Sabtu, 31 Maret 2012

kopdar bareng om A. Fuadi^^

Kompasiana blogshop akhirnya mampir di kota daeng juga, jauh hari aku sudah didaftarin sama kak nunu, soalnya waktu itu belum punya akun kompasiana.. (hari gini, kagak punyaa??#nyeburrr kali).
Sebelum hari H, memang sudah banyak yang ngacungin jempol dan antusias menyambut acara ini. Euforia di kota-kota sebelum makassar cukup memberika gambaran kalau acara ini bakal keren. Dan memang bener keren...nda nyesel saya bangun pagi2 buat menapakkan kaki di gedung BI (Bank Indonesia) yang melapak di Jln Sudirman, berdekatan apik dengan BNI central makassar dan berhadapan langsung dengan lapangan karebosi Makassar. 

Jam 7 pagi, aku udah ditelpon sama kak Icha buat nanyain kesepakatan ketemuannya, dan akhirnya kami sepakat kumpul depan BI sebelum jam 9. Dan ternyata, beruntungnya mbak Ana sudah datang lebih dulu bareng kak Nunu, jadinya semeja bundar dah diboking buat anak2 IIDN. Selang beberapa menit, personil makin terlengkapi. Ada Kak Niar, mbak Aisyah, mba Ofi, disusul kak Ida, dan si Dina. Yang paling terakhir nongol si kak Yuni. Bukan cuma itu,ternyata teman bloofers banyak juga yang datang. Ada si Namy, trus Ima yang belum pernah ketemuan di kopdaran sebelumnya, dan wajah lama kak Arman juga nongol di kursi keterlambatan sayap kiri ^^. pokoke rameeee euyyy (catat.banyak bloofers makassar tidak terdeteksi di gedung BI) aku juga baru tau kalo ternyara mbak Ana juga bloofers^^

Acara mulai jam 9 pagi. teng!! kagak pake ngaret (salut....) akibatnya yang telat datang nda kebagian kaos 5 menara dah..^___^.  Kalau di kota-kota sebelumnya, belum ada yang nyetak sampe seratus kepala yang daftar di kompasiana blogshop, sementara di Makassar, di daftar tercatat 230 kepala yang bakal memenuhi lantai 4 gedung BI. Makanya, ada sebagian dari temen nda kebagian kursi, beruntung saya 


klik!!!futu dulu donk
ki-ka: mba Ofi, kak Niar, kak Ida, Kak Icha, aku, kak Yuni
Sesi pertama bareng mas Iskandar Zulkarnain, yang senengnya dipanggil bang Isjet, salah satu pemangku adat di komunitas kompasiana, spesialis editor n diperkerjakan sebagai jurnalis. beliau cuap - cuap tentang Recipe for creative succes:have a focus, just do it, find meaning, think different, stay on target. Yang katanya kalau mau niat kreatif menulis itu harus fokus, nda boleh kerja setengah rasa, cari dah arti fullnya kedutan semangat saat menulis sesuatu, bikin yang unik dan tetap ingat dengan target.
kebetulan aku sarapan, jadi snack dan lunchnya aku cuekin^^
selain makanan, kompasiana juga ngasih kaos N5M bareng workshop setI
Salah satu games yang diadain sama kompasiana
Sesi terakhir dan paling ditunggu adalah kemunculan dari Om Ahmad. Sesi terakhir ini dirancang setelah ISHOMA. Om Akhmad datang dengan kemeja motif kotak kombinasi hijau tosca dan cokelat, keliatannya Om A.Fuadi memang suka motif kotak, hampir tiap talkshow beliau memakai kemeja kotak (nagh loh kok ngomongin kotak??)

Di awal perkenalan, Om A. Fuadi sempat ngasih kesempatan ke kami untuk ngintip video biografinya. nyeeeesssss banget...mulai dari tanah lahirnya di tanah Minang sana, sampe futu2 narcisnya melancong ke berbagai negara, kontan seisi ruangan bertepuk tangan ketika video selesai. Selanjutnya trailer negeri lima menara juga sempat ditayangin dengan backsound lagunya yophi n nuno. klop!!!. kedua videonya itu cukup memberi gambaran kalo Om A. Fuadi emang ganteng dari sisi gendernya sebagai laki-laki.^^

Beliau ngasih suntikan semangat buat terus menulis dari kisah-kisahnya, dari potongan slide yang berbicara tentang si Amak (ibunya om Ahmad) yang masih menyimpan surat-suratnya ketika mondok di Gontor, satu bundelan lho..hebat deh si Amak. Om A. Fuadi, merangkum tips menulisnya dalam WHY, WHAT DAN HOW, terkesan klise??  tapi tetap menuangkan semangat dalam otak hadirin dengan cara yang beda, selalu mengundang decak kagum..Prok prok prok dah buat Om A.Fuadi...^^
Nagh loh..saya yang mana ya??

