Minggu, 13 November 2016

Hidup berpindah….mencoba menemukan kepingan puzzel


Sudah berlalu 3 pekan ketika saya menulis dengan berapi-api bahwa saya memilih jurusan ilmu kesabaran di universitas kehidupan ini. Lalu di sodorkan pertanyaan apakah akan merubahnya. Dan sampai detik ini saya masih ingin dan tertarik mendalami jauh dan merubah sikap untuk sabar. 3 pekan bergelut dengan matrikulasi membuat saya sedikit terbantu mendalaminya. Ketika saya sudah bisa mengontrol lebih jauh sikap sabar saya. Maka saya merasa lebih enjoy beriringan dengan ilmu lainnya. Selama ini ketika saya mendalami sesuatu karena tidak sabar bisa jadi kacau, atau karena tidak sabar bisa menjadi tidak konsisten. Alhamdulillah dengan lembar check list bisa sedikit terbantu. Jalan pemikiran saya lebih terkontrol karena dapat melihat langsung hasil. Dengan begitu saya terpacu untuk lebih konsisten dan pada akhirnya akan lebih meningkatkan kemampuan, tentunya dengan lecutan check list yang belum selesai agar dapat terselesaikan dan dilabeli keistiqomahan.

Berbicara tentang lembar check list yang telah saya ramu di NHW 2. Alhamdulillah saya mulai mengisinya, kategori sebagai makhluk individu, sebagai istri dan sebagai seorang Ibu akumulasi keseluruhan berada di range 40-60%, akan tetapi tetap saya revisi hingga lebih measurable. Dan jawaban sementara untuk projeck kehidupan saya ini adalah. Terus terang hingga 2 pekan berlalu saya menulisnya, pada detik ini bentukannya masih dalam bentuk lembaran kertas, belum saya print. Dan pekan yang lalu, ketika selesai menyetor NHW saya berpikir untuk memindahkannya di lembar yang lebih besar dan menempelnya di kamar kami. Dengan tujuan agar saya dan suami bisa melihat. Terkhusus buat saya bisa menjadi reminder ketika kertas A4 yang beirisi lembar-lembar ceklist terlupakan di beberapa tempelan yang lebarnya sama. Maka kertas yang lebih besar semoga bisa menjadi jawabannya. Saya berencana pekan ini membuatnya dengan kertas karton besar, menempelnya. Dengan begitu kesabaran sayapun bisa terlatih karena indikatornya bisa terlihat jelas, bahkan ketika saya sementara mengeloni anak, Insya Allah akan jadi cambuk untuk terus memantaskan diri. Dan ketika sudah lebih konsisten, saya akan mengcopi paste ke lembaran yang lebih kecil. Terkhusus lagi tempelan kertas karton warna warni yang lebih besar bisa langsung di lihat Pak su. Jadinya saya bisa dapat suntikan semangat.
  
