Beranda
It's Me
Awards
Chat Bloofers
Links

Minggu, 09 September 2012

Sbuah tradisi????


Ini tentang kita yang bertemu….
Ini tentang kita yang saling menunggu
Ini tentang kita yang mungkin saja tlah menjadi teman, sampai batas detik ini…

Bismillahirahmanirrahim….
Kepada yang terhormat pernikahan, aku belum bertemu denganmu tapi dengan tidak sopan aku membahas tentangmu di halamanku ini. Apa kabarmu hariku??di bumi belahan mana kamu mendatangiku??Biar riak indah itu Rabb yang mengetahuinya…dan anggap saja ini lembaran ketika aku ingin berkenalan denganmu #jabat tangan

Menikah adalah menyempurnakan separuh agama., begitu Rasulullah mendeklarasikannya (ihh jadi merinding!!!) RAsulullah menikahi istrinya-istrinya kebanyakan pada bulan Syawal. Nah itu berarti bulan yang sama dengan sekarang?? (Pantesan banyak yang nikah bulan ini#mikir^^). So mumpung bulan Syawal, aku posting tentang pernikahan juga akh…..

Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada setengah yang lainnya. (HR Al hakim dan Ath Thabrani)

Budaya pernikahan pada tiap-tiap daerah selalu menjadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan. Aku pernah terlibat percakapan yang unik ini bahkan dengan kaum Adam yang notabene berbeda gender denganku sekalipun. Aku besar di daerah Sulawesi Selatan, daerah yang membagi wilayahnya dalam 4 suku. Suku Toraja, Bugis, Mandar dan Makassar. Dan tradisi pernikahan merupakan hal yang kompleks. Bukan hanya satu upaya menyatukan dua insane manusia, tapi juga menyatukan dua keluarga besar, menyatukan adat dan nilai budaya.

Seorang kawan pernah terlibat percakapan unik denganku. Kawanku ini melanjutkan studinya ke tanah Jawa, dia kuliah di Yogyakarta. Balik ke Makassar, ia (laki-laki) bercerita panjang kali lebar tentang teman-teman kuliahnya yang cantik-cantik. Katanya favoritnya adalah wanita Sunda dan Aceh.
“Cantik Ty, banget malah”ucapnya kala itu, aku hanya senyum mangut-mangut.
 “Kalau menikah dengan gadis satu daerah (Sulawesi Selatan) mungkin aku harus nunggu lama, soalnya gadis disini mahal-mahal”lanjutnya dan kubalas dengan mata melotot ^_^

Saban hari, aku pernah ditelpon seorang abang yang calon istrinya adalah orang Makassar. Dia curcol tentang mahar orang Sulawesi Selatan yang kabarnya setinggi langit. Dan lagi, seorang temanku juga (masih laki-laki) pernah berkata, entah itu Cuma berkelakar atau ucapannya serius. Katanya seperti ini. “Kenapa gadis Makassar mahal-mahal?? Padahal mereka tidak secantik gadis Bandung”
DING!!!!!AStagfirullah….#NGASAHGOLOK

Dan masih banyak lagi kawan yang tidak berasal dari satu daerah mempertanyakan tradisi pernikahan ala Sulawesi Selatan, yang ribetlah, berbelit-belit de el el. Hmmm…walaupun aku bukan pakar adat istiadat dan budaya, dan lagi…di rumah kediamanku baru satu kali kami mengadakan pesta pernikahan, yaaaa…untuk kak Ayu, kakak sulungku. Tapi walaupun sedikit, aku akan bagi^^

Di Sulawesi Selatan sendiri, adat pernikahan untuk berbeda-beda untuk suku bugis, Makassar, mandar dan toraja. Yang jadi momok  dan perbincangan hangat hingga sekarang adalah uang panai’. Uang panai’ dalam tradisi Bugis Makassar merupakan sejumlah uang yang diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita sebagai sebuah penghargaan. Memang uang panai’ bukan bagian dari mahar, jadi disamping calon mempelai pria memberikan mahar, dia pun harus memberikan uang panai’. Yang menjadi kesalahpahaman selama ini adalah, orang lain di luar Makassar, kadang berpikir uang panai’ itu berbeda lagi dengan biaya pernikahan. Padahal jika ditelaah baik-baik, sebenarnya sama saja. Jika di pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatra sana ada yang namanya biaya pernikahan, maka di Makassar uang panai’ lah yang berfungsi sebagai biaya pernikahan. Uang tersebut akan digunakan oleh keluarga calon mempelai wanita untuk membiayai acara pernikahan. Sewa gedung, makanan dll.