KLIK!!! aku mudah banget lho ambil futu ni...orang2 pada berdesakan...aku lenggang kangkung^^
Om...tanda tangannya donkkkk
Para sesepuh IID makassar
hmmm seneng aku bisa bertemu orang hebat macam beliau, sambil berharap penyakit 'hebat' nya bisa menular, yaaa setidaknya dapat suntikan semangat, kalau bukan untuk menulis..paling tidak untuk lebih menghargai hidup dan mimpi...

man jadda wa jadda!!!
ending acaranya dibuat heboh dengan teriakan ala N5M

makasih buat kompasiana
makasih buat BI
makasih buat om A. Fuadi
^______^

Kamis, 29 Maret 2012

Eid milad kakak^^

Tak ada yang mendulang kesimetrisan dalam putaran semilir angin, datang dan pergi sesukanya. Meneguk sejuk dari tetesan air, kemudian berlari hingga meminta apa yang membuatnya dahaga lagi. Selalu berkesinambungan, tanpa bosan, tapi aku menyukainya. Semacam rasa tak bosan ketika bertemu dengan sejuknya, membiarkan kaki mengenalnya meski harus berkejaran dengan sepoi dan semilirnya, tapi kurasa sepadan dengan apa yang membelaiku, meski telisiknya tidak menghujam lewat sela helai rambutku. Hanya sekedar menyapa ubun kepala yang dilapisi kain kerundung. Sejuk…kamu selalu membawa damai.

Sekelabat lalu pergi, menumbuhkan buih rindu akan sejukmu, dan itu terasa padaku..tapi bukan hanya teruntukmu sejuk. Lebih kepada dia yang dianugerahi nyawa dari Pencipta. Dia yang bersenyawa, melebihi sepoi yang engkau tawarkan. Dan sejak dahulu, aku hanya mengendapkan harap jauh, sejauh nuraniku memiliki lorong tersembunyi. Hanya saja, saat ini…seseorang membuat duplikat kuncinya, dan di pertengahan malamku, selepas meminta yang lebih dariMu Rabb untuk hidupku, pintu itu terbuka…

Dan kelihatannya, memang ia menunggu sunyi. Apakah ia ingin berbicara sesuatu hal yang rahasia denganku di malam buta ini. Di luar sana sangat pekat wahai hati. Tidak bisakah engkau menunggu barang seperdua malam? Aku rasa hari akan terundang lebih indah dari kemarin, meskipun kerap tersembunyi lewat rintik yang akhir-akhir ini kerap berkonferensi pagi bersama embun dedaunan.

Akh…kamu rupanya tak bisa kompromi. Dengan pongahnya, kamu membuka tiap lemari ‘rasa’ ku. Menanyakan ini itu dengan padangan meneliti. Jujur,…aku tidak suka. Yang paling membuatku nelangsa, engkau membuka puing ’rindu’ yang kutaruh di brankas paling bawah, sudut tanpa berlentera. Tetapi ternyata kamu menemukannya. Dan aku terpekik, menangis….

Kamu yang mengajakku melafazkan bismillah untuk awal hari, dan mengakhiri takdir karunia tiap harinya dengan hamdalah. Sesuatu yang teramat kurindui, tetapi mungkin bukan sebuah hak bagiku untuk merindui. Karena katamu, kita tak berhak punya rindu, karena dia telah menanamkan hatinya padaku, dan diapun tlah membawa hatiku untuk ditanamkannya di hatinya. Bagaimanapun, tak ada yang berani menentang kenyataan bahwa darah lebih pekat dari air. Sejauh mana kaki melangkah, tak urung rasa rindu terhujam untuk saudaramu…untuk keluargamu…

Kuhabiskan detik selanjutnya dengan mengingat dirimu. Astagfirullah, ada apa dengan hatiku…aku butuh scan hati. Kuraih ponselku yang tergeletak mesra tak jauh dari posisi takhiyatku.
Nano nano

Maaf…aku mengingatmu, di tanggal kejadiannmu. Maaf aku tak bisa mengucapkan semoga harimu berberkah di hari milad tepat di depan tubuhmu. Karena mungkin rindu akan tertawa di bawah lakuku.
-draff hp-

Kak Acilong 
Sehalaman hatiku, tak lagi ditumbuhi resah
Membunga dengan kisah
Ingatlah…kenanglah…
Kebersamaan kita ini adalah ada
Seperti apapun bumimu

Eid milad kakak...
sukses dunia wal akhirat
_Phuji Astuty_

Selasa, 27 Maret 2012

Maknai tingkahmu.....