Sementara mengisi dan membenahi lembar karton NHW2. Mari beranjak ke NHW3 yang mengharu biru. Terus terang ketika membaca review pekan lalu saya menitikkan air mata. Sang Penguasa benar-benar selalu punya cara indah untuk menegur hambanya. Dengan begitu saya dan suami mencoba merumuskan misi spesifik saya.
Misi hidup:
  1. Membangun keluarga dengan Al Qur’an sebagai pedoman, Rasulullah SAW sebagai suri tauladan
  2. Memiliki anak-anak yang mencintai agama dan hafal Al Qur’an
  3.  Menjadi salah satu tenaga pengajar bidang keperawatan
  4. Menjadi salah satu tenaga pengajar untuk anak-anak mengaji di kompleks perumahan
  5. Membentuk kelas sabtu pagi (hari libur) dengan konsep belajar sambil bermain untuk anak-anak di kompleks perumahan.
Peran: Individu, istri dan ibu dalam keluarga yang berlandaskan Islam, tenaga pengajar yang bisa dengan sabar mentrasfer ilmu yang dimilikinya kepada mahasiswa, anak-anak langgar dan anak-anak balita yang fitrahnya adalah bermain dan tentunya diperlukan kesabaran dalam menghandle semuanya
  1. Untuk misi pertama, saya berusaha menambah ilmu dari hasil belajar di liqo ataupun tarbiyah ketika masih single, dan memadukannya dengan suami ketika sudah berstatus menikah. Menambah lewat referensi dan mengikuti seminar, pengajian dll.
  2. Keinginan memiliki anak-anak yang hafal Al Qur’an ada sejak saya belum menikah. Hingga saat ini saya berusaha menghadirkan murottal di sudut rumah kami, baik itu dari saya sendiri, murottal dari suami sendiri ataupun dari media edukasi lainnya.
  3. Karena disiplin ilmu saya adalah kesehatan, dan saya pernah menjalani sebagai tenaga pengajar di sebuah akademi keperawatan. Maka saya ingin kembali berkecimpung di dunia tersebut. Tenaga perawat adalah kaum mayoritas di dalam instansi Rumah Sakit, akan tetapi sering menjadi barang ‘keterbelakangan’. Melalui penguatan ilmu dibidangnya, saya harap tenaga perawat bisa bermitra dengan dokter dan tidak dianggap sebelah mata
  4. Insya Allah tahun depan, ketika hunian pribadi kami yang sekarang dalam tahap pengerjaan telah selesai. Saya ingin mengajar ngaji untuk anak-anak kompleks. Yang menurut survey saya dan suami bahwa ibu-ibu di sana butuh orang yang mau mengajarkan mengaji di kompleksnya. Mengingat fasilitas umum di kompleks tersebut kabarnya akan dibuat langgar. Saya dan suami ingin sekali mengajarkan anak-anak mengaji meskipun dengan ilmu yang tak seberapa, Insya Allah dengan belajar bisa lebih teratasi.
  5. Sebelum pindah ke banjarbaru, saya dan kawan-kawan saya di Makassar punya sekolah ahad. Namanya kelas carakde, kelas yang kami program per catur wulan di tempat yang berbeda-beda. Sasarannya adalah anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, daerah pesisir dan marginal. Kelas carakde terstruktur tiap berpindah tempat akan mengalami perubahan dari kepala sekolah, guru penanggung jawab kelas hingga kurikulum, namun dikemas dalam metode yang lebih fun. Saya sangat ingin punya kelas yang sama di kompleks perumahan kami, mengingat survey disana lumayan banyak anak-anak. Saya berencana membuka kelas di rumah kami pada hari sabtu pagi, cukup 2 jam saja tiap pekannya. Konsepnya adalah belajar dan bermain.
Poin 3 dan 5 merupakan rutinitas saya selama di Makassar, dan saya sangat menikmatinya. Pindah ke Banjarabaru, hingga detik ini saya belum menemukan lokasi yang tepat sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuatnya di kompleks perumahan kami nantinya.
        Dan untuk bisa menjadi ahli dan mewujudkan bidang pengajaran tersebut, maka saya menetapkan saya telah sampai pada tahap apa.
  1. Membangun keluarga dengan Al Qur’an sebagai pedoman, Rasulullah SAW sebagai suri tauladan di zaman modern seperti ini jelas memiliki tantangan tersendiri. Saya dan suami tetap berusaha memperbaiki diri, saling melengkapi, menegur, mengingatkan dan memantaskan diri untuk menjadi yang lebih baik. Mengajarkan ilmu-ilmu tauhid dan kecintaan pada agama dan Rasul kepada anak kami lewat tingkah laku, edukasi dan membacakan cerita
  2. Tahap  mencetak generasi hafidz hafidzah dan menjadikan pedoman dalam hidupnya. Selain membiasakan mendengar murottal, Saya tengah mempelajari metode Kaisa  lewat DVD, terhitung terlambat, tapi semoga bisa mewujudkan impian saya memiliki anak yang hafids Al Qur’an.
  3. Terkait dengan bidang pengajaran keperawatan, semenjak pindah ke banjarbaru saya tetap meng upgrade ilmu saya dengan membaca artikel-artikel keperawatan meskipun tidak sebanyak ketika saya masih mengajar dulu.
  4. Terkait dengan bidang keinginan mengaji: saya masih dalam tahap sharing dengan teman yang juga punya RTQ (Rumah Tadabbur Qur’an) di kediamannya sendiri
  5. Terkait dengan bidang kelas sabtu pagi. Saya berusaha membaca buku-buku parenting dan mengikuti grup parenting berharap bisa memahami karakter anak-anak lebih jauh lagi. Mengumpulkan buku-buku bergizi balita yang nantinya bisa menjadi salah satu fasilitas dalam belajar dan bermain, disamping menjadi koleksi pribadi saya. 
Dan saatnya mencoba memulai milestone saya. Saya berpikir rumah baru saya di tanah banua ini merupakan tolak kembali ke titik 0.
KM0 – KM 1: Menambah hafalan, belajar ilmu parenting, Up grade imu keperawatan. Mewujudkan rumah belajar bermain dan mengaji di langgar
Km1 – KM 2 : hafalan saya dan suami bertambah. ketika usia putra saya 2 tahun lebih bisa menghapal beberapa surah pendek dan saya berharap saya diberi rezki untuk anak kedua, saya bisa menghandle kelas sabtu pagi, kegiatannya lebih terstruktur, tetap mengajar, dan sore harinya berada di langgar kompleks sebagai guru ngaji. Berharap kegiatan ini nantinya di support oleh RT di sana, melengkapi fasilitas home library dan sekolah sabtu pagi
KM3-KM4: hafalan saya dan suami bertambah, membentuk TPA di langgar mesjid, kelas sabtu pagi tetap berjalan tetapi disandingkan dengan taman baca yang rencakan akan saya buat juga di rumah dengan menjadikan koleksi pribadi kami sebagai medianya. Saya berharap bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi


Akan ada proses..., aku yang dulu yang memprihatinkan tanpa berhijab
akan ada kawan....,meski di tanah banua yang tak pernah kujejaki sebelumnya
kepingan puzzel berharap sejalan dengan misi...
karena aku hanya hamba Allah SWT yang jauh dari sebuah kesempurnaan 


Banjarbaru,
waktu kamar menjelang ashar

Minggu, 06 November 2016

Ketika Allah menautkan kita….