Kemudian, kenapa gadis Makassar mahal-mahal??? Hihih itu sih imbas dari gaung uang panai’ saja. yaa…meski kuakui dibeberapa tempat ada yang mematok uang panai’ berkisar berapa untuk melamar anak gadisnya. Bahkan bagi pemuda Sulawesi selatan yang berasal dari suku bugis Makassar, hal yang demikian adalah lumrah, memenuhi jumlah uang panai’ dipandang sebagai budaya siri’, jadi perempuan yang dicintainya adalah motivasi untuk memenuhi uang panai, sebagai simbol akan ketulusan untuk meminang gadis. Dan tradisi ini, pernah diteliti seorang seniorku, kesimpulannya mengarah pada angka perceraian suku bugis Makassar yang tidak membludak dikarenakan tradisi ini. Mungkin para kaum Adam berpikir untuk bercerai dan menilai bercerai adalah urutan terakhir atau kalau bisa ditiadakan dalam urusan permasalahan rumah tangga, karena urusan menikah tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan lagi itu berarti mereka harus mengumpulkan uang panai’ lagi untuk menikah^__^

Lalu,…ribet??berbelit-belit??. Bukankah kita bernaung dalam semboyan bhinneka tunggal ika. Berbeda itu adalah sebuah kewajaran. Menurutku pribadi, tradisi pernikahan yang berbeda-beda adalah keindahan dari keanekaragaman budaya Indonesia. Jujur, aku senang menghadiri pernikahan dan menyaksikan urutan tradisinya. Menurutku….itu adalah sesuatu yang amazing. Toh tidak tiap hari dilakukan, hanya sekali pada saat kita menikah. Jadi komentar ribet dan berbelit-belit harusnya ditiadakan dong^_^

Eh iya, kakak iparku adalah orang asli Sunda. Jadi kupikir, pernikahan itu bukan memandang kesamaan suku. Sebab jika Allah berkehendak, apapun bisa terjadi. Temanku boleh berencana menikah dengan orang
Aceh sekalipun, tapi jikalau Allah berkehendak lain??^^


Yakinlah, meski cinta datang begitu pagi
Jangan takut menyambutnya
Jika cinta datang begitu senja
Seharusnya kita tak berburuk sangka kepada-Nya
Sebab yang terukir dalam diary Tuhan
Adalah berkah, ujian dan benar adanya



15 komentar:

  1. Cari banyak2 modal dulu dong.. Ya,ya,ya..
    Uang panai', salah satu bagian terakhir, sebelum wanita itu kita(baca: kaum adam) jemput. Jadi, tidak masalah menurutku. Karena seperti yang telah km tulis Ty, di dalam situ jg termasuk biaya acara pernikahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe salh stu pndpt dri kaum adam nih ya bang..

      Hapus
  2. betul skali kak uty, selama ini orang-orang diluar sana memandang bahwa uang panai' itu adalah salah satu mahar yg harus di penuhi, salah besar, uang panai' memang betul hanya sejumlah uang yang diberikan calon suami yang nantinya akan digunakan untuk membiayai biaya pernikahan sang calon istri. yah,klo keduanya berasal dari orang mampu, itu bonus namanya. hhe.. namanya juga adat.. dan tidak semua keluarga juga menginginkan putri nya dibeli dengan uang panai; yang stinggi langit (bukan berarti sang gadis tidak pantas dipinang dengan harga setinggi langit. *eh bingung yah?! Sy juga bingung bilangnya) intinya, jika kedua belah pihak keluarga saling mengerti adat buadaya, dan agama, permasalahan uang panai' tidak akan menjadi permasalahan kok. haha...sante saja kaum adam ! itung-itung kan motivasi buat para pria untuk mengumpulnya harta sebanyak2nya..hhehee... :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan percaya deh. d luar sana pasti mkin beraagam tradisi prnikahan..emm lama nda ktemi waaa .....

      Hapus
  3. suka sama kata2 terakhirnya.

    Oh aku malah baru taw klo mahal2 yah. eh.. hehehe

    jujur sih saya kurang begtu tw ttg tradisi yg terjadi di negara sndri hehe kuper tradisi. Saya orangnya simpel pikirannya simpel.

