ummi muntah. Pernah juga suatu ketika, Ummi ingin makan soto ayam, tapi ternyata tidak mau masuk ke perut, Pernah Ummi merasa sangat lapar sampai tidak bertenaga tapi tidak ada satupun yang enak di pandang mata. Waktu itu, Abi yang memang jago masak, memasakkan makanan kesukaan Ummi. Bikin barobbo, bikin racca mangga, bikin udang goreng tepung, tapi Ummi hanya icip sedikit langsung di muntahkan. Tidur tidak nyenyak, dan air mata ngalir terus tanpa alasan. Abi akan begadang menunggui Ummi ketika tidak bisa tidur dan mengusap kepala Ummi. Saat itu, Ummi berpikir untuk menukar nasib ini dengannya, toh Abi lebih kuat dari Ummi. Terbayang nantinya pulang ke Makassar dan kembali hidup sendiri. Ummi harus mengatasi sendiri ketika sakit dan rasa tidak enak itu datang. Ya Allah...tolong hamba. Rasa saat itu benar-benar sengsara...

Sampai pada titik jenuh,  Abi mengajak shalat tahajud. Dalam shalat kami mengadu, menangis...aku tidak tau lagi harus bagaimana. Dan, Ajaib!!! keesokan harinya, aku merengek minta di antar ke pasar buat beli ini itu. Betapa bahagianya Abi. Ummi masak banyak, kebetulan esoknya adalah Ramadhan. Ummi dan Abi berpuasa. Ummi dengan keadaan morning sick  hanya 4 hari saja. Semua atas kuasaNya. Banyak orang yang bertanya 'resepnya apa?' aku hanya jawab, minta saja sama Yang Diatas, atau terkadang aku jawab becanda 'berguru pada suamiku' heheheh

Dan tiba akhirnya Ummi harus ke Makassar. Sulit rasanya berpisah dengan Abi. Abi harus kerja di banjarmasin, dan Ummi juga harus kerja dan kuliah di Makassar. 
Bulan berikutnya, Abi datang lagi, dan kembali mengajak Ummi kontrol di dokter. Untuk pertama kalinya Ummi memeriksakan kandungan di dokter di Makassar. Nama dokter Ummi kali ini adalah Amaliah Abdullah. Dokternya pintar, dia akan dengan senang hati menjelaskan tiap pertanyaan yang Ummi ajukan. Waktu itu usia kandungan Ummi 11 minggu 4 hari. Kamu mulai terlihat di layar USG, kata dokter Amel, anaknya lincah selincah Ibunya. Ummi dan Abi tersenyum. dokter Amel menyampaikan rasa senangnya karna Ummi tidak mual muntah dan tetap semangat beraktivitas. Ummipun bersyukur sekali dengan kekuatan yang diberikan Allah. Dengan tubuh semungil ini, Ummi bisa bersamamu nak dengan keadaan baik-baik saja.

USGmu nak, 11w4d

folamil genio dan calsium
 Ketika umurmu 12 minggu. Ummi dan Abi mudik ke Enrekang untuk lebaran idul fitri. Dan pada saat itulah Ummi dan Abi mengabarkan berita itu ke Ibu dan Bapak. Lalu menelpon Mama dan Papa di Sinjai untuk mengabarkan berita ini. Walaupun reaksi Ibu awalnya memandangiku iba ketika tau aku hamil, Ummi tau....Yang ada di kepala beliau adalah semata-mata mengkhawatirkan keadaanku. hidup sendiri di Makassar, dengan aktivitas yang melelahkan, untuk anak pertama yang sebelumnya belum ada pengalaman mengandung. Tapi hari-hariku baik-baik saja, bahkan nafsu makanku meningkat, Ibu sedikit lega melihat itu. Ibu bahkan meneteskan air mata ketika melihatku lahap makan. Ibu...aku baik-baik saja.....

Bulan berikutnya, selepas Idul Fitri, Abi datang lagi ke Makassar. Dan kami berdua kembali kontrol. Kali ini kami berdua semangat skali. Abi dan Ummi senang sekali bisa melihat kamu lagi di layar, kamu sehat. sudah ada kaki, mata, telinga. denyut jantungmu sudah terdengar. Ummi menitikkan air mata mendengar bunyi jantungmu nak. Rasa tidak percaya, senang, dan haru mengetahui ada kamu di perut Ummi. Yang sehat nak,,,Abi dan Ummi sayang dede.... Terimakasih Rabb atas anugrah terindah ini. 
Dokter Amel memintaku menceritakan keseharianku selepas pemeriksaan pertama hingga yang kedua, lalu meresepkan obat. dan menjadwalkan kunjungan berikutnya. dokter Amel bilang mungkin sekitar 2 minggu, si dedenya sudah mulai terasa tendangannya.
umur dede 17w4d
dokter Amel mengganti vitamin Ummi kali ini
Hari ini umurmu, 18 minggu 2 hari nak. dan goyanganmu sudah Ummi rasakan sejak satu pekan terakhir. Kadang kamu serasa bergoyang ketika Ummi tertawa lepas. Ummi dan Abi kerap mengajakmu bercakap-cakap nak, mengenalkanmu dengan dunia meski secara kasat mata, kamu belum melihatnya. Anakku...terimakasih untuk kehadiranmu, Abi dan Ummi selalu menunggumu...

Ada banyak pengalaman seru bersamamu nak. Tentang kisah-kisah lucu imut yang mendadak jadi pikun kelas akut.Tentang perjalanan berkendaraan, saat Abi harus berjalan pelan karna begitu mengkhawatirkan dirimu sementara Ummi tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya. Tentang wajah Abi yang begitu semangat kalau Ummi minta di belikan sesuatu. 'Mau makan apalagi sayang?' begitu katanya. Tentang kebiasaan Ummi yang senang beradu tinju dengan Abi (semoga kamu laki-laki, nak) Akh begitu banyak pengalaman seru yang ada karena kamu ada, anakku...
Tumbuhlah dengan sehat disana, agar rindu Abi dan Ummi terbayar dengan menyambut kelahiranmu kelak. Yang Sehat Nak, yang kuat..Aamiin Ya Rabb