Beranda
It's Me
Awards
Chat Bloofers
Links

Senin, 02 Juli 2012

Di Timur Matahari

Satu lagi, film yang menarik untuk diintip di masa liburan sekolah ini. Pekan lalu aku bareng para bocah ngintip slide ‘Di Timur Matahari’. Film yang diproduseri dan disutradari oleh Ale Sihasale sendiri, di bawah  label Alenia. Dan sepertinya sasaran marketing film ini berhasil, terbukti saat plesiran masuk studio, lebih dari 50% penontonnya adalah anak-anak, gendre filmnya memang dialokasikan buat anak-anak, dan momentnya pas banget. Liburan. Wuihhh seru ya^^

Sayangnya ada beberapa istilah yang (mungkin) lupa untuk di translate ato dibikinkan test khusus untuk menjelaskannya. Seperti saat menyebut kata ‘Tete’ yang artinya adalah kakek. Beruntung, aku punya beberapa temen kampus asal Papua, jadi bisa menjelaskan ke para bocah saat bertanya. Dan beruntung lagi, saat nonton film ini, kami duduk bersebelahan dengan tiga pemuda asli dari Papua. Jadi ketika ada pertanyaan tentang film, mereka dengan ikhlas langsung menjawab bahkan ditambahin info tentang tempat-tempat yang terekam di slide film. Makasih ya abang-abang^_^

Di timur matahari dibuka dengan suasana sekolah SD di pelataran pegunungan Papua. Seorang anak (Mazmur) berseragam SD tengah berlarian di sela perbukitan yang asri. Mazmur akhirnya berhenti di penghujung rerumputan, tempat yang biasa mereka gunakan untuk lepas landas helikopter. Rupanya Mazmur menunggu datangnya sang guru pengganti. (bener kata kak Yuni, saat nonton film ini, jadi ingat Enrekang, suasananya asri bangettt). Sudah 6 bulan guru pergi ke pulau Jawa dan tak kembali lagi mengajar mereka. Untuk mengisi waktu belajar mereka, Mazmur, Agnes, Thomas dan kawan-kawannya belajar di lingkungan sekitar, belajar pada Bapak Pendeta (Lukma Sardi), Ibu dokter (Ririn Ekawati), Om Ucok (Ringgo Agus Rahman), dan penduduk setempat.

Mazmur and the gank saat belajar bersama alam
Mazmur dengan kacamata barunya..^^
Nyanyi bareng Papa Michael n Om Ucok
hiking bareng bocah di tanah Enrekang^_^
Noh, hampir sama kan, latarnya...
 Film ini intinya bercerita tentang semangat anak-anak Papua untuk menuntut ilmu, bagaimana Mazmur dan kawan-kawannya dengan setia mengenakan seragamnya dan berangkat sekolah setiap hari meski sang guru pengganti tak kunjung datang. Film ini menceritakan tentang hati kecil yang mewakili watak kanak-kanak suci tentang makna dari perdamaian. Di dalam film diceritakan tentang keluarga Mazmur dan Agnes yang berasal dari wilayah kampung berbeda dan saling berperang antar wilayah, meski begitu toh Mazmur dan Agnes tetap saling bersahabat, bahkan Ayah Mazmur sendiri meninggal di tangan Ayah Agnes. Dan karena peristiwa itu, paman Mazmur, Michael (Michael Jakarimilen) harus kembali ke Papua untuk melihat kondisi kakaknya. 

Di akhir cerita, Mazmur, Thomas dan Agnes dan kawan sekolahannya bernyanyi di tengah kubu yang sedang berperang. Keliatannya lebay, tapi ekspresi para pemain, terutama anak-anak waktu itu bikin aku bertepuk tangan riuh. ^_______^. Ini cukup berbicara bahwa kepolosan dan kesucian anak-anak tak layak untuk dikotori oleh pertikaian para kaum yang menganggap dirinya sudah dewasa, kadang makhluk berlabel dewasa seenak hati mengumumkan perang tanpa peduli dengan anak-anak. Aku belajar dari kisah ini!