Dan akhirnya aku menulisnya..untukmu..

Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamu’alaikum Abu Izz..
Apa kabar?? Kuliat tidurmu malam ini begitu nyenyak. Harimu melelahkan ya Bi??
2 hari yang lalu aku ada tugas, sempat aku post ke WAmu kan waktu itu. Malamnya langsung semangat nulis di laptop. Eh state  sampai di salam aja. Sudah balik kasur jumpa dengan pulau kapuk. Hari ini makin dikejar DL. Si Izz sudah tidur, makanan buatmu pun sudah kusiapkan boz. Wesss…aku disuruh buat surat cinta kepadamuh…
Nanti di baca yaa…jangan ketawa. AWASSSS
sebulan
Sore itu berbaris peluh, hari terakhir menjelang akhir pekan. Jumat sore, sebelum apel pulang. SMS di hp dari kamu berderit masuk.
“Assalamu’alaikum, saya sudah di bandara Sultan Hasanuddin, kapan saya bisa menemui orang tuamu?”
WUAAAAAAHHH…tenggorokanku seperti tercekik ribuan tangan, mataku melotot. Sekilas balik pada situasi yang lalu. Ketika aku telah melewati masa-masa istiqharaku dan dengan berani bin pongah menantangmu mari luruskan niat, kalau emang serius mintalah kepada orang tuaku??
JLEEB begini rasanya kalau orang yang nantangin akhirnya balik di tantang. KO
Ini begimane maaak???
TEEENGGGG!!! Apel pulang berbunyi
Tahukah kamu suamiku, sepanjang perjalanan pete-pete (sebutan angkot kawasan Makassar) aku mematung, pandanganku nanar, kosong ke depan. Beruntunglah saya tujuan saya adalah batas akhir rute si angkot. Jadinya begitu sampai..pak supir bertanya. Turun di mana??. Ternyata sudah sampai…huhuhu
Sampai rumah, beruntung pula saya tinggal sendiri di rumah, jadi nga ada yang liat betapa merana nan anehnya saya saat itu. Pikiran terpecah. Kusangka kau tak akan seberani itu menerima tantanganku?? Ternyata penilaianku jauh dari batas keberanianmu. Kusangka kalaupun kau berani, bakal ada proses yang terlewati sehingga setidaknya memberikan interval nafasku tetap berdequp berirama. Ternyata penilaianku melenceng. Benar kata Ayah, orang pendiam itu bisa menghanyutkan. Dia bisa melakukan sesuatu yang berani di luar dugaan kita.
At the point is…Aku belum pernah sebelumnya menceritakan hal ini pada orang tuaku. Dimana keluargaku adalah orang biasa saja, tentunya mereka akan heran begitu mendengar akan ada pemuda yang tidak mereka kenal sebelumnya datang dan bersilatuhrahmi lebih jauh. Ayah adalah sosok sebenarnya ayah, yang meluaskan seluruh bidang punggungnya untuk kami anak-anaknya bercerita, Ayah adalah bijak, penyabar dan paling menjunjung tinggi silaturahmi. Sementara ibu…adalah yang banyak bacot seperti saya, yang kutakuti dengan buncahan pertanyaan-pertanyaannya disertai intonasi landai tingginya bukti. Bagaimana caraku menyampaikan maksud kedatanganmu?? Di tambah lagi, orang tuaku adalah guru, dan kami tinggal bukan di wilayah perkotaan. Tak sembarangan orang datang bertamu. Ada yang sedikit aneh dan baru saja, se antero tetangga akan menangkap radar, takutnya info yang di tangkap beda. Aduh duuhhh bagaimana ini.
Magrib datang, aku besegera shalat dan menenangkan jiwa. Masih dengan pakaian batikku di hari jumat. Belum sempat mandi sore. Aku menangis memeluk kitabku. Hingga tangan ini meraih telpon genggam dan mengirim kabar ke ibu di kampong. Selang beberapa menit telpon bordering, dari Ibu…Ya Allah…Ya Rabbi. Kusiapkan benteng mentalku, bismillahirahmanirrahim…
“Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam”
“Siapa yang mau datang”
“Teman”
“Untuk apa”
“Silatuhrahmi..silatuhrahmi..mungkin lebih dekat”
“YA sudah, mungkin dia datang membawa rezeki kita tidak tau kan?? Suruh datang saja, tapi jangan sendiri. Suruh siapa kah disitu yang temani”
“Eh..iya..iya…”
Dan telpon ditutup dengan salam
Bisa kau bayangkan betapa gembiranya saya saat itu. Tugasku kelar…pokoknya tugasku kelar. Hei kamu yang disana yang akan menuju kampong halamanku besok. Selamat berjuang yak wkwkwkwk