Setiap orang memulai memaknai suatu hal terkadang dengan sudut pandang berbeda. Apakah kamu mengintip dengan logika atau nurani, lalu apakah kamu merefleksikannya atas dasar kemanusiaan, kepentingan pribadi, umum atau hanya sekedar bersenang-senang dan ribuan embel-embel lain yang dijadikan patokan sebagai alasan. Skali lagi, semua terserah si empunya badan dan otak

Pagi ini aku berangkat memulai aktivitas, lebih pagi. Santer terdengar sejak jauh hari sebelumnya, bahwa hari ini 27 maret 2012 adalah puncak aksi para kawan mahasiswa dari berbagai almamater. Jam tujuh aku sudah meninggalkan pekarangan rumah tak lupa menyisipkan doa tidak ketemu para pendiktator jalanan itu. Dan Alhamdulillah aku sampai dengan liukan lalu lintas sebagaimana mestinya, tanpa harus membaui ban kendaraan akibat terjongos aksi..

Menjelang sore..,
Kukira kibaran bendera ‘protes’ kalian tlah surut..ternyata dugaanku meleset. Depan UKIP, jalanan diblokir total, pengamanan diturunkan bukan cuma dari kepolisian, sekilas kuintip lewat jendela angkot, ada para prajurit berseregam loreng ikut membentuk benteng pertahanan. Asap pembakaran ban mengepul, bunyi klakson serasa menyemangati keadaan, orang lalu lalang tak karuan, berteriak yang tak aku mengerti arahnya, beberapa dari mereka menggunakan speaker untuk melepas output dari pita suara, beberapa lagi berteriak tak jelas ponemnya. Mereka berhamburan memakai jas aneka warna. Mereka kawanku,..mahasiswa…

Seorang aparat kepolisian membunyikan peluitnya keras-keras dan melambaikan tangan tanda isyarat berhenti.
“Pak, jalanan depan terblokir total, motorpun tidak bisa lewat..pakai jalan memutar saja ya?”usulnya
Kulirik jam tanganku…Hampir mendekati angka 4, padahal Papa ingin berangkat ke daerah jam 4 nanti. Bergegas kutelpon orang rumah, dan katanya Papa sudah siap-siap pulang. Yaa elaaa..tanda-tanda nda bisa liat Papa pulang donk. Hmm mulailah si rasa dongkol nyalip dalam hati.

Menit berikutnya, angkot terpaksa balik haluan. Kita ambil jalan memutar katanya. Di persimpangan jalan, naik 2 anak SMA sambil mengumpat aksi demo mahasiswa. Katanya mereka nda bakal ikut aksi jika menyandang predikat yang sama. Sekilas kupandangi mereka. Entahlah dik, apa prinsipmu itu masih bertahan kelak jika kamu sudah menyandang predikat itu^__^
Sekitar sepuluh menit berikutnya, Papa telpon kalo beliau sudah start, aku hanya bisa menghela nafas panjang. Ya sudah…

Aku meraih head set dah menyumbat telingaku dengan musik. Kututup jendela angkot. Bersamaan dengan itu, seorang ibu dan anaknya yang berusia sekitar 4 tahunan naik ke angkot. Aku melemparkan senyuman padanya dan kembali asyik dengan laguku.

Dan, tak butuh waktu lama untuk menyadari area pemukiman baru yang tak pernah kujamah kasat mataku sebelumnya. Area yang beda, dan rasanya aku tak pernah melewati pematang sawah di belakang kompleks perumahan, pasar tradisional alakadarnya, dan gubuk kecil yang bertebaran seperti jamur musiman di pinggiran jalan. Ini masih wilayah Makassar, tapi terasing versiku. Jalanan yang kami lewati bukan jalanan beraspal layaknya jalan provinsi, tapi seketika tersulap menjadi ramai dengan kendaraan. Jalanan itu salut dengan bebatuan, membuat kami yang di atas angkot harus berkelimpungan dengan gerakan disco alami. 