Dan film ini juga berbicara tentang perubahan. Tentang perubahan itu adalah hal yang mungkin saja tetapi bukan pada arah yang menjerumuskan pada wilayah negative, film ini berkisah tentang tanah Papua yang sarat budaya. Dimana-mana tindakan dan hukuman diberikan atas dasar hukum adat. Dikisahkan, bagaimana Michael dan Alex , keduanya adalah Paman Masmur. Mereka berselisih paham tentang asas balas dendam, adat dan kebiasaan. Alex menuduh Michael telah melupakan kampung halamannya sendiri, adat Papua yang sudah luntur atau bahkan terlupakan oleh Michael semenjak ia memutuskan untuk berkarier dan menikah dengan Vina (Laura Basuki), seorang wanita keturunan Tionghoa.

“Alex, Tidak ada yang  tahu, akan lahir dari rahim seorang Cina, Jakarta atau Papua toh?”

Film ini memberikan pesan, tentang sebuah kasih sayang. Dari seorang ibu kepada anaknya, seorang ayah kepada anaknya. Tentang makna cinta tulus dari seorang istri kepada suaminya. 

        “Mazmur anak mama, cinta itu indah..perpisahan yang menyakitkan”

Beberapa sineas diturunkan untuk mendukung tokoh yang diciptakan dalam cerita film, para pemain yang memang kerap lalu lalang di dunia perfilman Indonesia. Sebut saja ,Lukman Sardi (Bapak Pendeta), Ririn Ekawati (Dokter Fatimah), Ringgo (Om Ucok), Vina, Istri Michael (Laura Basuki), Michael, paman Masmur (Michale Jakarimilen)

Kemasan film ini dibuat apik karena dialek Papua selalu mengundang tawa. Mengambil latar Papua selalu bisa membuat kita berdecak kagum dengan viewnya. Mengambil cerita anak Papua selalu bisa mengaduk-aduk emosi. Jadi kombinasi antara semua ramuan itu membuat film ini layak ditonton
Papua selalu unik, di tengah hamparan hijaunya yang berbentuk kepala burung itu…aku selalu terkesima walaupun belum pernah menapakkan kaki di sana. Sekarang tanah mereka dilanda rusuh, OPM merajalela, hmmm semoga saja lekas sembuh dan damai seperti film Di Timur Matahari^_^

23 komentar:

  1. menampilkan sisi lain papua ya jadi kita bisa tahu banyak. sabtu kemarin padahal ada tiket gratisnya nih cuma aku sudah terlanjur janji dgnyg lain jadi gak bisa ikutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. endingnya agak berlebihan sih mbak, tapi untuk skala liburan...bolehlah...^^

      Hapus
  2. penasaran sama filmnya, cuma di sini ga ada bioskop :(
    nunggu DVD nya aja deh, hehe ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh...iya mbak, nonton DVDnya aja kalo gitu...ado download^^

      Hapus
  3. beyuuhh... membaca reviewnya sdh serasa nonton filmnya..
    anak-anakpun butuh tontonan produk sendiri biar tdk hanya hafal dgn nama2 tokoh anime...

    T O P B G T

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mumpung kita masih anak2, cocoklah untuk liburan sekolah...#eh???hihihi

      Hapus
  4. belum liat iklannya, wah gimana nih koq promosinya kurang sekali ya, padahal filmnya bagus -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih...bahkan kadang saya nda liat cuplikan trailernya di TV, tapi info di cinemax ada kok..jauh hari sbelumnya..

      Hapus
  5. Pas baca awalan postingan ini, jelass saya bimbang mo nerusin baca ato gak. di Dompu, bahkan mataram, ga ada bioskop meeen... Aaaarrrghhh

    Sensitif sama film nih. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk...waduh....ntar balik Gresik kudu beli filmnya tuh mbak Rie

      Hapus
  6. belum nonton kak uty :'(
    mau e...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya sudah turun layar Awa...hihih

      Hapus
  7. kunjungan gan,bagi - bagi motivasi
    Hal mudah akan terasa sulit jika yg pertama dipikirkan adalah kata SULIT. Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan.
    ditunggu kunjungan baliknya yaa :)

    BalasHapus
  8. sayang sekali disini tidak ada bioskop.. T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menarik ka ceritanya.. semoga ana bisa nonton :)

      Hapus
    2. Anna mah nda cocok, ini film buat anak2...heheh

      Hapus
  9. Balasan
    1. copy????waaah blum ada originalnya kali ya...aku juga ntonya di TO bareng kurcaci2 bang^^

      Hapus
    2. Oh, di TO toh.. Eh, Uty dah nonton Amazing Spiderman belum?

      Hapus
    3. iya sudah,...waktu aku sms-in kalian nobar, aku pergi sendiri^^

      Hapus
  10. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,

    BalasHapus