Suamiku…
Mungkin begitulah skenario Allah. Akan selalu indah ketika kita menjalaninya dengan sabar. Tahukah kamu suamiku. Ketika kau dalam tahap berusaha mengambilku dari Ayahku, saat itu riak hati ini masih menginginkan yang lain. Aku merindukan orang lain yang sejak bangku kuliah kukagumi. Yang ketika melihat dirinya, kuaminkan dia untuk jadi Ayah dari anak-anakku. Dan kau datang mengubah semuanya. Bahkan malam sebelum hari pernikahan kitapun, mataku masih sembab memikirkan dia. Dia yang tak seharusnya mengganggu pikiranku.
Aku menerimamu semata karena dalam istiqharaku jalan untuk menjawab iya selalu saja lembut tak ada rintangan, hati ini terasa ringan menjawab iya, meski aku mengenal orang lain yang lebih kukagumi. Aku hanya berusaha percaya pada sang pemilik jagad, bahwa tidak selamanya yang terbaik menurut kita hamba-hambanya, pun adalah yang terbaik menurut Allah SWT. Maka seperti jawabanku…bisimillahirrahmanirrahim…mari luruskan niat.
Sehari setelah pernikahan kutemukan jawaban untuk membangun cintaku padamu.
Aduhai..ternyata laki-laki yang dipilihkan Allah untukku sedemikian lembutnya. Kuceritakan kepadamu betapa aku menyukai dan mengagumi laki-laki itu, tentang janjinya akan menjemputku di tahun ini bla bla. Ku ulang-ulangi bahwa dia adalah laki-laki smart¸tangguh, pekerja keras dst, berharap amarahmu memuncah, namun di akhir cerita aku hanya mendapatkan sebuah kecupan di kening dan pelukan hangat. Kamu tidak marah…sama sekali tidak marah. Kala itu aku seperti Roro Jongkrang dikutuk menjadi patung.
Hatiku gerimis..sembari bergumam. Allah sungguh baik..mengirim makhluk sepertimu untuk aku yang serba kekurangan.
Hari-hari pertama pernikahan, kulalui dengan kamu yang memasak sarapan untukku bukan aku yang memasakkan untukmu. Kedengaran klise sih untuk pasangan pengantin baru tapi begitulah adanya kita. Dari kamu aku belajar membersihkan perut ikan, dari kamu aku belajar masak lauk kuah kepala ikan bersantan, sayur bening yang ternyata enak ketika ditambahkan kemiri sedikit. Hari-hari pertama kulalui dengan garis kewarasanku, bahwa aku tidak melakukan apa yang seharusnya seorang istri perbuat terhadap suami. Aku minta maaf untuk keterbatasanku…
Begitulah adanya, skenarioNya. Selalu indah dan sejuk terasa. Aku yang dulunya egois, meledak-ledak, dipertemukan denganmu yang menyejukkan, ibarat api walaupun tak slalu bisa dipadamkan, tapi barahnya bisa lebih sedikit meredup. Aku yang tak tau dengan bumbu dapur, sedikit sedikit belajar darimu. Katamu kapastitasmu hanya sederhana, pun baru mengejar nafas-nafas Islam. Tapi dengan pernikahan ini, aku bisa bandingkan kemampuanmu jauh lebih matang dariku. Hingga diusia pernikahan kita yang menjelang 3 tahun ini, aku masih tertatih-tatih untuk bangun malam hari dan menyisipkan sujud untuk mengadu padaNya, sementara dirimu seperti  sudah distel sendiri hingga bisa bangun tepat waktu dengan badan ringan.
Terimakasih untukmu penjagaanmu. Aku masih butuh penjagaan esktrak lewat hal-hal lain yang lebih indah. Kamu harus lebih gesit menyimpan barang mu agar tidak lupa disimpan dimana, itu…kerangjang pakaian kotor harus difungsiin juga yak, jangan dianggurin. Simpan pakaian kotor pada tempatnya. Masih banyak Bi…ntar aku bisikin sendiri yak..

23.45 Waktu kota Banjarbaru
Dari dia..yang gemar memandangi wajah tidurmu

Dan kamupun berkata…
Dan plong selesai juga hihih. Tadinya mau kirim lewat WA tapi berhubung kuota beliau lagi sekarat, maka kucoba menyodorkan laptop selepas shalat subuh dan memintanya untuk membaca lalu ngacir pura-pura berbaring, tapi ekspresi wajahnya terekam jelas dalam radius tempatku. Dan cahaya laptop yang terang sendiri memberi leluasa menilai tanggapannya. Hahahah kadang senyum-senyum bacanya entah di bagian paragraph mana. Berkat surat ini seharian ini aku bisa berleha-leha lanjut poin dua dan seterusnya untuk segera mengumpulkan tugas NHW3. Urusan dapur, serahkan sama Abu Izz tralalala…. Pekan depan buat kek gini lagi akh, biar bisa cuti sehari.hohoho