Aku melepas head setku.Mulai gaduh suasana di dalam angkot. Silih berganti mereka mengumumkan keluh dengan peristiwa aksi demonstrasi mahasiswa hari ini. Aku terdiam dan mendengar….
Kalian tau,…
Hari ini aku meredam sebisa mungkin rasa dongkolku pada mereka yang turun aksi,..hari ini sedikit cela hatiku merasa tak tentram dengan kejadian itu, atau mungkin aku bisa mengatakan aku menyesal mereka turun aksi. Bagiku, tak apa-apa..kalian turun aksi, tapi lakukanlah dengan cara damai dan tak mengundang kata ‘anarkis’. Jalanan umum kota, tak layak untuk kalian jadikan konsumsi sendiri, kami…kawan kalian…pun punya urusan lain yang lebih penting

Dalam angkot itu ada beberapa kepala, yang sangat ingin sampai di tujuannya…
2 siswa SMA yang punya tujuan mulia ikut bimbingan belajar, mereka sibuk utak atik buku latihan soalnya di angkot. Aku bisa menangkap sisi semangatnya, dan aku menjamin, mereka pasti telat sampai di tempat bimbingan.
Seorang ibu muda bersama seorang anaknya yang mulai rewel, belakangan kutahu kalo anaknya sakit dan ibunya hendak membawanya ke dokter praktek. Kalian bayangkan, anak kecil yang harus menahan sakit yang lama, yang seharusnya bisa segera meminum obatnya di rumah.
Seorang ibu yang tak kunjung berhenti berbicara lewat ponselnya, menginstruksikan tentang sesuatu kepada lawan bicaranya. Dan dari percakapannya, kutangkap..ibu itu ingin buru-buru sampai di rumahnya, untuk menyusui anaknya. Yaa..,kubayangkan saat itu, seorang bayi mungil menangis kehausan,..
Aksi nyontek disini

Tak semua kepala tau arti menyayangi
Sejengkal tawa bisa saja berarti duka
Hanya saja rabaan nurani tak menafsirkannya
Karena terlewat angan asyik dengan batangan sendiri
Aku hanya ingin berucap…
Sesungguhnya kita social,
Bersama!!

Sabtu, 24 Maret 2012

Rindu Muhammad..

Dia bernama Muhammad
Rasulullahah Shallallahu Alaihi wa Salam

Sujudku padaMu wahai yang smoga bisa kupanggil kekasih
Sujudku padaMu Sang pemberi anugerah dan karunia tiada terucap
Sujudku padaMu yang meminjamiku segalanya
Dan sujudku padaMu yang telah memberi Muhammad untuk penerang jagad

Rasulullah…Muhammad
Ya…Dia bernama Muhammad
Yang terlahir tepat empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan
Dan zaman telah mengikrarkan namanya
Yang berpendar dalam cahaya penuh megah

Kepada Yang Terhormat,
Rasulullahah Shallallahu Alaihi wa Salam
Dengan ini aku ingin mengadu lewat curahan hati..
Bahwasanya hari-hariku hampa sebelum mengucap namamu

Hatiku kosong
Tak terkuak oleh denting embun di ujung daun
Mengalun riuh derap mengisi kekosongan…
Meragu dengan pagi yang datang dengan sepi…
Berburuk sangka dengan penutupan hari
Dengan senja yang hanya datang menitip rona jingganya lalu berlalu
Kemudian kembali sepi..

Sampai pada suatu masa
Seseorang menancapkan namamu lebih dalam di hatiku,
Lalu kemudian membumbuhinya dengan tebar pesona
Pelan…
Aku mengenalmu
  
Dia bernama Muhammad
Namamu di hatiku, tak boleh mati!
Tetaplah hari merambat, tajamkan rasaku untukmu
Siapkan menu mencicipi risalahmu..
Meski jarak dan waktu merapuhkan angan
Tapi…
Tirai gerimis dan desau angin akan mematangkan rindu
Maka…bersujudlah, wahai aku…
Terangi bilik dengan nyalaan lampu di pertigaan malam,
Ketika sabdanya menyuruh untuk bersegera mengadu pada Yang Kuasa

makasih gambarnya^^

sesungguhnya Tuhan...,aku takut kalau kedut rindu itu hilang..
karena aku berada pada masa embrio mengenalMu
Islamku tak setinggi mereka yang kerap berbenah
skali lagi...
aku masih belajar...
untuk selalu mengingatMu...Rabbku....Muhammad
belum tahu dan belum mampu mengajarkan tentangMu....
(Phuji Astuty)