    Tapi emang bener kata2 anti berbeda2 satu jiwa. beda itu wajar hehe.. Ya walaupun sekali seumur hidup mudahan sih. aamiin. Tapi tergantung wanitanya itu sendiri juga yah kataku. Puji sendiri gimna nih? ehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagaimanapun dlm brtindk hendaklah kita berpatokan pd al quran dan hadis. Tapi,jgn sampe pula brselisoh pahm dgn orng tua atau yg di tuakan krna permasalh adat dan budaya. Intinya komunikasikan dlu..misyawarhkan dgn klurgA. Menikah kn bener2 moment yang saklar mbak nur. Klo mbak gmn¡¿hihih

      Hapus
    2. hihi jadi tanya jawab :D
      ya klo aku asli sulawesi selatan lalu aku tatp memegang tradisi tapi nanti aku ga nikah2 gimana dunk? hehe :D
      Klo saya pribadi lihatnya sih bersumber kayak kamu ukh.. al-quran dan hadist. Mahalnya wanita kan wanita shalihah ya ga? hehe.. Karena untk masuk surgaNya saja hars benar2 ada jalan lurus hehe..

      ya jgan mengikuti tradisi yang berlebihan. Tapi klo orang tua tdak bisa diajak kompromi yah gaswat hars nasehati pelan2 ehhee.. Allohumma aamiin

      Hapus
  4. semoga segera bertemu dengan pernikahan ya

    BalasHapus
  5. Semoga bisa cepat tercapai keinginannya...amiin

    BalasHapus
  6. Ada orang Sunda dan Bandung disebut-sebut, jadi maluuuuu. Eh? Hehehe..
    Tradisi pernikahan di berbagai daerah memang beda, tapi ini jadi memperkaya khazanah budaya (diluar konteks hakikat menikah yang pada intinya mengucapkan ijab kabul, memberikan mahar dari sang pengantin pria ke pengantin wanita)
    Meski mahal uang panai'-nya, itu mungkin memang sebagai bukti usaha sang laki-laki untuk menikahi anak gadis keluarga itu.
    #ngomong apa ya ini? :D

    Eh, btw ada award niii. Sudi kiranya diambil :)
    http://oroktumbilajadipamingpin.blogspot.com/2012/09/award-borongan-edisi-liebster-award.html

    BalasHapus
  7. quote di akhir itu mantap kak.... hahaha soal panai' memang bnyk yg slah sangka, haha

    BalasHapus
  8. bila cinta telah hadir sebagai anugerah-Nya
    tak pandang lagi sukunya dari mana
    yang penting seia sekata berjalan dalam ridha-Nya

    BalasHapus
  9. Menikah untuk menyempurnakan separuh agama, cukupkah?

    ”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (H.R. Baihaqi)

    Hadist di atas sangat masyhur di kalangan muslim. Tapi sayang, yang banyak dibicarakan sekedar menikah itu menyempurnakan separuh agamanya. Padahal kan nggak berhenti di situ. Coba kita amati lagi hadist tersebut. Di bagian belakang hadist tersebut ada kata-kata "...maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya".

    Ini yang mungkin kurang dibahas. Bahwa menyempurnakan agama itu nggak cukup hanya separuh saja (dengan jalan menikah). Tapi mustinya ada ghirah, ada semangat untuk menyempurnakan agamanya secara utuh. Nggak lucu dong kita menyempurnakan tapi separuhnya doang. Ibarat kita bangun rumah tapi temboknya cuma setengah tingginya trus nggak ada atapnya. Mana bisa dipakai buat berteduh, ya nggak?

    Terus bagaimana tuh caranya? Nggak ada cara lain, ya dengan bertakwa kepada Allah supaya agamanya sempurna, utuh.

    Nah, di sinilah pernikahan itu akan menjadi barokah, akan menjadi manfaat ketika pernikahan itu dipakai sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Jadi mustinya pernikahan itu membuat ketakwaan atau paling tidak semangat seseorang untuk memperbaiki ketakwaannya kepada Allah meningkat. Ibadahnya makin rajin, shodaqohnya makin bagus, yang jadi suami lebih rajin, lebih semangat nyari nafkah, dll.

    Jadi lucu kalau ada orang yang setelah nikah justru ibadahnya melorot. Musti ada yang dikoreksi dalam dirinya. Apa nih kira-kira yang salah?

    Lalu ada pertanyaan begini: kan nggak ada ukuran baku buat menilai ketakwaan seseorang naik apa nggak, gimana cara ngukurnya?

    Kita mah nggak perlu menilai orang lain ya. Cukup kita nilai diri kita sendiri. Setelah nikah, shalat kita gimana? Shadaqah kita gimana? Ngaji kita gimana? Intinya, seberapa baik kita menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perbaikan, tetep segitu aja, atau malah merosot?

    Yuk, yang udah pada nikah kita introspeksi diri lagi, muhasabah lagi. Tapi nggak cuma yang udah nikah aja. Yang belum nikah juga kudu introspeksi, kudu muhasabah. Mempersiapkan diri dan mengingatkan diri sendiri supaya kalau nanti udah nikah tambah baik lagi.

    Jadi sekarang kita punya goal nih, punya target yang amat sangat penting buat kita raih.
    Targetnya: MENYEMPURNAKAN AGAMA SECARA UTUH, NGGAK CUMA SETENGAH.

    BalasHapus