Dia adalah kekuatan (Izz) kita…
Namanya Izz Khafady AL Badar…
Bayi laki-laki yang terlahir ketika aku berjuang dengan tesisku. Kami selipkan kata Izz (kuat) berharap kamu adalah anak laki-laki kami yang tangguh. Kamu adalah anak laki-laki pertama yang terlahir dari rahin Ummi, semoga bisa mengayomi adik-adikmu kelak ketika Allah masih member kami amanah.
Anakku tipe kinestetik, dan terlihat sejak usianya 9 bulanan. Ketika usianya 8 bulan dia pertama kali bisa mengucapkan kata ‘tate’ (kakek), untuk urusan komunikasi perkembangan Izz cukup baik dibandingkan anak seusianya. Ketika usianya 18 bulan, sudah bisa menjawab ilmu tauhid meski dengan pelafalan sederhana. Dia anak yang tumbuh dengan senyumnya yang gemar merekah ketika bertemu orang lain. Dia punya daya ingat yang baik, bahkan sayapun kerap dibuat terheran.

Dan aku adalah…
Wanita yang terlahir dari sebuah desa denga lingkungan asri. Terbiasa dengan komunitas social sejak duduk di bangku kuliah. Dan akhirnya perlahan diberi hidayah berhijab meski masih sangat butuh siraman rohani untuk memperindah imannya. Saya beruntung terlahir dengan sebutan ceria, meski sedang dirundung masalah saya bisa menyembunyikan lewat senyuman. Untuk sebuah perkara yang masih baru, maka saya punya semangat untuk menjalaninya.
Dan saya adalah…seorang Ibu yang bisa membuka mata untuk kelemahan anak. Energik ketika menemani si bocah bermain.
Dan saya adalah bisa bekerja individu dan tim ( lha kok yang ini kayak nulis CV saja yah hihih).  Saya punya kemauan keras sehingga sifat tidak sabaran kerap mengintip.

Dan keluarga kita berpindah tempat…
Tanah Banua, kota banjarbaru adalah tempat tinggal kita sampai Allah menakdirkan di sudut bumi mana lagi kita akan bertapak. Tanah ini berbeda kultur dengan masa dimana saya dan suami menghabiskan masa kecil, di tanah Sulawesi. Bahasa…adat, makanan dan masih banyak lagi.
Dan aku menafsirkannya Allah member kita kesempatan untuk berkenalan dengan saudara kita di belahan pulau yang lain. Tempat kita untuk belajar lebih saling menguatkan ketika berada jauh dari sanak saudara sedarah, dan mampu menciptakan zona nyaman meski dengan sgala hal yang baru dan akan kita pelajari. Aku menafsirkan bahwa Allah menyebar lading rejeki bukan melulu pada satu tempat, dan keluarga kita diberikan kesempatan untuk menjemput rejeki itu di tanah ini. Mengikutimu kesini suamiku membuatku memutuskan untuk resign  dari tempat kerjaku, Allah menakdirkan bahwa amanah dariNya membutuhkan diriku. Kita adalah dua manusia yang punya latar belakang berbeda tapi punya komitmen yang sama. Berharap luka-luka yang mungkin pernah tertoreh dari pengajaran orang tua kita tak terulangi pada anak kita. Aku dengan status full time mother akhirnya mengerti bahwa menjadi seorang ibu itu tidak mudah, ketika dulu masih ada Ibu dan Ayah bantu menjaga sekarang dengan tempat baru ini aku bisa merasakan seorang ibu yang seutuhnya. Aku bisa membuat masakan meskipun tak seenak Ibu dan Mamah Sulawesi. Kemanapun pergi akan selalu bersama, aku masih ingat komitmen kita itu. Semoga kita dan domisili kita yang sekarang semakin menguatkan kita dan kian bertambah pula eksistensi sebagai hamba Allah SWT. Aamiin





Minggu, 30 Oktober 2016

Belajar menjadi seorang Ummi yang istimewa^^

Bismillahirrahmanirrahim…

Terlahir menjadi seorang wanita, menjadikan saya bisa mencicipi beberapa peran dalam satu sosok yang namanya wanita. Menjadi sebaik-baiknya wanita, hamba Allah SWT, sebagai seorang istri untuk lelaki yang telah dipilih untuk saya dan menjadi seorang Ibu untuk anak-anak saya. Insya Allah…Aamiin

Sebelumnya, saya hanya menulis secara tersirat dalam benak saya apa yang akan saya lakukan, bagaimana saya akan membagi dan melebur kedalam peran-peran tersebut. Dan materi tentang “Bagaimana Menjadi Ibu Kebanggaan Keluarga” membuat saya menuangkannya dalam tulisan. Jika sebelumnya hanya lewat catatan kecil serupa memo yang di tempel di notes kecil atau jika berupa kegiatan dadakan dan harus saya tekuni dalam kurun waktu yang ditentukan tapi bukan menjadi sebuah rutinitas tahunan, saya akan cukup menulisnya dalam secarik kertas dan menempelnya di cermin, dengan harapan ketika pagi saya akan ingat.

 Dan Surprice!!!!. Ternyata tidak mudah merubah bahasa-bahasa saya yang berlari kesana kemari dalam kepala menjadi sebuah tulisan. Jikalau dalam benak, cukup saya bergumam, saya ingin begini, saya ingin begitu, kedepannya akan begini, begitu. Tanpa saya sadari ternyata celotehan-celotehan di dalam kepala itu ada yang bertahan dan ada yang tumbang cukup dengan angan-angan saja. Berandai….Apalagi ketika resign dari dunia kerja dan pindah domisili, malah membuat saya jadi rempong, rumah langganan potret kamar pecah padahal saya merasa tidak henti-hentinya membersihkan rumah. ckckckck

Poin-poin indikator yang saya buat ini mengikuti habitat baru saya, sebelumnya saya adalah ibu yang bekerja tetapi sekarang saya adalah seorang ibu dengan 1 anak dan baru saja pindah domisili mengikuti suami. Indikator ini saya mulai dari beberapa hal yang Insya Allah semoga bisa terlaksana, walaupun dengan segala keterbatasan^^

A. Sebagai individu
Sebagai seorang hamba Allah yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepadaNya. Tujuan kita adalah Jannah –Nya, dengan jalan menjauhi larangan dan mengerjakan yang diperintahkan Allah SWT.
  1. Shalat semaksimalkan mungkin tepat waktu
  2. Shalat dhuha tiap hari 2 rakaat
  3. Puasa minimal 1 kali dalam sebulan
  4. Bersedekah
  5. Mengaji minimal 2 kali waktu setiap selesai shalat dalam sehari
  6. Menjalin hubungan yang baik dengan tetangga
  7. Lebih pandai lagi dalam mengelola emosi
  8. Senantiasa menuntut ilmu (sekarang belum pernah ikut majelis di tempat yang baru], misalnya: baca buku tentang agama, parenting, ataupun resep. Minimal menamatkan 1 buku dalam satu bulan
  9. Selalu bersyukur 
  10. Belajar lebih giat bersabar 
  11. Berusahaan membahagiaan orang tua, dan menelpon bersama suami dan anak minimal 2 kali dalam seminggu.
  12. Tetap menjalin hubungan dan melakukan sumbangsih semaksimal mungkin dengan teman-teman SIGI [Sahabat Indonesia Berbagi reg Makassar], LEMINA [lembaga mitra ibu dan anak], kelas Inspirasi Makassar
  13. Berolahraga 
Planning jangka panjang : Berharap fasilitas umum di Kompleks Perumahan adalah Langgar atau Masjid, sehingga bisa terbentuk TPA dalam wilayah kompleks dan bisa bantu-bantu mengajar anak-anak mengaji meskipun dengan kemampuan alakadarnya

B.Sebagai istri
  1. Memberikan waktu istrahat sekitar 30 menit kepada suami ketika pulang kerja untuk memulihkan tenaga
  2. Menyambut dengan senyuman ketika suami pulang kerja
  3. Menyiapkan perlengkapan suami ketika akan berangkat kerja
  4. Berusaha belajar memasak menu kesukaan suami dan menemani makan
  5. Meminimalisir sebisa mungkin untuk menahan emosi
  6. Talk Pillow,  berbicara san berbagi cerita dengan suami sebelum beranjak tidur
  7. Menyempatkan waktu untuk mengaji bersama setelah shalat Magrib
  8. Menanyakan kabar lewat telpon, SMS/Medsos {WA dan BBM} minimal 3 kali
  9. Memperlihatkan contoh kepada suami hal-hal yang seharusnya tidak pada tempatnya terkait dengan masalah kebersihan rumah
  10. Menata dan membersihkan perabot dan perlengkapan rumah
  11. Menanyakan kepada suami apakah pakaian yang digunakan pantas, cocok dan menyenangkan menurut suami.
  12. Memberitahukan dan berdiskusi dengan suami tentang pengeluaran atau akan membeli sesuatu yang sebelumnya tidak berada dalam perencanaan bulanan
  13. Memastikan dan membuat perencanaan anggaran belanja rumah tangga dengan membuat list setiap kebutuhan per bulannya
  14. Menghormati dan menghargai mertua, memberikan dan mengirimkan hadiah kepada mereka sekali sebulan
  15. Member semangat dan mendoakan suami ketika akan berangkat kerja
  16. Berparter dengan suami melaksanakan kegiatan berbagi makanan keliling kota Banjarbaru sekali sebulan. 1-2 kali dalam seminggu dalam bulan Ramadhan
  17. Berusaha istiqomah menjadi Senior Book Advisor (SBA) di salah satu penerbit buku, bergabung di Al qolam untuk bisa menebar virus baca, sambil pelan-pelan berusaha mewujudkan Home Library
C. Sebagai Ummi
  1. Mengajak anak untuk ikut duduk mengaji bersama Abi dan Ummi setelah shalat Magrib
  2. Menyusun kurikulum keluarga
  3. Menyusun jadwal harian anak
  4. Menyusun tahap tumbuh kembang Izz terkait dengan asupan nutrisi
  5. Menyusun dan mencatat permainan montessory dan edukasi yang cocok untuk tahap perkembangan Izz. Evalusi lalu rubah tingkat kesulitannya.
  6. Memasak makanan kesukaan Izz dan sekali-kali konsul dengan teman sejawat [ kebetulan major saya kesehatan]
  7. Mengajak nak Izz 2 kali dalam seminggu ikut shalat Subuh dan Magrib di Masjid
  8. Menemani nak Izz bermain
  9. Mengajarkan ilmu tauhid sedikit demi sedikit kepada nak Izz
  10. Membiasakan nak Izz mendengar murattol Al Quran lewat audio semisal hafids doll ketika dia sedang bermain
  11. Membacakan buku minimal 2 kali sehari [wajib ketika akan tidur]
  12. Mengajak izz berjalan-jalan pagi dan mengenalkan benda-benda, dan alam sekitar
  13. Tidak mengeluarkan kalimat kasar ataupun larangan, tetapi berusaha merefleksikannya lewat kalimat yang halus
  14. Bermurojjah surah-surah pendek di dekat Izz dengan harapan kelak Izz mengikuti. minimal 3 kali sehari mengajak baca surah pendek
  15. Memfasilitasi Izz dengan buku bergizi dan media edukasi
  16. Mengajak nak Izz sekali seminggu atau minila 2 kali dalam sebulan ke tempat bermain. Misalnya Perpustakaan anak, waterpark, taman bermain, taman baca, kolam renang dll
menjadi seorang Ummi yang istimewa bukanlah didapatkan lewat jalan pintas, tapi adalah sebuah proses berkesinambungan. Semoga poin-poin diatas bisa istiqamah dan kedepannya lebih ditingkatkan.

Uty, Banjarbaru

Rabu, 19 Oktober 2016

Nice Homework #1

Bismillahirrahmanirrahim…

Ya Allah Ya Rabbi…akhirnya rumah kecilku ini bisa launching tulisan juga setelah setahunan vakum. Ibarat makanan mungkin sudah jamuran, kalau ini compi udah virusan nga pernah di update, kalau ini ibu hamil udah kepalang brojol dari bulan kemarin #OPSS. Akhirnya, berkat ikut kelas mak emak di “Ibu-Ibu Profesional” atau IIP akhirnya bisa nongol juga. Hebat dah moment ikutan IIP ini bisa bikin diriku berkicau lagi di blog. Ngalahin banyak moment, yang harusnya aku ‘tabung’ di berandaku ini. Padahal kemarin sudah berazzam dalam hati segala perkembangan nak shaleh bakal di tulis disini, eleh-eleh…ini mah 100% dikacangin. Punya anak laki-laki yang kinestetik bin aktif itu bikin duniamu serasa sejam sehari. Dimandiin, disuapin, main bareng Eehhh tau2nya udah malem. Belum ini belum itu

CUT…CUT..CUT

Mumpung si baby nokturial sudah lelap jam 22.04 Waktu Trikora, kota Banjarbaru. Yuks mari kita kerjakan homeworknya.


Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan iniIlmu Segala Jurus Mengeluarkan Kesabaran. Memang benar sabar itu ada batasnya. Tapi saya berdomisili di ranah orang yang benar-benar tidak sabar. Dan kata mama, bakat tidak sabaranku itu memang sudah dari oroknya. Kenapa bisa mengkategorikan diri sendiri ke dalam ranah orang yang tidak sabar??. Karena banyak orang-orang terdekat yang berkata demikian, pun dengan orang-orang kantor ‘dulu’, orang-orang yang pernah membersamaiku di dunia kantor sebelum daripada yang ‘dulu’, teman-teman kecil yang masih rela membersamaiku sampai sekarang meskipun saya tidak sabaran. Teman-teman kuliah, keluarga dekat hingga kepada saya sendiri yang sadar akan kekurangan itu. Dan bertekad untuk menekuninya di universitas kehidupan ini. Doain yak semoga bisa naik level ke manusia yang punya kesabaran, step by step. Aamiin.


Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebutKarena disebutkan di atas bahwasanya bukan sebiji upil orang-orang yang mengatakan bahwa saya tidak sabaran, maka saya benar-benar ingin menekuni ilmu yang sangat susah saya taklukkan ini. Sudah banyak yang ketiban negative dari buah ketidaksabaran saya. Bahkan ketika kecil dulu saya hampir memenjarakan Ayah saya karena sekaleng susu, susu favoritku. Padahal usia saya waktu itu bukan balita lagi, tapi sudah berseragam SD yang seharusnya paham akan kondisi Ayah yang saat itu betul-betul sibuk, jadi lupa membelikan susu. Ayah terpaksa tancap gas membelikan sekaleng susu, karna tangisan saya sudah membahana, air mata saya sudah menganak sungai. Ayahku..adalah lelaki yang tidak menghendaki putrinya berlarut dengan tangis.Cerita lain, pernah juga saya menggunting sandal baru pemberian Ibu, hanya karena tidak sesuai warna yang saya minta, padahal waktu itu saya sudah berseragam putih biru, konyolnya lagi saya bersikeras tidur di gudang kalau Ibu tidak mengganti sandal saya dengan warna lain. Ibu sudah berjanji akan menggantinya besok, karena pasar tutup malam hari, tapi saya tidak sabar.Bahkan ketika sudah bersentuhan dengan dunia pekerjaan, banyak pekerjaan yang tak terselesaikan dengan baik karena ketidaksabaran saya. Major saya perawat. Sungguh tak bisa dihitung dengan jari tangan peristiwa-peristiwa konyol karena ketidak sabaran saya.Dan akhirnya, bahwa untuk menjadi seorang ibu yang professional sangat-sangat butuh sebuah kesabaran. Dan kesabaran saya benar-benar diuji dengan kehadiran putraku, Izz Khafady Al Badar. Bocah yang superaktif, tapi sangat lengket dengan saya. Bahkan bermain pun harus ada saya di sampingnya. Saya hanya tidak ingin masa keemasannya, masa kegembiraannya terisi dengan rong-rongan, makian, amarah dari buah ketidaksabaran saya. Karena siapapun di dunia ini yang telah berpredikat seorang ibu, pastilah paham bahwa betapa susah mengendalikan amarah, menemukan kesabaran di tengah riak-riak tingkah anak-anak yang betul-betul menggoda untuk meledakkan api emosi.Sayapun ingin punya anak-anak yang bisa menaklukkan peradaban yang makin hedon ini, saya pun ingin menjadi ibu yang kelak akan mendapat mahkota di atas kepalanya, saya pun ingin jadi ibu yang memecah tangis dalam pelukan anak-anaknya karena prestasi dunia akhirat mereka. Dan saya sadar, untuk menjadi seperti itu, ilmu kesabaran untuk mendidik mereka merupakan salah satu kunci yang harus saya lampauin.

Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut
  1. Sejak menginjak bangku kuliah saya aktif di beberapa komunitas sosial. Seperti Kelas Inspirasi, Penyala Makassar, Ibu-Ibu doyan nulis, Sahabat Indonesia Berbagi dll. Agar saya bisa menghimpun segala kebaikan disana, saya belajar bersosialisasi karena konon katanya kesabaran itu bisa muncul dari sebuah luapan berbagi emosi, lewat komunitas ataupun organisasi. Beberapa diantara komunitas-komunitas tersebut, malah dekat dunianya dengan anak-anak. Mengajar di kelas binaan anak pinggiran, berbagi dengan sekolah marginal, kelas baca dll. Meski balik rumah ilmu kesabaranku tak meningkat secara signifikan. Tapi setidaknya kata adik-adik di kelas, kak uty itu asik, kalem dan lembut. #tsaaahhh. Apa saya sudah berhasil????
  2. Menulis….. Yah lewat tulisan, saya harap lewat menulis emosi saya bisa sedikit tersalurkan, dengan harapan pekerjaan untuk menimbulkan ilmu kesabaran bisa saya peroleh sedikit demi sedikit
  3. Memilih suami lewat proposal taaruf dengan mengedepankan punya kesabaran high quality.Karena setelah menjalani beberapa poin di atas tapi tidak menghasilkan sesuatu yang signifikan, maka poin c ini adalah sesuatu yang HARUS, MUTLAK, UNDERLINE, FARDU DAN SEDERAJATNYA. Dan beruntung saya mendapatkannya. Insya Allah…Aamiin
  4. Next, akhirnya benar-benar berstatus istri dan setahun kemudian berstatus Ummi. Maka ilmu kesabaran benar-benar diuji, di saat-saat genting seperti ini saya berusaha berlari mengejar ketinggalan dengan belajar dari beberapa ibu-ibu keren, membaca buku parenting dan akhirnya nyemplung di IIP ini, semoga menjadi salah satu solusi yang menggembirakan hasilnya, aamiin (lagi^^)
  5. semangat!!! beruntung saya masih punya semangat untuk selalu belajr. Smoga yang poin ke 5 ini selalu istiqamah. hancur dunia persilatan ketika semangat itu surut hingga titik rendah.

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebutSaya ingin berusaha menjadi pribadi yang tidak merasa tau segalanya, merasa cukup dengan yang ada, memandang orang sebelah mata, harus merasa saya adalah orang beruntung dan masih banyak yang lain yang sesungguhnya lebih berkekurangan dari saya, sehingga menjadi ladang syukur untuk saya, dengan begitu bisa membuahkan kesabaran untuk saya sendiri, setidaknya menjadi bahan renungan, refleksi bahkan perubahan kea rah lebih baik itu harus saya lakukan dengan berhari-hati, tidak ada yang instan dalam mengerjakan segala sesuatunya Semoga jawaban saya berkenan di hati fasilitator

Trikora, Banjarbaru 23.15